Momen Polisi Gendong Pelajar Lewati Sungai Lahar Semeru
Aksi heroik ini dilakukan oleh anggota Polsek Candipuro yakni mereka yakni, AKP Lugito, Aiptu Budi Sutrisno, dan Bripka Yayong Pamuku.
Pemandangan haru dan penuh keberanian terjadi di Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Di tengah derasnya arus Sungai Regoyo yang membawa material vulkanik akibat banjir lahar dingin Gunung Semeru, sejumlah polisi tampak menggendong anak-anak sekolah menyeberangi sungai agar bisa tetap belajar.
Aksi heroik ini dilakukan oleh anggota Polsek Candipuro yakni mereka yakni, AKP Lugito, Aiptu Budi Sutrisno, dan Bripka Yayong Pamuku. Ketiganya tak ragu menerjang derasnya sungai yang dipenuhi pasir dan batu untuk memastikan para siswa SD Negeri Jugosari 03 dapat sampai ke sekolah dengan selamat.
Jembatan limpas yang menjadi satu-satunya akses penghubung antara Dusun Sumberkajar dan Dusun Sumberlangsep nyaris tak bisa dilalui. Aliran sungai yang berubah ganas akibat kiriman material dari Semeru menjadikan jalan itu berbahaya, terutama bagi anak-anak.
“Kami tak tega melihat anak-anak harus menantang maut demi sekolah. Ini bukan hanya soal tugas, tapi soal kemanusiaan,” ucap Kapolsek Candipuro AKP Lugito pada Jum’at (16/5).
Warga Terharu
Tak hanya saat berangkat, pengawalan juga dilakukan saat anak-anak pulang ke rumah. Derasnya air dan tumpukan material vulkanik tak menyurutkan niat para personel Polsek Candipuro untuk tetap sigap menjaga dan mengantar para pelajar.
Warga pun menyambut kehadiran aparat dengan rasa syukur dan haru. Banyak orang tua yang tak kuasa menahan emosi melihat anak-anak mereka digendong oleh polisi melewati arus deras demi tetap bisa bersekolah.
Lugito menegaskan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak juga terus dilakukan demi membuka kembali akses yang aman dan layak untuk masyarakat.
“Sudah menjadi tugas kami untuk memastikan keamanan warga. Selama akses masih terhambat, kami akan berusaha terus hadir,” terangnya.
Di tengah kondisi seperti ini, mereka tidak sekadar menjalankan tugas, tapi juga menunjukkan bahwa kemanusiaan dan pendidikan tak boleh padam, meski diterjang lahar dan batu.