Momen Haru Penyerahan Jenazah Pramugari ATR 42-500 Florencia Lolita, Isak Tangis Keluarga Pecah
Tangis keluarga pecah saat penyerahan jenazah Felicia.
Petugas Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) menyerahkan jenazah pramugari Indonesia Air Transport ATR 42-500 Felicia Lolita Wibisono kepada pihak keluarga. Tangis keluarga pecah saat penyerahan jenazah Felicia.
Penyerahan jenazah dilakukan langsung Kepala Biddokes Polda Sulsel Komisaris Besar Muh Haris didampingi manajemen Indonesia Air Transport kepada ayah Florencia Lolita Wibisono.
Jenazah Florencia sebelumnya berhasil diidentifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Usai diidentifikasi, jenazah Florencia dimasukkan ke dalam peti jenazah untuk selanjutnya akan diterbangkan Jakarta.
Kakak Florencia Lolita Wibisono, Felix menyampaikan terima kasih kepada Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta maskapai Indonesia Air Transport yang telah berusaha keras menemukan jenazah adiknya. Dia bersyukur adiknya tersebut bisa ditemukan dan diidentifikasi.
"Mengucap syukur atas apa yang telah dikerjakan bagi kami, sehingga adik kami bisa ditemukan," ujar Felix kepada wartawan di Biddokes Polda Sulsel, Rabu (21/1).
Jenazah Dibawa ke Jakarta
Felix mengungkapkan rencananya jenazah adiknya tersebut akan dibawa ke Jakarta. "Hari ini bisa ditutup petinya sehingga kami akan segera membawanya ke Jakarta," kata dia.
Felix juga mendoakan keluarga korban lainnya untuk diberi kekuatan atas musibah yang dialami pesawat IAT ATR 42-500. Ia berharap korban lainnya juga bisa segera ditemukan dan diidentifikasi.
"Kami terus berdoa untuk yang lain juga, dikasih kekuatan juga sama seperti kami. Dan juga bisa segera ditemukan, sehingga kita semua kembali ke tempat masing-masing," tutur Felix.
Felix kembali mendoakan proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan berjalan dengan baik dan lancar.
"Kami mohon dukungan doa dari semuanya agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta agar kita semua diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk menghadapi semuanya," ucap dia.
Sebelumnya, Kepala Biddokkes Polda Sulsel Komisaris Besar dr Muhammad Haris mengatakan pada Selasa (20/1) malam, telah menerima satu kantong jenazah dari Basarnas. Usai menerima kantong jenazah korban, tim DVI langsung melakukan proses identifikasi.
"Jenazah dengan nomor post mortem 62B.01, cocok dengan ante mortem nomor AM004. Teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, jenis kelamin perempuan, umur 33 tahun, dengan alamat apartemen Howard Tower, Pulau Gadung, Jakarta Timur," ujarnya saat jumpa pers di Biddokes Polda Sulsel, Rabu (21/1).
Haris mengungkapkan teridentifikasinya jenazah tersebut berdasarkan sidik jari, data gigi, properti, dan ciri medis.
"Melalui sidik jari data gigi, properti, dan
ciri medis," ucapnya.
Sementara Kepala Pusat Identifikasi Pusdokkes Polri, Brigadir Jenderal Mashudi menambahkan tim DVI sudah melakukan pemeriksaan identifikasi terhadap jenazah dengan kode PM 62B.01. Mashudi mengaku kondisi jenazah korban kedua masih dalam keadaan baik.
"Sehingga untuk kapiler yang ada di sidik jari masih bisa terbaca. Sehingga kami sudah langsung mengambil sidik jarinya," tuturnya.
Mashudi mengatakan peralatan yang dimiliki tim DVI, sehingga bisa membaca identitas korban dengan baik. Meski demikian, hal tersebut juga dibarengi dengan pembuktian secara sains yakni dengan pencocokan Ante Mortem dan Post Mortem.
"Maka kami melakukan pembandingan yaitu mengambil sidik jari jempol tangan kiri dan kami melakukan pembandingan dari data pembanding sebagaimana disampaikan tadi," kata dia.
Ia mencontohkan proses identifikasi dengan mengambil data post mortem. Kemudian, kata Mashudi, pihaknya melakukan pembanding secara manual.
"Maka kini secara ilmu pengetahuan, bahwa yang bersangkutan adalah Florensia Lolita Wibisono sebagaimana disampaikan oleh Basarnas tadi. Jadi kami yakin, sangat yakin berdasarkan keilmuan, bahwa yang bersangkutan adalah sebagaimana tersebut," ucapnya,
Sementara Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Inspektur Jenderal Djuhandhani Raharjo Puro mengatakan proses evakuasi korban berjalan cukup sulit. Apalagi cuaca dan medan yang cukup ekstrem menjadi kendala.
"Saya disampaikan oleh Kepala Basarnas, situasi kondisi di lapangan memang cukup sulit. Sehingga perlu beberapa hari korban baru bisa dievakuasi, kemudian bisa diidentifikasi," ujarnya.
Mantan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri ini mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan keluarga korban kecelakaan pesawat IAT ATR 42-500 untuk pengambilan data ante mortem. Djuhandhani mengatakan tim DVI telah mengidentifikasi satu korban yakni atas nama Florencia Lolita Wibisono.
"Kemudian tadi sudah disimpulkan bahwa korban yang teridentifikasi adalah saudari Florencia Lolita Wibisono. Ini adalah pembuktian yang secara saintifik dan pembuktian ini sudah diakui oleh Internasional terkait identifikasi korban," ucapnya.