Banjir Lahar Semeru Isolasi Ratusan Warga di Lumajang, Akses Jalan Terputus
Ratusan warga di Desa Gondoruso, Lumajang, Jawa Timur, terisolasi akibat banjir lahar Semeru yang memutus akses jalan dan merusak jembatan. Bagaimana kondisi mereka saat ini?
Ratusan kepala keluarga di Desa Gondoruso, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, dilaporkan terisolasi setelah banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi pada Rabu menyusul hujan deras yang mengguyur puncak gunung dan mengakibatkan debit air di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Semeru meningkat drastis. Akibatnya, akses jalan utama terputus dan infrastruktur vital mengalami kerusakan parah.
Banjir lahar dingin ini secara signifikan memengaruhi tiga dusun di Desa Gondoruso, yaitu Dusun Kaliwelang, Liwek, dan Glendang Petung. Sekitar 300 kepala keluarga di area tersebut kini menghadapi kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari karena akses penghubung yang tidak dapat dilalui. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan pasokan kebutuhan pokok dan mobilitas warga.
Jembatan limpas yang menjadi jalur penghubung penting antara Kecamatan Pasirian dan Tempursari turut mengalami kerusakan serius. Jembatan tersebut tidak dapat lagi dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat, menyebabkan jalur transportasi utama lumpuh. Situasi ini memaksa warga mencari rute alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu.
Ratusan Warga Terisolasi dan Akses Terputus
Kepala Desa Gondoruso, Maman Suparman, menjelaskan bahwa banjir lahar dingin telah menyebabkan tiga dusun di wilayahnya terisolasi. "Banjir lahar dingin juga menyebabkan tiga dusun di Desa Gondoruso yakni Dusun Kaliwelang, Liwek, dan Glendang Petung terisolasi. Sekitar 300 kepala keluarga (KK) di tiga dusun tersebut kini sulit beraktivitas karena akses jalan terputus," ujarnya di desa setempat.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir lahar ini sangat signifikan. Jembatan limpas yang menghubungkan Kecamatan Pasirian dan Tempursari dilaporkan rusak parah, sehingga tidak bisa dilalui. Kondisi ini membuat banyak warga, termasuk anak-anak sekolah, tidak bisa pulang ke rumah mereka hingga Rabu sore. Pihak desa segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang untuk mencari solusi.
Selain akses jalan yang terputus, banjir lahar Semeru juga dilaporkan sempat menjebak enam penambang pasir. Dua unit sepeda motor milik warga juga hanyut terbawa arus deras lahar. Beruntungnya, seluruh penambang berhasil menyelamatkan diri dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Upaya Penanganan dan Kondisi Terkini
Pemerintah desa setempat telah mengambil langkah cepat dengan berkoordinasi bersama BPBD Lumajang untuk menangani dampak bencana ini. Fokus utama adalah membuka kembali akses warga yang terisolasi dan menyediakan jalur alternatif. "Kami masih terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang untuk menangani dampak banjir dan membuka akses warga tersebut," kata Maman Suparman.
Proses evakuasi dan penyelamatan penambang pasir juga menjadi prioritas. Maman Suparman mengonfirmasi bahwa enam penambang yang sempat terjebak, seluruhnya berhasil selamat. "Ada enam penambang pasir yang merupakan warga Desa Gondoruso yang terjebak. Tiga sudah berhasil keluar, dan tiga lainnya sempat naik ke bukit yang lebih tinggi. Informasi terakhir yang saya terima alhamdulillah semuanya selamat," tambahnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa material pasir dan lumpur yang terbawa banjir lahar cukup tebal. Meskipun demikian, beberapa warga terlihat nekat melintasi arus banjir demi bisa kembali ke rumah. Bahkan, ada pemandangan warga saling membantu menyeberangkan sepeda motor dengan cara mengangkatnya agar tidak terseret arus lahar yang deras.
Dampak Luas dan Jalur Alternatif
Dampak dari banjir lahar hujan ini tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi, tetapi juga pada sektor pertanian. Lahan persawahan warga banyak yang terkikis oleh derasnya arus lahar, menyebabkan kerugian bagi para petani. Kerusakan ini menambah daftar panjang kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.
Jalan utama menuju Tempursari melalui Gondoruso kini tidak dapat dilalui sama sekali. Warga yang ingin menuju ke sana harus menempuh jalur memutar melalui Kajaran, yang jaraknya sekitar 25 kilometer. Perjalanan yang lebih jauh ini tentu saja menghambat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di kedua wilayah.
Kondisi ini memerlukan penanganan jangka panjang untuk memulihkan infrastruktur dan membantu masyarakat kembali beraktivitas normal. Koordinasi antarpihak terkait terus dilakukan untuk memastikan bantuan dan solusi dapat segera diberikan kepada warga terdampak. Pembangunan jembatan darurat atau jalur alternatif yang lebih memadai menjadi kebutuhan mendesak.
Sumber: AntaraNews