Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023, meninggal dunia usai mengikuti aksi demonstrasi di Polda DIY pada Sabtu (30/9) malam hingga Minggu (31/8) pagi.
Ayah Rheza, Yoyon Surono, menceritakan awal mula dirinya mendapat kabar dari tetangga yang mengantarkan KTP milik anaknya pada Minggu (31/8) pagi. Saat itu, tetangganya memberi tahu bahwa Rheza sudah berada di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
"Katanya kena gas air mata. Gapapa itu di Sardjito. Saya ke sana ternyata sudah terbujur begitu," kata Yoyon di rumah duka, Dusun Jaten, Desa Sendangadi, Kapanewon Mlati, Sleman.
Advertisement
Tubuh Penuh Luka
Yoyon mengaku masih mengingat jelas saat dirinya ikut memandikan jenazah putranya. Ia melihat tubuh Rheza dipenuhi memar dan luka.
"Yang jelas aku ikut mandiin. Sini (menunjuk bagian leher) itu kayak patah. Ada bekas injakan kaki sepatu PDL (sambil menunjuk bagian perut samping sebelah kanan). Ada sayatan kayak bekas digebuk. Kaki, tangan lecet. Punggung lecet," ungkapnya dengan suara berat.
Ia menambahkan kondisi wajah hingga kepala anaknya pun rusak parah.
"Yang bocor sebelah sini (menunjuk bagian dahi kanan). Muka, badan, rambut gak karuan," sambungnya.
Advertisement
Tolak Otopsi, Anggap Musibah
Meski penuh tanda tanya, pihak keluarga menolak dilakukan otopsi terhadap jenazah Rheza. Bagi mereka, kematian ini diterima sebagai takdir.
"Tidak ada otopsi. Saya tidak mau. Dari keluarga pasrah, apapun yang terjadi itu musibah. Makanya kami gak mau otopsi," tegas Yoyon.
Rheza dimakamkan dengan suasana duka mendalam di kampung halamannya. Kepergiannya menyisakan pilu, meninggalkan tanya, sekaligus seruan agar tragedi serupa tidak lagi terulang.