Potret Miris Jalan Rusak di Seko Luwu Utara, Jenazah Guru Ditandu TNI dan Warga Jalan 30 Kilometer ke Pemakaman
Akses jalan rusak menjadi perjuangan warga untuk beraktivitas.
Nasib miris dialami warga Desa Padang Balua, Kecamatan Seko, Luwu Utara. Akses jalan rusak menjadi perjuangan warga untuk beraktivitas. Bahkan proses pemakaman seorang guru harus jalan kaki 30 kilometer. Perjuangan warga memakamkan jenazah guru itu berlangsung pada Senin (19/5).
Warga dibantu seorang Babinsa Koramil Seko Kodim 1403/Palopo, Serda Rahmat Saman. Di tengah medan berat dan akses jalan yang terbatas, prajurit TNI AD itu bersama warga menunjukkan makna sejati dari pengabdian dan kemanusiaan.
Serda Rahmat Saman bersama warga setempat menandu jenazah Matius, seorang pensiunan guru dalam peti sejauh 30 kilometer demi mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir di kampung halamannya.
Perjalanan penuh perjuangan itu dilakukan dengan berjalan kaki melewati jalur rusak dan berlumpur yang selama bertahun-tahun tak tersentuh perbaikan. Meski menghadapi medan berat, semangat gotong royong tak pernah surut.
"Warga dan kerabat berjalan kaki sekira 30 kilometer menuju rumah duka melewati jalan rusak, karena bertahun-tahun tidak mendapat perbaikan," kata Serda Rahmat.
Matius dikenal sebagai sosok yang berjasa di tengah masyarakat. Ia adalah pensiunan guru sekolah dasar di Desa Padang Balua, Kecamatan Seko, Luwu Utara, sekaligus juga tokoh masyarakat yang dihormati. Ia wafat pada Sabtu (17/5) malam di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar, setelah menjalani operasi pengangkatan tumor di bagian paha.
Pada Minggu (18/5) pagi, jenazah diberangkatkan dari Makassar menuju Palopo dan sempat disemayamkan di rumah keluarga. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Masamba, Luwu Utara, hingga tiba di Dusun Palandong, Desa Embona Tana, pintu gerbang menuju wilayah terpencil Kecamatan Seko.
“Setelah menempuh perjalanan darat hingga ke wilayah Dusun Palandong, jenazah kemudian dibawa secara estafet oleh warga,” kata Serda Rahmat.
Kondisi medan yang ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Jalan berlumpur dan penuh lubang membuat kendaraan tak bisa melintas. Namun, di balik keterbatasan itu, terpantul ketulusan, kerja sama, dan kekuatan solidaritas antara TNI dan masyarakat.
Pengabdian Babinsa di pelosok seperti inilah yang merefleksikan jati diri TNI AD, yaitu menjadi garda terdepan dalam membantu rakyat, tidak hanya dalam tugas militer, tetapi juga dalam aksi kemanusiaan.