Misteri Kematian Mahasiswa Amikom Setelah Demo di Yogyakarta: Kampus Selidiki Penyebabnya
Kampus Amikom Yogyakarta selidiki penyebab kematian seorang mahasiswa, Rheza Sendy Pratama, yang meninggal setelah demo di Yogyakarta. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sebuah kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Yogyakarta setelah seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu (1/9) lalu. Kematian Rheza terjadi setelah ia sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito.
Informasi awal menyebutkan bahwa Rheza sebelumnya ikut serta dalam sebuah demonstrasi yang berlangsung di kota Yogyakarta, sebagaimana diungkapkan oleh Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-DIY melalui akun Instagram mereka. Kejadian ini memicu pertanyaan dan desakan untuk penyelidikan lebih lanjut.
Pihak Universitas Amikom Yogyakarta sendiri telah menyatakan komitmennya untuk melakukan investigasi menyeluruh guna mengungkap penyebab pasti kematian mahasiswanya ini. Belum ada konfirmasi resmi mengenai keterkaitan langsung antara demonstrasi dan kondisi kesehatan Rheza yang memburuk.
Investigasi Kampus dan Keterangan BEM
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Amikom Yogyakarta, Ahmad Fauzi, menegaskan bahwa pihak kampus belum dapat memberikan keterangan pasti terkait penyebab kematian Rheza Sendy Pratama. "Kami belum mengetahui secara pasti kronologinya. Kami tidak bisa mengonfirmasi apa pun sampai investigasi dilakukan," ujar Fauzi, menambahkan bahwa informasi mengenai kematian Rheza baru diterima pada Minggu sore.
Senada dengan pernyataan Wakil Rektor, Ketua BEM Universitas Amikom, Alfito Afriansyah, juga mengungkapkan ketidakpastian mengenai aktivitas Rheza sebelum meninggal. Alfito menyatakan bahwa kronologi lengkap kegiatan Rheza masih belum jelas, sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran utuh.
BEM Amikom Yogyakarta saat ini sedang aktif mengumpulkan informasi terkait dugaan partisipasi Rheza dalam demonstrasi. "Kami terus mengumpulkan data dan berharap dapat menyusun gambaran yang lebih jelas mengenai peristiwa ini," tambah Alfito, menunjukkan upaya kolaboratif dalam mencari kebenaran.
Konfirmasi Rumah Sakit dan Situasi Keamanan
RSUP Dr. Sardjito mengonfirmasi bahwa Rheza Sendy Pratama memang sempat dirawat di fasilitas mereka sebelum meninggal dunia. Namun, pihak rumah sakit tidak dapat merinci apakah kondisi Rheza terkait langsung dengan demonstrasi yang diikutinya. "Ya, pasien dirawat di sini, tapi kami tidak bisa mengonfirmasi apakah itu karena demonstrasi," jelas Banu Hermawan, Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr. Sardjito.
Hingga laporan ini disusun, Kepolisian Daerah (Polda) DIY belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penyebab kematian Rheza atau hubungannya dengan demonstrasi. Namun, sebelumnya, Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol. Ihsan melaporkan adanya kerusuhan yang terjadi di markas kepolisian pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari.
Kerusuhan tersebut melibatkan sekitar 50 individu yang mulai melemparkan batu, petasan, dan bom molotov pada pukul 21.40 WIB, yang kemudian memicu eskalasi ketegangan. Bentrokan semakin intensif setelah warga sekitar ikut terlibat, meningkatkan jumlah massa menjadi sekitar 500 orang. Kerusuhan berlanjut hingga pukul 06.00 WIB, ketika personel TNI dan polisi berhasil membubarkan perusuh. Puluhan orang, termasuk pelajar, ditahan dan disita senjata tajam serta dua bom molotov. Enam orang terluka, terdiri dari lima demonstran dan satu petugas.
Sumber: AntaraNews