Ini Kendala Ungkap Identitas Korban Pertama Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung

Proses identifikasi jenazah dilakukan dengan dua metode yakni primer dan sekunder.

Ihwan Fajar
Oleh Ihwan Fajar - Reporter
Ini Kendala Ungkap Identitas Korban Pertama Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung
Ini Kendala Ungkap Identitas Korban Pertama Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung (Merdeka.com)

Tim Disaster Victim identification (DVI) Biddokes Polda Sulsel masih melakukan pemeriksaan jenazah korban kecelakaan Indonesia Air Transport ATR 42-500 yang ditemukan pertama oleh tim SAR gabungan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Biddokes Polda Sulsel menyebut jenazah berjenis kelami laki-laki tersebut sudah dalam kondisi bengkak.

Kepala Biddokes Polda Sulsel Komisaris Besar Muh Haris mengatakan masih belum bisa memastikan identitas korban pertama berjenis kelamin laki-laki. Apalagi keluarga korban memberikan foto saat masih muda. Sedangkan, kondisi tubuh sudah berubah.

"Biasanya yang diposting ke kami, yang diberikan kepada kami untuk jenazah yang kedua ini adalah foto waktu masih umur masih muda. Sedangkan beliau mungkin sudah berubah beberapa tahun baru ada foto terbarunya," ujar Haris saat jumpa pers di Aula Biddokes Polda Sulsel, Rabu (21/1).

Selain itu, kondisi tubuh juga akan berubah saat sudah meninggal dunia. Apalagi, korban pertama tersebut sudah dalam kondisi bengkak meski masih utuh saat ditemukan oleh tim SAR gabungan.

"Apalagi dengan cuaca, kondisi, sudah bengkak. Tidak bisa dipastikan dengan foto waktu itu dengan waktu meninggal," kata Haris.

Haris memaparkan proses identifikasi jenazah dilakukan dengan dua metode yakni primer dan sekunder. Ia menjelaskan untuk metode primer bisa dengan cukup satu data.

"Untuk metode primer itu cukup satu saja sudah bisa ditentukan identitas korban, yaitu mulai dari sidik jari. Kemudian yang kedua profil gigi," tuturnya.

Haris menjelaskan jika sidik jari tidak didapatkan, maka DVI akan memeriksa profil gigi korban. Jika profil gigi juga susah didapatkan, maka tim DVI akan menggunakan sampel DNA.

"Jika seandainya jenazah susah mendapatkan sidik jari, kemudian susah mendapatkan profil gigi, dilakukan pemeriksaan DNA. Inilah yang memerlukan waktu yang cukup," kata dia.

Jika data primer sulit didapatkan, kata Haris, tim DVI akan menggunakan metode sekunder. Ia menjelaskan metode sekunder yaitu pemeriksaan pada korban dari catatan medis.

"Kemudian dari properti yang digunakan, pakaian. Kemudian apakah yang bersangkutan sudah kawin, memakai cincin kawin, dan lain sebagainya," bebernya.

Haris pun membandingkan proses identifikasi jenazah korban pertama yaitu pramugari Florencia Lolita Wibisono dengan kedua sangat berbeda. Ia menyebut kondisi jenazah Florencia sidik jarinya masih bagus.

"Sidik jarinya bisa diperiksa dengan baik. Sehingga kita dengan cepat bisa merilis dan men-declare bahwa yang bersangkutan Florencia (pramugari IAT ATR 42-500)," kata dia.

Sementara kondisi jenazah berjenis kelamin laki-laki ini berbeda. Apalagi, proses evakuasi jenazah korban ini dilakukan saat cuaca dan medan yang cukup ekstrem.

"Mungkin itulah yang menjadi kendala pada saat identifikasi setiap jenazah. Mudah-mudahan untuk jenazah yang kedua, yang sudah kami terima (bisa teridentifikasi) karena dengan metode-metode yang tadi saya jelaskan tadi.

Haris menegaskan dalam proses identifikasi oleh tim DVI tidak mengedepankan kecepatan, tetapi ketepatan. Hal tersebut guna memberikan kepastian identitas korban.

"Kita tidak membutuhkan kecepatan, tapi kami membutuhkan ketepatan. Ini adalah suatu keadaan yang harus pasti, bahwa jenazah ini adalah korban ini," ucapnya.

Sementara Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulsel Komisaris Besar Didik Supranoto menambahkan saat ini tim DVI masih terus bekerja untuk mengidentifikasi korban kecelakaan pesawat IAT ATR 42-500. Didik mengatakan untuk jenazah pertama atas nama Florencia Lolita Wibisono telah diserahkan kepada pihak keluarga.

"Pukul 14.00 Wita tadi yang didampingi oleh kedua orang tuanya, kakak kandung dan juga kakak iparnya. Dan rencana nanti pukul 22.00 Wita, akan diterbangkan menuju ke Jakarta dengan menggunakan pesawat," kata Didik.

Sementara untuk jenazah kedua jenis kelamin laki-laki masih dilakukan identifikasi oleh tim DVI.

"Terkait dengan jenazah yang tadi baru datang, sekarang masih dilakukan identifikasi oleh tim DVI," ucapnya.

Rekomendasi