Banjir Lahar Semeru Paksa Ratusan Warga Sumberlangsep Mengungsi, Akses Terputus

Ratusan warga Dusun Sumberlangsep, Lumajang, terpaksa mengungsi ke perbukitan akibat terjangan banjir lahar Semeru. Kondisi pengungsian gelap gulita dan akses menuju lokasi terputus total.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Banjir Lahar Semeru Paksa Ratusan Warga Sumberlangsep Mengungsi, Akses Terputus
Ratusan warga Dusun Sumberlangsep, Lumajang, terpaksa mengungsi ke perbukitan akibat terjangan banjir lahar Semeru. Kondisi pengungsian gelap gulita dan akses menuju lokasi terputus total. (AntaraNews)

Bencana alam kembali melanda wilayah Lumajang, Jawa Timur, ketika banjir lahar hujan dari Gunung Semeru menerjang permukiman warga Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, pada Sabtu sore. Peristiwa ini memaksa ratusan penduduk untuk segera mengungsi ke daerah perbukitan demi keselamatan. Situasi darurat ini memerlukan penanganan cepat, namun akses yang terputus menjadi kendala utama bagi tim penyelamat.

Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengonfirmasi kejadian tersebut melalui sambungan telepon dan menyatakan bahwa pemerintah daerah akan segera mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. "Memang benar warga Dusun Sumberlangsep mengungsi akibat lahar dingin Semeru, sehingga malam ini kami akan mendirikan dapur umum untuk warga dusun tersebut," ujarnya. Keputusan ini diambil untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi dapat terpenuhi di tengah kondisi yang serba terbatas.

Video amatir yang beredar menunjukkan detik-detik banjir lahar mulai memasuki permukiman, memicu kepanikan dan evakuasi massal. Warga berbondong-bondong menuju lokasi yang lebih tinggi, meninggalkan rumah mereka yang terancam. Hingga saat ini, kondisi di lokasi pengungsian masih menghadapi tantangan serius, terutama terkait penerangan dan pasokan logistik.

Dusun Sumberlangsep, yang dihuni oleh 137 Kepala Keluarga (KK), berada di seberang Sungai Regoyo, jalur utama banjir lahar hujan Gunung Semeru. Banjir lahar dingin Semeru yang datang tiba-tiba pada Sabtu sore menyebabkan warga tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah mereka. Mereka bergerak menuju perbukitan yang dianggap lebih aman, berharap terhindar dari dampak lanjutan bencana.

Salah satu laporan dari warga menyebutkan bahwa di RT 22, terdapat 35 pengungsi, terdiri dari 25 orang dewasa dan 10 anak-anak. Kondisi di tempat pengungsian sangat memprihatinkan karena tidak ada penerangan sama sekali, sehingga warga harus mengandalkan senter. Keterbatasan fasilitas ini menambah daftar tantangan yang harus dihadapi oleh para pengungsi di tengah malam yang gelap.

Proses evakuasi dan penanganan pengungsi menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah dan tim relawan berupaya keras untuk menyediakan bantuan, meskipun kondisi lapangan sangat sulit. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, dan penerangan menjadi sangat mendesak bagi ratusan warga yang kini berada di pengungsian sementara.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang menghadapi kendala besar dalam menjangkau lokasi pengungsian. Anggota TRC BPBD Lumajang, Danial, menjelaskan bahwa mereka belum bisa mengakses Dusun Sumberlangsep karena masih terjadi letusan sekunder di Sungai Regoyo. "Untuk sementara ini, kami bersama tim hanya bisa memantau jarak jauh karena banjir lahar tersebut menyisakan kepulan asap panas dari letusan sekunder Semeru," katanya.

Akses keluar masuk Dusun Sumberlangsep kini sepenuhnya terputus akibat banjir lahar hujan yang membawa material Gunung Semeru. Kondisi ini menyebabkan ratusan warga yang mengungsi di perbukitan setempat menjadi terisolasi. Petugas belum dapat melakukan asesmen langsung di lokasi terdampak karena jalur menuju dusun tidak memungkinkan dan sangat berbahaya bagi keselamatan tim penyelamat.

Komunikasi dengan warga pengungsi saat ini hanya bisa dilakukan melalui aplikasi pesan singkat seperti WhatsApp. Keterbatasan akses ini menghambat penyaluran bantuan dan informasi yang akurat mengenai kondisi terkini para pengungsi. Upaya koordinasi terus dilakukan untuk mencari solusi agar bantuan dapat segera menjangkau mereka yang membutuhkan.

Data dari Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru menunjukkan bahwa aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa ini masih tinggi. Tercatat satu kali getaran banjir dengan amplitudo 40 mm selama 7.950 detik, serta 11 kali gempa guguran. Aktivitas vulkanik ini menjadi penyebab utama terjadinya banjir lahar yang berulang, mengancam keselamatan warga di sekitar lereng gunung.

Pemantauan intensif terus dilakukan oleh petugas untuk mengantisipasi potensi bencana lanjutan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Semeru disebarkan secara berkala untuk memastikan warga mendapatkan data terkini dan dapat mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

Pemerintah daerah bersama dengan lembaga terkait terus berkoordinasi untuk menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan respons darurat. Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana alam seperti banjir lahar Semeru. Edukasi kepada masyarakat mengenai jalur evakuasi dan tempat aman juga terus digalakkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi