Gubernur Banten Apresiasi Konsistensi Warga Baduy Jaga Tradisi Seba Baduy
Gubernur Banten Andra Soni memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi masyarakat adat Kanekes dalam menjaga kelestarian Tradisi Seba Baduy yang telah berlangsung ratusan tahun, menarik perhatian pada nilai-nilai luhur.
Ribuan warga adat Kanekes, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam, melakukan long march dari Alun-Alun Barat Kota Serang menuju Gedung Negara Provinsi Banten pada Sabtu. Mereka hadir untuk mengikuti prosesi Tradisi Seba Baduy, sebuah ritual adat yang telah lestari selama ratusan tahun. Kedatangan rombongan ini diantar langsung oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Lebak.
Gubernur Banten, Andra Soni, menyambut hangat kedatangan masyarakat adat Kanekes yang akrab menyapanya sebagai Bapak Gede. Gubernur mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran 1.525 orang dalam prosesi 'Buka Panto' yang menjadi bagian penting dari Seba. Tradisi ini menunjukkan konsistensi luar biasa masyarakat Baduy dalam melestarikan warisan leluhur mereka.
Pelaksanaan Seba tahun ini dikategorikan sebagai Seba Letik atau Seba Kecil, menandai penutupan masa panen dan puasa (Kawalu). Momentum ini dimanfaatkan pemerintah provinsi untuk belajar nilai-nilai kehidupan, terutama ketaatan pada aturan dan pelestarian alam. Tradisi Seba Baduy menjadi cerminan kearifan lokal yang patut dicontoh.
Makna dan Apresiasi Gubernur Banten terhadap Tradisi Seba Baduy
Andra Soni menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi masyarakat adat Kanekes dalam menjaga Tradisi Seba Baduy. Beliau menekankan pentingnya ketaatan pada aturan dan upaya pelestarian alam yang diajarkan oleh warga Baduy. Gubernur melihat Seba sebagai kesempatan berharga bagi pemerintah untuk memahami nilai-nilai fundamental tersebut.
"Alhamdulillah, hari ini kami bersama-sama menerima saudara-saudara kita dari Desa Adat Kanekes. Sebanyak 1.525 orang hadir mengikuti prosesi 'Buka Panto' yang merupakan tradisi ratusan tahun," ujar Andra Soni. Pernyataan ini menunjukkan betapa Gubernur menghargai kehadiran dan keteguhan masyarakat Baduy.
Gubernur Andra Soni menegaskan bahwa masyarakat adat Kanekes harus dijadikan tuntunan, bukan sekadar tontonan. "Masyarakat Kanekes mengajarkan kepada kita untuk taat kepada aturan dan melestarikan alam melalui berbagai pantangan mereka. Kita jadikan masyarakat adat Kanekes sebagai tuntunan, bukan sebagai tontonan," tegas Andra Soni. Pesan ini menyoroti perlunya mengambil pelajaran dari cara hidup mereka.
Tradisi Seba Baduy, khususnya Seba Letik tahun ini, menjadi simbol kuat dari komitmen terhadap lingkungan dan adat istiadat. Ini adalah penutupan masa panen dan puasa Kawalu, yang secara turun-temurun dijaga kelestariannya. Konsistensi ini memberikan inspirasi bagi semua pihak.
Aspirasi Masyarakat Adat dan Dukungan Pemerintah Provinsi dalam Tradisi Seba Baduy
Dalam rangkaian silaturahmi tersebut, masyarakat adat Kanekes turut menyampaikan sejumlah aspirasi penting kepada Pemerintah Provinsi Banten. Isu utama yang menjadi perhatian adalah kelestarian lingkungan serta perlindungan kawasan hutan dan sungai dari kerusakan. Aspirasi ini selaras dengan prinsip hidup masyarakat Baduy yang sangat menghargai alam.
Pemerintah Provinsi Banten menunjukkan komitmennya dengan memfasilitasi berbagai kegiatan pendukung selama rangkaian Tradisi Seba Baduy. Dinas terkait turut berperan aktif guna memastikan seluruh prosesi berjalan khidmat dan lancar. Dukungan ini penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi.
Setelah menyelesaikan ritual di tingkat provinsi, rombongan warga Baduy dijadwalkan akan berpamitan kepada Bupati Serang pada Minggu pagi. Mereka kemudian akan menempuh perjalanan pulang kembali ke wilayah pedalaman Lebak. Perjalanan ini menandai berakhirnya rangkaian Seba tahun ini.
Fasilitasi dari pemerintah provinsi tidak hanya memastikan kelancaran acara, tetapi juga mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat. Ini adalah bentuk pengakuan terhadap nilai-nilai budaya lokal yang kaya. Tradisi Seba Baduy menjadi jembatan komunikasi yang efektif.
Sumber: AntaraNews