Perjalanan Sakral Upacara Adat Seba Baduy: Melintasi 200 Km Malam Hari
Ratusan warga Baduy Dalam menempuh perjalanan sakral 200 km di malam hari untuk Upacara Adat Seba Baduy, ritual tahunan menjaga tradisi, alam, dan menyampaikan pesan ke pemerintah.
Dini hari, sekitar pukul 03.00 WIB, puluhan warga Baduy Dalam memulai perjalanan sunyi menembus gelapnya hutan di kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten. Tanpa penerangan, mereka menyusuri jalur perbukitan curam yang penuh risiko, mulai dari medan licin hingga ancaman ular berbisa. Perjalanan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Upacara Adat Seba Baduy, sebuah ritual tahunan yang telah berlangsung berabad-abad dan menjadi kewajiban sakral bagi masyarakat Baduy.
Tradisi Seba Baduy ini biasanya dilaksanakan pada bulan April atau Mei, setelah selesainya ritual puasa dan syukur tahunan yang dikenal sebagai Kawalu. Dari desa-desa utama seperti Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik di Desa Kanekes, mereka menempuh perjalanan panjang menuju Rangkasbitung, kemudian melanjutkan ke Kota Serang. Total jarak pulang-pergi mencapai 200 kilometer, yang semuanya ditempuh dengan berjalan kaki, sesuai dengan adat istiadat yang mereka pegang teguh.
Tujuan utama Upacara Adat Seba Baduy adalah untuk menyampaikan pesan persahabatan kepada pemerintah daerah, yang mereka sebut 'Bapak Gede'. Selain itu, mereka juga membawa hasil pertanian seperti padi huma, ubi-ubian, buah-buahan, dan laksa sebagai simbol rasa hormat. Perjalanan melelahkan ini dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa Seba bukan sekadar acara tahunan, melainkan kewajiban adat sakral yang tak bisa ditinggalkan.
Menjaga Amanat Leluhur dalam Perjalanan Suci
Perjalanan panjang menuju Seba Baduy merupakan manifestasi nyata dari ketaatan masyarakat Baduy terhadap amanat leluhur. Rahman, seorang warga Baduy Dalam berusia 50 tahun, mengungkapkan bahwa mereka berjalan kaki untuk berpartisipasi dalam Seba setelah menjalani Kawalu selama tiga bulan, menegaskan bahwa ini adalah aturan dari nenek moyang mereka. Meskipun melelahkan, setiap langkah yang mereka ambil dipenuhi dengan kesadaran akan pentingnya melestarikan tradisi ini.
Bagi sebagian warga, Seba bukan hanya tradisi, tetapi juga kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan. Ato, 55 tahun, menyatakan bahwa tidak menghadiri Seba dapat membawa konsekuensi buruk menurut kepercayaan adat mereka. Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun, sejak zaman leluhur dan Kesultanan Banten, dan harus terus dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.
Pada perayaan Seba tahun 2026, tercatat 1.552 warga Baduy Dalam dan Baduy Luar hadir di Balai Kabupaten Lebak. Mereka datang dengan semangat kebersamaan untuk melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen kuat terhadap identitas budaya dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Baduy.
Pesan Persahabatan dan Harapan Keamanan untuk Upacara Adat Seba Baduy
Dalam Upacara Adat Seba Baduy, masyarakat Baduy menyampaikan pesan persahabatan dan harapan kepada pemerintah daerah. Mereka menghadap kepala daerah sebagai 'Bapak Gede' dan menyerahkan hasil pertanian sebagai bentuk penghormatan. Permintaan mereka sederhana: jaminan kehidupan yang aman, damai, dan tenteram bagi suku mereka.
Harapan ini didasari oleh pengalaman masa lalu, di mana warga Baduy pernah menghadapi gangguan keamanan, seperti kehilangan ternak dan aktivitas penambangan ilegal yang merusak hutan. Rahman mengungkapkan rasa syukurnya atas kondisi saat ini, "Sekarang situasinya aman. Ternak tidak ada lagi yang hilang, dan hutan tidak dirusak. Kami berterima kasih kepada pemerintah."
Jaro Oom, sesepuh adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, menjelaskan bahwa Seba memiliki makna luas. Selain sebagai ungkapan syukur atas hasil panen, tradisi ini juga melambangkan hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah. Penyerahan hasil pertanian menjadi bentuk penghormatan dan pengingat bahwa hubungan ini harus selalu dijaga dengan baik.
Komitmen Pelestarian Lingkungan dan Potensi Wisata Budaya dari Upacara Adat Seba Baduy
Masyarakat Baduy dikenal karena menjaga kelestarian lingkungan dengan sangat ketat, menolak teknologi modern, dan hidup selaras dengan alam. Di wilayah adat seluas sekitar 5.200 hektare, mereka menjaga hutan sebagai kawasan lindung. Puluhan sungai di wilayah ini juga berfungsi sebagai sumber air penting bagi masyarakat hilir di Banten.
Saidi Yunior, sesepuh adat Baduy Dalam, menekankan pentingnya menjaga hutan, "Kami melindungi hutan karena itu adalah warisan dari leluhur kami. Jika hutan rusak, kehidupan juga akan terganggu." Hukum adat mereka melarang perusakan area tertentu yang dikenal sebagai hutan tutupan, serta melindungi puluhan gunung di Banten dari eksploitasi. Upaya ini berkontribusi signifikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terbukti dari kualitas air sungai di wilayah Baduy yang tetap jernih.
Pemerintah daerah mengakui peran penting masyarakat Baduy dalam konservasi lingkungan. Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, menyampaikan apresiasinya atas upaya konsisten mereka dalam melindungi hutan dan alam. "Masyarakat Baduy telah menunjukkan bagaimana melindungi lingkungan secara berkelanjutan. Ini sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan ekosistem," ujarnya. Pemerintah berkomitmen untuk melindungi wilayah tersebut dari eksploitasi, termasuk penambangan ilegal, yang juga menjadi salah satu harapan yang disampaikan dalam Upacara Adat Seba Baduy.
Menjaga Keseimbangan Hidup di Tengah Arus Modernisasi Melalui Upacara Adat Seba Baduy
Selain sebagai tradisi sakral, Seba juga mulai dilihat sebagai potensi pengembangan budaya dan pariwisata. Pemerintah Kabupaten Lebak menargetkan perayaan ini masuk dalam 10 besar Karisma Event Nusantara (KEN), yang mencakup pameran produk UMKM, pertunjukan seni, dan pagelaran wayang golek. Acara-acara ini diharapkan dapat menarik wisatawan dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Namun, pelestarian nilai-nilai tradisional tetap menjadi prioritas utama bagi masyarakat Baduy. Peneliti dari Universitas Leiden, Jet Bakels, berpendapat bahwa kekuatan masyarakat Baduy terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara tradisi dan perubahan. "Sejak era Pajajaran, masyarakat Baduy memiliki tanggung jawab untuk melindungi hutan adat mereka. Nilai itu bertahan hingga hari ini," katanya, merujuk pada masa keemasan Kerajaan Sunda di Jawa Barat.
Di tengah arus modernisasi, masyarakat Baduy tetap mempertahankan cara hidup sederhana, tanpa listrik, infrastruktur modern, dan perangkat elektronik. Rumah-rumah mereka dibangun dari bahan alami seperti bambu dan kayu, selaras dengan lingkungan. Perjalanan dini hari mereka menuju Seba bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang terus-menerus dijaga, sebuah komitmen untuk menjunjung tinggi tradisi, melindungi alam, dan menjaga keseimbangan yang menjadi landasan hidup mereka, yang tercermin dalam setiap pelaksanaan Upacara Adat Seba Baduy.
Sumber: AntaraNews