KNKT akan Bedah Isi Black Box Ungkap Penyebab Pesawat ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung
KNKT akan mengunduh data Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) ATR 42-500.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap butuh Waktu 5 hingga 10 hari memeriksa isi Black Box pesawat ATR 42-500 jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep. Black Box itu telah diserahkan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Moh Syafi'i kepada Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono di kantor Basarnas Makassar, Kamis (22/1)
Soerjanto mengatakan, KNKT akan membuka isi Black Box setelah menerima dari Basarnas. Nantinya, KNKT akan mengunduh data Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) ATR 42-500.
"Setelahnya kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak. Setelah itu baru kita analis," ujar Soerjanto di kantor Basarnas Makassar area Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kamis (22/1).
Waktu Pemeriksaan Black Box
Menurut Soerjanto, pemeriksaan Black Box akan dilakukan di kantor KNKT Jakarta. Soerjanto menyebut butuh 5 sampai 10 hari untuk periksa isi data Black Box
"Lima sampai 10 hari. Iya, hasilnya benar apa enggak 5-10 hari," ujar dia.
Bagian Diperiksa KNKT
Soerjanto sebelumnya menegaskan kewenangan KNKT untuk melakukan investigasi kecelakaan transportasi, termasuk ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
"Dengan ditemukannya Black Box ini dimaksudkan adalah untuk menjawab tentang ini, apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut," tutur Soerjanto.
Soerjanto menjelaskan ada dua jenis Black Box yang terpasang di pesawat. Pertama adalah CVR dan yang kedua FDR.
"CVR berisi rekaman suara, yaitu di dalamnya ada 4 channel. Channel pertama adalah komunikasi antara pesawat dengan pengawas atau ATC (Air Traffic Control), channel kedua adalah komunikasi antar pilot. Channel ketiga adalah komunikasi dari kokpit ke kabin. Channel keempat adalah suara yang ada di dalam kokpit," beber dia.
"Jadi segala macam suara yang ada di dalam kokpit juga akan terekam. Dan apa pun pembicaraan antara pilot juga akan terdengar. Nah itu juga menjadi satu bahan untuk investigasi," imbuh Soerjanto.
Sementara untuk FDR, Soerjanto menyebut ada 88 parameter seperti terkait ketinggian, kecepatan, dan segala macam data penerbangan.
"Jadi kenapa ada ide Black Box ini, kita sebagai manusia ingin belajar dari kejadian. Jadi ada lesson learned yang tujuannya adalah agar kecelakaan yang sejenis atau serupa di kemudian hari tidak terjadi kembali," tegas dia.
Rekomendasi Hasil Pemeriksaan Black Box
Soerjanto mengatakan hasil pemeriksaan Black Box oleh KNKT akan menjadi Investigation Report dan juga sejumlah rekomendasi.
Maka kita ingin mengetahui lesson learned dari kejadian ini apa yang menjadi pembelajaran bagi kita untuk perbaikan agar keselamatan khususnya transportasi udara ini akan lebih aman ke depannya. Karena kita mengetahui bahwa kejadian seperti ini dapat terulang. Maka nanti hasil dari KNKT berupa investigation report dan ada beberapa rekomendasi-rekomendasi.
"Kalau memang dipandang perlu, KNKT akan menerbitkan rekomendasi segera. Jadi sekali lagi bahwa dengan ditemukannya Black Box ini penyebab apa yang terjadi kecelakaan ini bisa kita ungkap dengan lebih tepat," kata dia.
"Jadi kita tidak berdasarkan kira-kira, tapi benar-benar berdasarkan data yang bisa kita pegang keakuratannya," tandasnya.