Pemerintah Kabupaten Aceh Barat telah memulai pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir bandang. Inisiatif ini menyasar masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan parah akibat bencana alam, khususnya di kawasan Kecamatan Pante Ceureumen, kabupaten setempat. Pembangunan ini menjadi respons cepat pemerintah daerah untuk mengatasi krisis tempat tinggal.
Total 12 unit huntara sedang dibangun untuk menyediakan tempat tinggal layak bagi para korban. Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menyatakan bahwa pembangunan ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan korban bencana memiliki tempat bernaung. Proyek ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang kehilangan rumah.
Lokasi pembangunan huntara difokuskan di Desa Jambak dan Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Kedua desa ini dipilih karena tingkat kerusakan rumah warga yang sangat parah dan tidak bisa lagi ditempati. Langkah ini diambil untuk memberikan solusi konkret bagi warga terdampak.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengonfirmasi dimulainya pembangunan 12 unit hunian sementara (huntara) di Kecamatan Pante Ceureumen. Pembangunan ini secara spesifik berlokasi di Desa Jambak dan Desa Lawet, dua area yang paling parah terdampak banjir bandang. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingkat kerusakan rumah warga yang tidak memungkinkan untuk dihuni kembali.
Bupati Aceh Barat, Tarmizi, menjelaskan bahwa huntara ini dirancang untuk menjadi solusi jangka pendek bagi masyarakat. Tujuannya adalah menyediakan tempat tinggal yang aman dan layak bagi korban. Ini dilakukan sambil menunggu proses pembangunan rumah tetap (huntap) dari pemerintah pusat.
Setiap unit hunian sementara Aceh Barat diharapkan dapat menampung keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Pembangunan ini menjadi prioritas mengingat kondisi mendesak para korban. Pemerintah daerah berupaya keras agar proses konstruksi berjalan lancar dan sesuai target yang telah ditetapkan.
Advertisement
Advertisement
Sebelumnya, banyak korban banjir bandang di Desa Jambak dan Desa Lawet terpaksa mengungsi. Mereka menetap sementara di rumah saudara atau kerabat terdekat yang masih bisa dihuni. Kondisi ini dinilai tidak mungkin berlama-lama, sehingga diperlukan solusi tempat tinggal yang lebih permanen.
Melihat urgensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat segera mengusulkan pembangunan hunian sementara bagi para korban. Usulan ini bertujuan untuk memberikan solusi konkret bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Huntara diharapkan dapat mengurangi beban psikologis dan ekonomi para korban bencana.
Pembangunan hunian sementara ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam penanganan pascabencana. Ini adalah langkah penting untuk memulihkan kehidupan masyarakat terdampak. Pemerintah berupaya agar korban dapat kembali beraktivitas normal secepatnya setelah musibah.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat menargetkan pembangunan 12 unit hunian sementara ini akan rampung pada Februari 2026. Target ini ditetapkan agar huntara dapat segera ditempati oleh para korban bencana. Bupati Tarmizi berharap huntara selesai sebelum bulan suci Ramadhan tiba.
Penyelesaian sebelum Ramadhan akan sangat membantu masyarakat terdampak banjir bandang. Mereka dapat merayakan bulan suci dengan lebih tenang dan nyaman di hunian baru yang disediakan. Ini juga menjadi momentum penting bagi pemulihan moral dan semangat para korban.
Pemerintah berharap dengan adanya hunian sementara Aceh Barat, masyarakat dapat fokus pada pemulihan diri dan keluarga. Keberadaan huntara menjadi jembatan menuju pembangunan rumah tetap yang lebih permanen. Ini adalah bagian dari upaya rehabilitasi dan rekonstruksi menyeluruh pascabencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews