Warga Sekumur Aceh Tamiang Butuh Benih Palawija dan Pakaian Muslim Jelang Ramadan
Pasca banjir besar, ribuan warga Desa Sekumur Aceh Tamiang yang kehilangan tempat tinggal kini mendesak bantuan benih palawija dan pakaian Muslim demi bangkit serta menyambut Ramadan.
Warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, saat ini sangat membutuhkan bantuan benih palawija dan pakaian Muslim. Kebutuhan ini muncul setelah desa mereka dinyatakan "hilang" akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut baru-baru ini. Bantuan ini krusial agar mereka dapat kembali beraktivitas dan beribadah dengan layak menjelang bulan suci Ramadan 2026.
Datok Penghulu atau Kepala Desa Sekumur, Sofyan Iskandar, mengungkapkan bahwa seluruh warga desanya memerlukan benih palawija dan padi. Hal ini untuk memungkinkan mereka kembali bercocok tanam, mengingat kebun sawit dan karet yang menjadi mata pencarian utama telah rusak total. Masyarakat tidak ingin terus bergantung pada bantuan, melainkan berupaya bangkit secara mandiri.
Selain itu, kebutuhan mendesak lainnya adalah pakaian Muslim untuk ibadah, karena harta benda mereka ludes terbawa banjir. Mereka berharap dapat menyambut Ramadan dengan layak, meskipun harus hidup serba terbatas di tenda pengungsian. Kondisi ini mencerminkan semangat warga untuk tetap menjalankan kewajiban agama di tengah cobaan berat.
Upaya Membangun Kembali Kemandirian Ekonomi Warga Sekumur Aceh Tamiang
Sofyan Iskandar menegaskan bahwa masyarakat Sekumur tidak ingin selamanya bergantung pada uluran tangan. Mereka bertekad untuk bangkit melalui kerja keras dan kemandirian, agar kehidupan mereka perlahan pulih setelah desa terdampak parah banjir. Harapan besar tertumpu pada bantuan benih palawija dan padi.
"Harapan kami kepada pemerintah untuk bisa membantu desa kami, masyarakat kami dengan bibit palawija biar bisa masyarakat kami bercocok tanam seperti kangkung, bibit bayam, bibit padi, biar masyarakat kami ada berkegiatan," kata Sofyan. Dengan benih tersebut, warga dapat kembali berkebun dan mencari nafkah.
Jika bantuan benih palawija dapat direalisasikan, warga Sekumur setidaknya bisa kembali berkegiatan dan mencari keringat. Tanpa aktivitas ekonomi, mereka yang setiap pagi keluar dari tenda pengungsian hanya bisa merenung tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Kondisi ini menyoroti pentingnya dukungan untuk pemulihan ekonomi lokal.
Saat ini, masyarakat memang sangat bergantung pada bantuan logistik karena seluruh lahan pertanian mereka hancur. Rata-rata warga di sana bertani sawit dan karet, dan 98 persen kebun mereka habis dibawa banjir. Ini menunjukkan skala kerusakan ekonomi yang harus dihadapi warga Sekumur Aceh Tamiang.
Menyongsong Ramadan dengan Pakaian Layak untuk Ibadah
Kebutuhan mendesak lainnya yang disampaikan oleh Sofyan Iskandar adalah pakaian Muslim untuk beribadah. Seluruh harta benda warga telah hilang akibat banjir, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pakaian layak untuk menjalankan ibadah. Mereka berharap dapat menyambut bulan suci Ramadan dengan persiapan yang memadai.
"Mungkin orang bertanya tentang Kampung Sekumur, apa yang dibutuhkan, kami masyarakat Sekumur setidaknya kami menyambut bulan suci Ramadhan ini kami butuh baju Muslim untuk kami beribadah," ucap Sofyan. Meskipun sarung sudah mencukupi, baju Muslim untuk beribadah masih sangat kurang.
Warga Sekumur, yang mayoritas beragama Islam, menjunjung tinggi kewajiban ibadah mereka. Oleh karena itu, ketersediaan pakaian Muslim menjadi prioritas agar mereka dapat melaksanakan shalat dan ibadah lainnya dengan khusyuk. Ini adalah bagian penting dari pemulihan spiritual dan mental pascabanjir.
Pemerintah desa juga berharap pembangunan hunian sementara dapat segera direalisasikan. Hal ini agar warga tidak harus menjalani ibadah Ramadan di tenda pengungsian, yang tentu saja jauh dari kata nyaman dan layak. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi warga Sekumur Aceh Tamiang.
Kondisi Desa dan Upaya Pemulihan Pasca Bencana
Desa Sekumur dinyatakan sebagai kampung yang hilang setelah banjir besar menghanyutkan hampir seluruh permukiman. Dari 276 Kepala Keluarga (KK) dengan 1.232 jiwa warga terdampak, hanya delapan rumah yang tersisa dengan kerusakan parah. Seluruh warga terdampak dan rumahnya hanyut dibawa arus banjir.
Saat ini, masyarakat bertahan di tenda pengungsian dengan logistik yang mencukupi, namun tanpa aktivitas ekonomi harian sama sekali. Sofyan menyebutkan bahwa semua pertanian masyarakat habis, termasuk kebun sawit dan karet yang merupakan sumber penghidupan utama. Kerugian ini sangat memukul warga Sekumur Aceh Tamiang.
Pembersihan pascabanjir telah mulai dilakukan dengan dukungan ekskavator dari Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB. Sekitar lima unit ekskavator telah masuk, dan akan disusul alat berat lainnya untuk membuka akses jalan desa, membersihkan lumpur, serta fasilitas vital. Masjid menjadi prioritas utama untuk dibersihkan agar shalat Jumat dapat kembali terlaksana.
Amhar (50), salah seorang warga, menceritakan detik-detik banjir yang menghanyutkan rumahnya. Ia sempat menyelamatkan barang penting dan keluarganya ke tempat yang lebih tinggi, hanya membawa kelambu, kompor, dan beras. Ia berharap listrik segera masuk ke Desa Sekumur agar warga dapat menjalani aktivitas dan ibadah dengan lebih layak menjelang Ramadan.
Sumber: AntaraNews