Pembangunan Huntara Aceh Barat Tahap Dua Selesai, Mobilisasi Warga Terkendala Akses
Pembangunan hunian sementara (huntara) tahap dua di Desa Lawet, Aceh Barat, telah rampung 100 persen, namun mobilisasi warga korban banjir masih terkendala kondisi geografis dan cuaca.
Meulaboh, 18 April 2026 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat telah merampungkan pembangunan enam unit hunian sementara (huntara) tahap kedua. Proyek ini berlokasi di Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Pembangunan huntara ini mencapai 100 persen dan siap dihuni oleh para penyintas bencana banjir bandang.
Huntara tersebut dilengkapi fasilitas memadai, termasuk listrik dan air bersih, guna memastikan kenyamanan penghuni. Namun, proses mobilisasi masyarakat dan distribusi logistik ke lokasi masih menghadapi kendala serius. Faktor cuaca ekstrem dan akses geografis yang sulit menjadi hambatan utama dalam pemindahan warga.
Enam kepala keluarga (KK) korban banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 akan menempati unit-unit huntara ini. Mereka adalah warga yang rumahnya rusak parah dan saat ini masih mengungsi di rumah sanak saudara. BPBD terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan mobilisasi dapat berjalan aman dan lancar.
Kesiapan Huntara dan Fasilitas Pendukung
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, menyatakan bahwa seluruh unit huntara di Desa Lawet kini telah berdiri kokoh. Bangunan ini sangat siap untuk ditempati penyintas bencana alam banjir bandang. “Alhamdulillah, listrik dan air sudah tersedia, bangunan juga sudah rampung dan sangat siap ditempati,” katanya.
Berdasarkan informasi dari pihak rekanan penyedia, kesiapan infrastruktur dasar seperti listrik dan air telah terjamin. Hal ini penting untuk mendukung kehidupan sehari-hari para korban bencana yang akan menempati huntara. Ketersediaan fasilitas ini menjadi prioritas agar warga dapat segera memulai kembali kehidupan mereka dengan layak.
Enam unit huntara ini akan dialokasikan untuk enam kepala keluarga korban banjir yang kehilangan tempat tinggal. Saat ini, mereka masih menumpang di rumah kerabat setelah rumah mereka hancur. Penempatan ini diharapkan dapat memberikan solusi tempat tinggal yang permanen sementara mereka memulihkan diri dari dampak bencana.
Tantangan Mobilisasi Akibat Kondisi Geografis
Meskipun infrastruktur huntara telah siap, kendala utama yang dihadapi adalah akses menuju lokasi di Desa Lawet. Lokasi tersebut mengharuskan warga menyeberangi sungai untuk mencapai huntara. Laporan terbaru menunjukkan bahwa debit air sungai sedang tinggi, sehingga menimbulkan risiko keamanan bagi proses mobilisasi.
“Meski bangunan sudah siap huni dengan fasilitas listrik dan air yang memadai, proses mobilisasi masyarakat dan distribusi logistik masih terkendala oleh faktor cuaca dan akses geografis,” jelas Teuku Ronald Nehdiansyah. Kondisi ini menghambat pengiriman barang-barang kebutuhan dasar serta pemindahan warga. Demi alasan keamanan, distribusi logistik dan mobilisasi warga belum bisa dilakukan hingga kondisi membaik.
BPBD Kabupaten Aceh Barat terus memantau perkembangan cuaca dan debit air sungai secara intensif. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam setiap upaya penanggulangan bencana. Oleh karena itu, langkah-langkah mobilisasi akan diambil dengan sangat hati-hati dan hanya jika kondisi memungkinkan.
Rencana dan Jumlah Total Huntara di Aceh Barat
Teuku Ronald Nehdiansyah menegaskan bahwa distribusi logistik dan pemindahan masyarakat ke huntara Lawet akan segera dilaksanakan. Hal ini akan dilakukan begitu debit air sungai menurun dan akses jalan kembali aman untuk dilalui. Pihak BPBD berkomitmen untuk mempercepat proses ini setelah kondisi lingkungan mendukung.
Saat ini, total jumlah huntara yang dibangun oleh BNPB di Kabupaten Aceh Barat adalah sebanyak 12 unit. Unit-unit ini tersebar di dua lokasi berbeda di Kecamatan Pante Ceureumen. Enam unit berada di Desa Jambak dan enam unit lainnya berlokasi di Desa Lawet.
Untuk huntara di Desa Jambak, unit-unit tersebut sudah terisi dan dihuni oleh masyarakat korban bencana. Keberhasilan penempatan di Desa Jambak menjadi contoh positif. Ini menunjukkan bahwa huntara dapat berfungsi efektif sebagai solusi sementara bagi para penyintas. BPBD berharap proses serupa dapat segera diterapkan di Desa Lawet.
Sumber: AntaraNews