Menelusuri Jejak Sakral: Tradisi Seba Badui, Komitmen Menjaga Alam dan Adat
Puluhan warga Badui Dalam menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk mengikuti Tradisi Seba Badui, ritual tahunan yang sarat makna dalam menjaga kelestarian alam dan hubungan harmonis dengan pemerintah daerah.
Setiap tahun, masyarakat Badui Dalam memulai perjalanan panjang yang sakral. Mereka berjalan kaki menembus hutan dan perbukitan curam, tanpa penerangan modern, menuju Rangkasbitung dan Serang. Perjalanan ini merupakan bagian dari Tradisi Seba Badui, sebuah ritual adat yang telah berlangsung ratusan tahun.
Tradisi Seba Badui adalah wujud silaturahmi antara masyarakat adat Badui dengan pemerintah daerah, yang mereka sebut sebagai “Bapak Gede”. Selain itu, Seba juga menjadi momen bagi mereka untuk menyampaikan pesan-pesan adat serta menyerahkan hasil bumi sebagai simbol penghormatan. Ritual ini adalah kewajiban adat yang tak terpisahkan dari siklus kehidupan mereka, terutama setelah menjalani Kawalu.
Pada tahun 2026, sebanyak 1.552 warga Badui Dalam dan Badui Luar berkumpul di Pendopo Kabupaten Lebak untuk merayakan Seba. Kehadiran mereka menegaskan komitmen kuat untuk melestarikan warisan leluhur. Perjalanan melelahkan ini dijalani dengan kesadaran penuh akan makna mendalam dari Seba, yang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan sebuah kewajiban sakral yang harus terus dilaksanakan.
Makna dan Pelaksanaan Tradisi Seba Badui
Tradisi Seba Badui merupakan ritual tahunan yang dilakukan setelah masyarakat Badui Dalam menjalani Kawalu, yaitu puasa dan ritual syukur selama tiga bulan. Perjalanan panjang dengan berjalan kaki adalah bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan Seba, sesuai dengan aturan adat yang dipegang teguh. Rahman (50), warga Badui Dalam, menegaskan bahwa ini adalah aturan dari leluhur yang wajib ditaati.
Dalam Seba, masyarakat Badui mendatangi pemerintah daerah untuk bersilaturahmi dan menyampaikan pesan adat. Mereka menyerahkan hasil bumi seperti beras huma, ubi, buah-buahan, dan laksa sebagai simbol penghormatan kepada “Bapak Gede” atau kepala daerah. Permintaan yang disampaikan pun sederhana, yaitu jaminan kehidupan yang aman, damai, dan terjaga bagi komunitas mereka.
Pengalaman masa lalu, seperti gangguan keamanan dan penambangan liar, menjadi latar belakang harapan tersebut. Ato (55) menambahkan bahwa ketidakhadiran dalam Seba dapat membawa konsekuensi buruk menurut kepercayaan adat, karena tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman leluhur dan Kesultanan Banten. Jaro Oom, tetua adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, menjelaskan bahwa Seba juga merupakan ungkapan rasa syukur atas hasil panen.
Badui dan Konservasi Alam: Amanah Leluhur
Masyarakat Badui dikenal luas karena konsistensinya dalam menjaga kelestarian alam. Di wilayah adat seluas sekitar 5.200 hektare, mereka mempertahankan hutan sebagai kawasan lindung yang vital. Puluhan aliran sungai yang berhulu di wilayah ini menjadi sumber air penting bagi masyarakat di wilayah hilir Banten, menunjukkan peran krusial mereka dalam ekosistem regional.
Aturan adat Badui secara ketat mengatur pemanfaatan hutan, termasuk larangan merusak kawasan tertentu yang dikenal sebagai hutan tutupan. Selain itu, masyarakat Badui juga menjaga puluhan gunung di Banten agar tidak dieksploitasi atau dialihfungsikan. Saidi Yunior, tetua adat Badui Tangtu, menegaskan bahwa menjaga hutan adalah amanah leluhur, karena jika hutan rusak, kehidupan juga akan terganggu.
Upaya konservasi yang dilakukan masyarakat Badui ini berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kualitas air sungai di wilayah Badui tetap jernih dan terjaga, bahkan di tengah tekanan lingkungan yang melanda banyak daerah lain. Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, menyampaikan apresiasi atas konsistensi mereka dalam menjaga hutan dan alam, serta berkomitmen melindungi kawasan tersebut dari eksploitasi ilegal.
Seba sebagai Potensi Budaya dan Tantangan Modernisasi
Selain sebagai tradisi adat yang sakral, Tradisi Seba Badui juga mulai dilihat sebagai potensi besar untuk pengembangan budaya dan pariwisata. Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan perayaan ini dapat masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN). Berbagai kegiatan pendukung seperti pameran UMKM, pertunjukan seni, hingga pagelaran wayang golek turut digelar untuk menarik wisatawan.
Meskipun demikian, pelestarian nilai-nilai adat tetap menjadi prioritas utama bagi masyarakat Badui. Peneliti dari Leiden University, Jet Bakels, menggarisbawahi bahwa kekuatan masyarakat Badui terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan. Sejak masa Pajajaran, mereka memiliki tanggung jawab untuk menjaga hutan adat, nilai yang masih bertahan hingga kini.
Di tengah arus modernisasi global, masyarakat Badui tetap teguh mempertahankan cara hidup sederhana mereka. Mereka hidup tanpa listrik, tanpa infrastruktur modern, dan tanpa perangkat elektronik, dengan rumah-rumah yang dibangun dari bahan alami seperti bambu dan kayu. Komitmen ini mencerminkan dedikasi mereka untuk merawat tradisi, menjaga alam, dan mempertahankan keseimbangan hidup yang menjadi filosofi dasar komunitas mereka.
Sumber: AntaraNews