Wamentan Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bentuk Badan Ekspor
Wamentan Sudaryono menyebut badan ekspor yang disiapkan pemerintah bertujuan menekan kebocoran devisa akibat praktik ekspor bermasalah.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan alasan pemerintah berencana membentuk badan ekspor sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Sudaryono, langkah tersebut dibutuhkan untuk mencegah kebocoran devisa hasil ekspor yang nilainya disebut mencapai ratusan miliar dolar AS.
"Ya, tentu saja itu sebuah langkah yang memang barangkali diperlukan. Di mana sejauh ini kan ada praktik-praktik yang diduga ada transfer pricing, kemudian ada under-invoicing," ujar Sudaryono saat ditemui di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Ia mengatakan pemerintah melihat adanya dugaan praktik yang membuat penerimaan negara dari sektor ekspor tidak optimal.
Sudaryono menjelaskan transfer pricing terjadi ketika nilai ekspor yang dilaporkan lebih kecil dibanding harga sebenarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada penerimaan pajak negara.
"Terus kemudian kalau under-invoicing itu volumenya. Kalau yang transfer pricing tadi harganya, ini volumenya. Volumenya tidak sesuai," jelas Wamentan.
Ia menilai praktik semacam itu telah berlangsung cukup lama.
Menurut Sudaryono, selama lebih dari dua dekade Indonesia sebenarnya mencatat nilai ekspor lebih besar dibanding impor.
"Artinya, kalau kita katakanlah negara ini adalah warung, kita sebagai negara harusnya untung. Untungnya berapa? Untungnya adalah selisih yang kita ekspor dikurangi yang kita impor, namanya devisa," imbuhnya.
Pemerintah Soroti Cadangan Devisa
Sudaryono mengatakan devisa hasil ekspor seharusnya dapat memperkuat cadangan devisa nasional apabila tersimpan di dalam negeri.
Namun, ia menyebut jumlah cadangan devisa yang ada saat ini dinilai belum mencerminkan potensi keuntungan ekspor Indonesia selama bertahun-tahun.
"Pada kenyataannya, dari yang harusnya ada sekitar USD 390 miliar sekian, ternyata yang tersisa itu hanya sekitar USD 70 miliar. Artinya, ibarat sebagai warung tadi, kita menjual lebih banyak daripada yang kita beli, harusnya kita punya banyak tabungan. Namun, tabungannya ini tidak pernah tinggal di Indonesia," ungkapnya.
"Dilihat dari cadangan devisa kita yang jauh lebih sedikit dibandingkan yang seharusnya dalam waktu 20 tahun itu mendapatkan keuntungan sebesar itu," tegas dia.