Pesan Pelestarian Alam Badui: Warga Titip Amanat Lingkungan ke Gubernur Banten Saat Seba 2026
Warga Badui titip pesan pelestarian alam kepada Gubernur Banten, Andra Soni, saat tradisi Seba Badui 2026, menyoroti pentingnya menjaga lingkungan dari kerusakan hutan dan pencemaran sungai.
Ribuan warga Badui menyampaikan pesan penting mengenai pelestarian alam kepada Gubernur Banten, Andra Soni, dalam rangkaian tradisi Seba Badui 2026. Amanat ini disampaikan langsung oleh Kepala Desa Kanekes sekaligus Jaro Pamarentah, Jaro Oom, di Gedung Negara, Kota Serang, pada Sabtu, 25 April 2026. Pertemuan ini menjadi momen silaturahmi antara masyarakat adat dan pemerintah daerah, menegaskan kembali komitmen terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Tradisi Seba Badui tahun ini diikuti oleh 1.525 orang, terdiri dari warga Badui Luar dan Badui Dalam, yang datang dengan maksud utama bersilaturahmi. Mereka juga membawa serta amanat dari lembaga adat atau Puun untuk disampaikan kepada pemerintah daerah. Kedatangan rombongan warga Badui disambut langsung oleh Gubernur Banten, Andra Soni, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Dalam kesempatan tersebut, warga Badui secara khusus menitipkan pesan kepada pemerintah mengenai urgensi ketertiban lingkungan di wilayah Banten. Mereka menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait indikasi kerusakan alam, terutama pada area gunung dan aliran sungai yang merupakan sumber kehidupan utama. Amanat ini menjadi keluh kesah yang diharapkan mendapat perhatian serius dari Gubernur dan Bupati.
Amanat Adat untuk Pelestarian Lingkungan Banten
Warga Badui secara tegas menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Indikasi kerusakan alam, khususnya pada wilayah pegunungan dan aliran sungai, menjadi sorotan utama dalam pesan yang dititipkan kepada Gubernur Banten. Kerusakan ini dikhawatirkan dapat mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat maupun masyarakat luas di Banten.
Lembaga adat atau Puun meminta Gubernur dan Bupati untuk memberikan perhatian serius terhadap kondisi lingkungan hidup. Mereka berharap tidak ada lagi kerusakan hutan maupun pencemaran sungai di wilayah mereka. Permintaan ini mencerminkan kearifan lokal yang sangat menghargai keseimbangan alam sebagai fondasi kehidupan.
Jaro Oom menegaskan bahwa pelestarian alam merupakan kunci utama untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Baik bagi warga adat maupun masyarakat luas, lingkungan yang lestari akan menjamin keberlangsungan hidup dan kualitas hidup yang lebih baik. Pesan ini bukan hanya sekadar permintaan, melainkan sebuah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh masyarakat Badui.
Melalui momentum Seba ini, warga Badui berharap Provinsi Banten dapat menjadi daerah yang lebih maju dan sejahtera bagi seluruh masyarakatnya. Kemajuan dan kesejahteraan tersebut haruslah didasari oleh komitmen kuat terhadap perlindungan dan pelestarian lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan harus selaras dengan keberlanjutan alam.
Makna dan Pelaksanaan Tradisi Seba Badui 2026
Tradisi Seba Badui 2026 merupakan penutup dari rangkaian ritual setelah masa panen dan pelaksanaan puasa tiga bulan atau Kawalu. Perayaan ini menjadi simbol kesetiaan masyarakat adat Kanekes kepada leluhur dan pemerintah. Sebanyak 1.525 warga Badui Luar dan Badui Dalam berpartisipasi dalam tradisi sakral ini, menunjukkan kekompakan dan kepatuhan mereka terhadap adat istiadat.
Pelaksanaan Seba kali ini termasuk dalam kategori Seba Leutik atau Seba Kecil. Dalam perayaan ini, warga menyerahkan hasil bumi dan laksa sebagai simbol ritual. Berbeda dengan Seba Gede, perayaan kecil ini tidak menyertakan peralatan dapur dalam persembahannya, menandai perbedaan skala dan jenis ritual yang dilakukan.
Perjalanan menuju ibu kota provinsi bukanlah hal yang mudah bagi warga Badui Dalam. Mereka harus menempuh jarak sekitar 135 kilometer dengan berjalan kaki dari pedalaman Kabupaten Lebak. Ini adalah bentuk ketaatan terhadap aturan adat yang melarang penggunaan kendaraan bermotor, sebuah praktik yang menunjukkan dedikasi mereka terhadap nilai-nilai leluhur.
Masyarakat adat Kanekes berkomitmen untuk terus melaksanakan tradisi Seba ini sebagai bentuk kesetiaan kepada leluhur dan pemerintah. Tradisi ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan juga sarana untuk mempererat hubungan sosial dan menyampaikan aspirasi kepada pihak berwenang. Kesinambungan tradisi ini menjadi cerminan identitas dan kekuatan budaya Badui.
Sumber: AntaraNews