1.518 Unit Huntara Dibangun di Gayo Lues, Rampung Total Jelang Lebaran
Warga yang terdampak bisa segera meninggalkan tenda pengungsian. Dengan harapan, masyarakat dapat merayakan Idulfitri di tempat tinggal yang lebih layak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga Selasa (10/3), sebanyak 1.518 unit hunian sementara (huntara) telah selesai dibangun untuk warga yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Capaian ini setara dengan sekitar 88 persen dari target pembangunan 1.713 unit huntara yang ditetapkan di wilayah tersebut.
Kepala BNPB, Letjen Suharyanto berharap agar semua huntara di Gayo Lues dapat segera diselesaikan, sehingga warga yang terdampak bisa segera meninggalkan tenda pengungsian. Dengan harapan, masyarakat dapat merayakan Idulfitri di tempat tinggal yang lebih layak.
"Kami pastikan menjelang lebaran tahun 2026, untuk Kabupaten Gayo Lues, sudah tidak ada lagi masyarakat yang ada di tenda," ungkap Suharyanto, seperti yang dikutip dari keterangannya.
Selain itu, Suharyanto menjelaskan bahwa BNPB akan terus mendampingi keluarga yang masih menunggu proses pembangunan huntara. Selama masa transisi ini, warga akan dipindahkan ke lokasi yang lebih layak, seperti gedung balai latihan kerja milik pemerintah daerah.
"Supaya semua masyarakat yang terdampak di Kabupaten Gayo Lues bisa menikmati, bisa mengikuti perayaan Idulfitri dengan lebih baik dan lebih hikmat," tambahnya.
Sejak terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November lalu, pemerintah terus mempercepat proses pemulihan dan rehabilitasi di daerah yang terkena dampak. Salah satu upaya tersebut adalah pembangunan huntara dengan konsep hunian komunal agar warga dapat segera berpindah dari tenda pengungsian ke tempat tinggal yang lebih layak.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5528635/original/007865600_1773290293-Foto4.jpeg)
Salah satu lokasi pembangunan huntara berada di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, di mana kompleks hunian komunal telah berdiri dan tersusun rapi, dihuni oleh sekitar 150 kepala keluarga (KK) yang mulai kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Selain itu, pembangunan huntara juga dilakukan di Desa Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, di mana sebanyak 133 KK telah menempati kompleks hunian komunal yang dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti pasokan air dan listrik.
Setiap unit hunian juga dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet. Suharyanto menjelaskan bahwa keluarga yang baru menempati huntara akan menerima bantuan bahan pokok dan kebutuhan nonpangan untuk mencukupi kebutuhan selama 10 hari.
Bantuan ini dimaksudkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga sebelum mereka menerima bantuan jaminan hidup dari pemerintah pusat. "Keluarga yang menempati huntara akan diberikan bantuan oleh BNPB berupa perlengkapan dan makanan selama 10 hari sejak mereka masuk ke huntara," tuturnya.