Transjakarta Barometer Nasional, Legislator Minta Terus Berbenah Usai Rentetan Kecelakaan
Anggota DPRD DKI Jakarta menyoroti serangkaian kecelakaan Transjakarta, mendesak manajemen untuk terus berbenah. Apa saja langkah perbaikan yang harus dilakukan demi keselamatan penumpang dan menjaga citra transportasi publik nasional?
Serangkaian kecelakaan yang melibatkan armada Transjakarta pada bulan September lalu telah menarik perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wa Ode Herlina, menegaskan bahwa Transjakarta sebagai contoh transportasi publik nasional harus terus berbenah secara menyeluruh. Insiden ini, menurutnya, memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kepercayaan publik.
Wa Ode Herlina menyoroti bahwa kecelakaan beruntun tersebut memerlukan evaluasi mendalam, mengingat Transjakarta memegang peranan penting sebagai barometer layanan transportasi umum di Indonesia. "Kecelakaan ini kan dampaknya sangat tidak bagus. Jadi betul-betul harus menjadi perhatian jajaran Direksi Transjakarta," kata Wa Ode di Jakarta, Rabu, 24 September. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi perbaikan.
Menanggapi insiden tersebut, PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) telah mengambil langkah awal dengan berdiskusi bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Direktur Utama PT Transjakarta, Welfizon Yuza, menyatakan bahwa keputusan untuk menjalankan asesmen psikologi yang lebih mendalam kepada seluruh pramudi diambil setelah evaluasi layanan yang terjadi pada bulan September lalu. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh pengguna setia Transjakarta.
Pentingnya Perbaikan Armada dan Kesehatan Pramudi
Untuk memastikan keselamatan operasional, Wa Ode Herlina menyarankan agar pimpinan Transjakarta tidak hanya duduk di balik meja, melainkan harus turun langsung ke lapangan. Kunjungan ini bertujuan untuk memeriksa secara detail kondisi armada, baik yang dimiliki secara langsung oleh Transjakarta maupun yang dioperasikan oleh pihak ketiga. Pengecekan menyeluruh ini krusial untuk mengidentifikasi potensi masalah teknis yang dapat memicu kecelakaan.
Aspek pemeliharaan armada juga menjadi sorotan utama yang harus diperhatikan secara serius. "Soal pemeliharaannya harus mumpuni. Transjakarta benar-benar harus turun ke operator," ujarnya. Kualitas pemeliharaan yang prima adalah kunci untuk memastikan setiap bus Transjakarta beroperasi dalam kondisi optimal, sehingga mengurangi risiko kerusakan mendadak di jalan.
Selain kondisi teknis armada, kesehatan dan kebugaran para pengemudi atau pramudi juga merupakan faktor penentu keselamatan yang tidak bisa diabaikan. Wa Ode menekankan bahwa banyak faktor yang melatarbelakangi kecelakaan, dan kondisi fisik serta mental pramudi adalah salah satunya. "Harus benar-benar diperhatikan kesehatan dan kebugaran pramudi," tambahnya, menyerukan agar manajemen Transjakarta lebih proaktif dalam memantau kondisi para pengemudi.
Langkah Konkret Transjakarta Pasca Insiden
Menindaklanjuti serangkaian insiden, PT Transjakarta berkomitmen untuk meningkatkan standar keselamatan dengan fokus pada faktor manusia. Welfizon Yuza mengungkapkan bahwa pihaknya akan menjalankan asesmen psikologi yang lebih mendalam bagi seluruh sopir bus Transjakarta. Keputusan ini diambil setelah diskusi intensif dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), yang memberikan masukan berharga terkait evaluasi layanan Transjakarta.
Diskusi dengan KNKT juga menyoroti pentingnya memperkuat proses rekrutmen pramudi. "Kemarin juga ada beberapa masukan dari psikolog yang ada di KNKT untuk kita bisa memperkuat mulai dari proses rekrutmennya," kata Welfizon di Jakarta, Selasa, 23 September. Hal ini menunjukkan bahwa Transjakarta berupaya untuk memastikan hanya pramudi yang memiliki kondisi mental dan psikologis yang stabil yang dapat mengemudikan armada mereka.
Lebih lanjut, dari hasil diskusi tersebut, Transjakarta perlu menyusun standarisasi modul keselamatan pramudi yang komprehensif. Modul ini tidak hanya akan mencakup aspek teknis pengoperasian bus, tetapi juga aspek mental dan psikologis yang krusial bagi lebih dari 11 ribu pramudi Transjakarta. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dua dari tiga kecelakaan Transjakarta yang menabrak bangunan serta kendaraan selama bulan September lalu memang disebabkan oleh kesalahan manusia (human error) dan kondisi psikologis pramudi. Oleh karena itu, langkah-langkah ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan di masa mendatang dan membuat Transjakarta berbenah secara fundamental.
Sumber: AntaraNews