Gas LPG 3 Kg Langka di Condet, Pedagang Nasi Goreng Ini Berhenti Jualan dan Pilih Pulang Kampung

Kelangkaan gas LPG 3 Kg mulai dirasakan para pedagang di Kawasan Condet, Batu Ampar, Jakarta Timur.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Gas LPG 3 Kg Langka di Condet, Pedagang Nasi Goreng Ini Berhenti Jualan dan Pilih Pulang Kampung
Pertamina Patra Niaga pastikan harga LPG 3 kg di Pangkalan resmi mengikuti HET yang ditetapkan setiap Pemda. (Foto: Pertamina) (© 2025 Liputan6.com)

Kelangkaan gas LPG 3 Kg mulai dirasakan para pedagang di Kawasan Condet, Batu Ampar, Jakarta Timur. Pedagang nasi goreng bernama Wasis mengeluhkan kesulitan mendapatkan gas melon, sebutan gas LPG itu sejak 31 Januari 2025 lalu.

"Gas susah dari tanggal 31 Januari," kata Wasis kepada merdeka.com, Minggu (2/2).

Wasis sudah berupaya keliling kawasan Condet mencari gas LPG 3 Kg. Namun, beberapa warung menyatakan gas kosong. Wasis belum tahu kabar bahwa pembelian gas sekarang harus melalui agen atau pangkalan.

"Saya sudah cari gas putar puter Condet, banyak kosong," ungkap Wasis.

Pria asal Tegal ini akhirnya memilih berhenti berjualan sejak kemarin dan memilih pulang kampung karena kehabisan gas. Bahkan, bila gas masih langka di Condet, Wasis mengaku bakal lebih lama di kampung halaman.

"Jadi saya pulang kampung enggak jualan karena enggak ada gas. Gas masih susah, kalau masih susah saya sebulan di kampung," ujar dia.

Beli di Agen Memberatkan Pedagang

Sebagai pedagang, Wasis menilai kebijakan yang mewajibkan membeli gas di agen begitu memberatkan. Hal ini lantaran jarak lapaknya berjualan dengan agen cukup jauh. Padahal, dia biasanya mudah membeli gas di warung terdekat.

"Harapannya beli gas gampang enggak ribet. Kalau beli ke agen enggak setuju, jauh. Di warung-warung aja," tutup Wasis.

Wasis juga menyoroti rencana pemerintah yang mewajibkan warga membeli gas LPG 3 kg lewat aplikasi mypertamina. Menurut dia, kebijakan itu lagi-lagi menyulitkan pedagang yang biasanya bisa dengan mudah mendapatkan gas di warung atau pengecer.

Penyebab Gas LPG 3 Kg Langka

Masyarakat mulai mengeluhkan kesulitan membeli gas LPG 3 kg atau popular dengan gas melon beberapa hari terakhor. Hal ini ditengarai dengan kebijakan pemerintah yang mengimbau masyarakat untuk membeli gas 3 kg dari agen, atau pengecer yang sudah terdaftar.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan, pengecer agar dapat pasokan dan jual lpg 3 kg wajib mendaftarkan untuk menjadi pangkalan mulai 1 Februari 2025. Namun, pihaknya memberikan waktu satu bulan dari pengecer jadi pangkalan.

Dia menuturkan, pihaknya sedang menata bagaimana LPG 3 kg yang dikonsumsi masyarat dapat sesuai dengan batas harga yang ditetapkan oleh pemerintah.

"Jadi yang pengecer justru kita jadikan pangkalan. Itu ada formal untuk mereka mendaftarkan nomor induk berusaha terlebih dahulu," kata Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat, 31 Januari 2025, dikutip Sabtu (1/2).

Seiring hal itu, pengecer lpg 3 kg bukan hilang begitu saja. Pengecer tetap mendapatkan pasokan dan berjualan tabung lpg 3 kg dengan memiliki nomor induk berusaha (NIB) dengan mendaftarkan diri di sistem Online Single Submission (OSS).

"Per 1 Februari, peralihan. Karena itu ada jeda waktu. Kita berikan untuk satu bulan, pengecer jadi pangkalan," ujar Yuliot.

Klaim Harga Lebih Murah di Agen

PT Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat untuk membeli LPG 3 kg langsung ke pangkalan resmi untuk mendapatkan harga jual yang sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), sebagaimana yang ditetapkan masing-masing pemerintah daerah.

“Pembelian di pangkalan resmi LPG 3 kg tentu lebih murah harganya dibandingkan beli di pengecer,” ucap Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari dilansir Antara, Minggu (2/2).

Selain itu, Heppy juga menyampaikan para pengecer dapat menjadi pangkalan resmi setelah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Pernyataan tersebut merespons Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang berencana mengubah pengecer LPG 3 kg menjadi pangkalan resmi, dimulai pada 1 Februari 2025.

Rekomendasi