Pemilik Warung di Semarang Mengeluh LPG Langka: Serba Susah, Bumbu Diracik Ketunda Masaknya
Untuk mengakali kelangkaan ini, Ambar Wulan terpaksa mengirit-irit pemakain stok LPG 3kg miliknya.
Pemilik warung makan di Semarang, Ambar Wulan was-was, lantaran pasokan gas LPG 3 kilogram tiba-tiba langka. Sudah berhari-hari dia tidak dapat kiriman LPG 3 kg dari pengecer yang menjadi langganan.
Untuk mengakali kelangkaan ini, Ambar Wulan terpaksa mengirit-irit pemakain stok LPG 3kg miliknya.
"Enggak dapat barangnya. Semuanya serba susah, Mas. Ini aja gasnya hampir habis, dan dikasih aja telat gasnya. Dampaknya bumbu yang diracik ketunda masaknya," kata Ambar, perempuan yang buka warung di Jalan Menteri Supeno, Semarang, Selasa (4/2).
Sehari-hari Ambar berjualan nasi sop sayur, nasi telur, ramesan, mi rebus, mi goreng hingga gudeg. Pelanggan warung adalah pegawai kantoran instansi pemerintah dan swasta.
"Ya biasanya setiap hari kan saya pakainya empat tabung gas yang ukuran 3 kilo. Karena empat kompor semuanya dipakai. Cuman sekarang ini seminggu paling dikirimi sama pangkalan itu satu tabung tok," ungkapnya.
Kompor yang dibuat masak jumlahnya empat, kalau habis satu gasnya masaknya sayur ketunda. Maka dari itu, kadang lauk yang disajikan telat matang.
"Jadi sebagian lauknya ada yang belum matang. Padahal kalau pagi bayak pegawai yang sarapan. Akhirnya pokoknya gimana carane masakan pagi bisa mateng semua," keluhnya.
Ambar berkata tabung yang dia beli dari pangkalan dipatok harga Rp18 ribu. Namun baru-baru ini ia dapat informasi dari pangkalan jika pasokan LPG 3kg dibatasi oleh agen.
"Bilangnya barangnya dikurangi," ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas ESDM Jateng Boedyo Dharmawan mengakui bahwa sejak ada aturan baru per 1 Februari 2025 kemarin membuat pasokan LPG 3 kilogram dibatasi.
"Memang ada pengetatan karena regulasi ini mengatur tentang sektor UMKM dan usaha kecil," ujarnya.
Ketersediaan elpiji 3 kilogram dengan kebutuhan energi di tingkat masyarakat selama ini cenderung timpang.
"Tapi tidak sebanding dengan kebutuhan energi yang dikonsumsi masyarakat Jawa Tengah. Termasuk Semarang," pungkas Boedyo.