Pengembang Kebut Pembangunan Huntara Tapanuli Utara, Target Rampung Akhir Januari
Pembangunan Huntara Tapanuli Utara untuk korban longsor di Desa Sibalanga Julu dikebut pengembang, ditargetkan selesai akhir Januari 2026 agar segera dapat dihuni warga.
Pengembang PT Haza Gemilang Abadi tengah mempercepat pembangunan 40 unit hunian sementara (huntara) di Desa Sibalanga Julu, Kecamatan Adiankoting. Proyek ini berlokasi di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, untuk menampung penyintas bencana longsor setempat.
Progres pembangunan huntara tersebut telah mencapai 80 persen dan diharapkan dapat diserahterimakan kepada korban bencana pada akhir Januari 2026. Target ini menunjukkan komitmen untuk segera menyediakan tempat tinggal layak bagi warga terdampak.
Setiap unit huntara dibangun atas kerja sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Hunian ini dirancang dengan konsep rumah tumbuh di atas lahan seluas 24 meter persegi.
Progres Pembangunan dan Target Penyelesaian Huntara
Penanggung jawab huntara PT Haza Gemilang Abadi, Kevin Hasiolan Pasaribu, menyatakan optimisme bahwa huntara ini akan siap ditempati warga pada akhir bulan ini. Meskipun ada tiga unit yang masih dalam proses pembangunan, pengerjaan terus dikebut secara bertahap.
Proyek Pembangunan Huntara Tapanuli Utara ini dimulai sejak 25 Desember 2025, menunjukkan kecepatan respons terhadap kebutuhan mendesak para korban. Sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat menjadi kunci dalam mewujudkan lokasi serta bangunan ini.
Kevin Hasiolan Pasaribu menegaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab penuh atas konstruksi bangunan huntara. Kecepatan pengerjaan tidak mengurangi fokus pada kualitas dan standar yang telah ditetapkan.
Spesifikasi Teknis dan Kualitas Bangunan Huntara
Huntara ini dibangun menggunakan struktur beton panel dengan mutu K275, yang merupakan beton kelas menengah untuk konstruksi struktural. Material ini menjamin kekuatan pondasi, kolom, balok, dan pelat lantai, setara dengan standar bangunan bertingkat atau jembatan ringan.
Untuk dinding, digunakan material glassfiber reinforced cement (GRC) atau beton bertulang serat kaca. Bahan ini dikenal ringan, kuat, tahan lama, serta memiliki ketahanan terhadap air, api, dan rayap, memastikan keamanan dan kenyamanan penghuni.
Atap huntara menggunakan baja ringan berkualitas tinggi yang dirancang untuk menahan terik matahari dan hujan secara efektif. Kevin Hasiolan Pasaribu menekankan bahwa meskipun dibangun cepat, kualitas setiap rumah huntara di Tapanuli Utara ini tetap terjamin.
Setiap unit hunian sementara ini dilengkapi dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan satu kamar mandi. Desain fungsional ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas bencana secara memadai.
Potensi Pengembangan Hunian dan Harapan Warga
Konsep rumah tumbuh pada huntara ini memungkinkan pengembangan lebih lanjut menjadi hunian tetap di masa depan. Terdapat ruang depan seluas empat meter yang dapat dimanfaatkan untuk ekspansi, memberikan fleksibilitas bagi pemerintah dan penghuni.
Lokasi huntara di Desa Sibalanga Julu ini berjarak sekitar delapan jam perjalanan darat dari Kota Medan, Sumatera Utara. Penentuan lokasi ini mempertimbangkan aksesibilitas dan kebutuhan para penyintas bencana longsor.
Roslina Nasution, salah seorang warga Sibalanga Julu, mengungkapkan apresiasinya terhadap kecepatan pengerjaan Pembangunan Huntara Tapanuli Utara ini. Ia berharap agar rumah-rumah tersebut segera dapat ditempati oleh para korban bencana.
Data nama-nama korban yang berhak menempati huntara ini tercatat di kantor desa setempat. Hal ini memastikan transparansi dan distribusi yang tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan bantuan hunian sementara.
Sumber: AntaraNews