Terungkap Motif Pengeroyokan Brutal Pelajar SMA di Yogyakarta,
Dua dari tujuh orang yang terlibat dalam pengeroyokan telah ditangkap, sementara lima pelaku lainnya yang masih buron sedang dalam pengejaran.
Seorang pelajar SMA, IDS meregang nyawa usai dikeroyok sekelompok pemuda di Lapangan Gadung Mlati. Dari tujuh pelaku yang terlibat, dua orang sudah ditangkap polisi.
Terungkap motif pengeroyokan sadis itu adalah dendam pribadi. "Laporan kejadian pertama kali diterima pada Rabu (15/4) dan terus kita lakukan penyelidikan. Dua orang yang kita amankan, sudah kita tetapkan sebagai pelaku," ungkap Kasat Reskrim Polres Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, AKP Ahmad Mirza pada Selasa (21/4).
Sementara itu, untuk lima orang pelaku lainnya, pihak kepolisian masih dalam tahap pencarian meskipun identitas mereka sudah diketahui. Mereka juga sudah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO).
Sempat Diinterogasi Pelaku
Fakta baru terungkap mengenai kasus penganiayaan yang menimpa IDS. Sebelum mengalami tindakan kekerasan, IDS sempat diinterogasi terkait keterlibatannya dalam sebuah geng. Ketika tidak memberikan jawaban yang diharapkan, korban menjadi sasaran amukan para pelaku.
Penganiayaan dilakukan dengan cara yang sangat brutal, menggunakan pipa paralon dan selang, serta menyundut rokok ke tubuhnya. Bahkan, pelaku tidak segan-segan melindas tubuh korban dengan sepeda motor. Saat ini, pihak kepolisian telah mengamankan dua sepeda motor yang digunakan dalam aksi kejam tersebut sebagai barang bukti.
Dua orang pelaku yang telah ditangkap kini dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak serta Pasal 262 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pengeroyokan. Mereka menghadapi ancaman hukuman yang cukup berat, yaitu minimal 12 tahun penjara.
"Kami masih mendalami apakah aksi ini sudah direncanakan sebelumnya, sambil terus mencari keberadaan pelaku lainnya," ungkap pihak kepolisian.
Dua Pria Menjemput Sebelum Dikeroyok
Sebelumnya, ayah IDS menceritakan bahwa peristiwa tersebut dimulai ketika korban dijemput oleh dua orang dan dibawa ke belakang SMAN 1 Bambanglipuro oleh sejumlah kakak kelas beserta kelompoknya. Setelah itu, IDS dibawa oleh dua orang berbeda ke Lapangan Gadung Mlati. "Menurut rekannya, di sana anak saya sudah ditunggu sekitar 10 orang. Ia hanya sempat ditanya soal ikut geng, kemudian langsung dikeroyok," ujarnya.
Ketika ditemukan, tubuh IDS dilaporkan mengalami kekerasan yang sangat brutal menggunakan selang dan pipa paralon. Selain itu, tubuh korban juga disundut dengan api rokok, yang mengakibatkan luka serius. Sugeng, ayahnya, juga menjelaskan bahwa penyiksaan oleh pelaku tidak berhenti di situ.
Dianiaya Hingga Tak Berdaya
IDS yang sudah tidak berdaya bahkan disebut-sebut dilindas sepeda motor secara berulang kali. Seorang pelaku juga diduga sempat berusaha melukai telinga korban sebelum dicegah oleh temannya yang mengikuti dari belakang.
"Waktu sudah pingsan, masih mau dipotong telinganya, tetapi temannya berhasil merebut gunting," ungkap Sugeng.
Ketika dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, korban IDS tidak sadarkan diri dan kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu malam.
Kejadian ini mencerminkan betapa seriusnya masalah kekerasan di kalangan pelajar, yang perlu menjadi perhatian semua pihak. Keluarga berharap agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal atas tindakan kejam yang dilakukan terhadap anak mereka.