Teriakan Warga Depok Kesulitan Dapat Gas LPG 3 Kg: Mending Balikin di Warung, Kalau Begini Nyusahin Rakyat!

Warga kesulitan mendapat gas 3 Kg di hampir seluruh wilayah Kota Depok.

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Teriakan Warga Depok Kesulitan Dapat Gas LPG 3 Kg: Mending Balikin di Warung, Kalau Begini Nyusahin Rakyat!
Pemerintah Kabupaten Tangerang mengklarifikasi isu kelangkaan gas elpiji 3 kg bersubsidi, menjelaskan bahwa distribusi kini langsung ke konsumen di pangkalan resmi, bukan ke pengecer, untuk mencegah kenaikan harga dan memastikan tepat sasaran. (© 2025 Antaranews)

Keluhan akibat kelangkaan gas ukuran 3 Kilogram (Kg) banyak dirasakan warga. Warga kesulitan mendapat gas 3 Kg di hampir seluruh wilayah Kota Depok. Antrean panjang terjadi di pangkalan sebagai satu-satunya lokasi resmi membeli gas.

Mereka harus rela antre lebih dari satu jam untuk membeli satu tabung gas 3 Kg. Warga mengeluhkan kelangkaan gas sejak kemarin. Bahkan tak jarang antrean warga menyebabkan kemacetan karena pangkalan gas berada di pinggir jalan raya.

Sofia, salah satu warga mengatakan, dia sudah antre satu jam lebih di pangkalan. Biasanya dia membeli gas di warung atau tingkat pengecer. Namun sejak kemarin gas di tingkat pengecer kosong, sehingga dia harus mencari ke pangkalan atau agen.

“Tadi sudah ngantre kira-kira 1 jam. Dari kemarin seluruh toko sudah enggak ada, buat masak sehari-hari,” katanya, Senin (3/2).

Dia mengakui, harga gas di agen memang lebih murah yaitu sekitar Rp19.000. Namun, dia mengaku kesal karena harus antre panjang dan membawa kartu identitas saat membeli.

"Di warung bisa Rp23.000 sampai Rp25.000, tapi itu juga enggak ada, kosong semua di warung," ungkapnya kesal.

Dia mengaku kondisi ini sangat menyulitkan warga. Apalagi sebagai penjual makanan kecil, Sofia terhambat karena harus antre beli di pangkalan hingga lebih dari satu jam.

“Ini kan jadi buang waktu. Harusnya bisa jualan, ini malah antre gas,” keluhnya.

Warga Antre Berjam-Jam

Keluhan serupa juga dirasakan Jaim, warga yang juga kesulitan membeli gas 3 Kg. Terlebih yang membuatnya kesal adalah ketika antreannya sudah berada di tengah ternyata persediaan gas habis. Dia pun harus mencari ke pangkalan atau agen lain.

“Antre dari belakang, maju sampe tengah udah habis, muter-muter cari lagi, akhirnya dapat di dekat Mahakam,” katanya.

Jaim mengaku harga di pangkalan atau agen memang lebih murah. Namun dia mengaku kesal karena membuang waktu lantaran harus antre lebih dari satu jam.

Dia mengaku lebih baik dijual di pengecer walaupun harganya lebih tinggi. Menurutnya dengan harga yang ditetapkan tapi persediaan sedikit dirasa sangat menyulitkan.

“Mending dibalikin lagi jual di warung. Kalau gini nyusahin rakyat kecil jadinya,” ujarnya dengan nada kesal.

Lonjakan Harga Elpiji 3 Kg di DKI Jakarta: Akibat Borong dan Aturan Baru?
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menduga lonjakan harga dan kelangkaan elpiji 3 kg disebabkan aksi borong dan aturan baru distribusi gas subsidi, yang memicu kekhawatiran masyarakat. © 2025 Antaranews

Pemilik Pangkalan Gas Kewalahan

Sementara itu, sejumlah pemilik pangkalan mengaku kewalahan lantaran diserbu warga sejak pagi. Kelangkaan gas 3 Kg terjadi karena adanya pembatasan pengiriman dari pusat.

“Dari mulai tanggal 1 itu sudah langka memang dari sananya nggak ada pengiriman,” kata Fita, salah satu pemilik pangkalan.

Sejak 1 Februari 2025, gas tidak dijual di tingkat pengecer atau warung. Sehingga warga harus langsung ke pangkalan atau agen.

“Per tanggal 1 Februari tidak boleh ngirim ke warung-warung, jadi konsumen langsung ke pangkalan, pangkalan resmi,” ujarnya.

S, pemilik pangkalan lainnya mengatakan kelangkaan ini disebabkan kerterlambatan pengiriman. Hal itu terjadi akibat libur panjang pekan lalu.

“Masih banyak kok terlihat pengantaran gas di jalan-jalan. Selain itu, ada kebijakan baru, tidak boleh menjual ke pengecer, jadi masyarakat langsung ke agen atau pangkalan, tujuannya agar tepat sasaran. Harga berdasarkan HET (Harga eceran tertinggi) Rp19 ribu, kalau kelangkaan enggak sih ya,” katanya.

Terpisah, Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Kota Depok Ahmad Badri enggan berkomentar terkait hal tersebut dan menyarankan menghubungi Pertamina.

“Untuk lebih lengkap dan jelasnya bisa menghubungi Communication Relationship JBB PT Pertamina,” katanya.

Rekomendasi