Maha Menteri Tegaskan Penobatan Dua Raja Surakarta Belum Sah, Ini Alasannya
Ia merujuk pada penobatan KGPH Purboyo saat pemakaman PB XIII pada Rabu (5/11) serta penobatan KGPH Mangkubumi yang berlangsung Kamis (13/11).
Maha Menteri Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan menyayangkan munculnya dua pihak yang telah menobatkan diri sebagai Paku Buwono XIV. Ia merujuk pada penobatan KGPH Purboyo saat pemakaman PB XIII pada Rabu (5/11) serta penobatan KGPH Mangkubumi yang berlangsung Kamis (13/11).
Tedjowulan juga enggan menanggapi munculnya raja kembar. Baik KGPH Mangkubumi yang dinobatkan oleh adik PB XII, GRAy Koes Murtiyah Wandansari dan kubu GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani yang menobatkan adiknya, KGPH Purboyo.
"Siapa yang bilang ada dualisme (raja kembar) ? Biar urusan sana. Sebetulnya kalau penobatan itu nanti kan duduk di dampar (singgasana). Sing nobatke iki sopo, leluhure opo eyang e sopo, piyayi sepuh sopo (yang menobatkan siapa, leluhurnya eyangnya siapa, yang dituakan siapa). Lembaganya sudah ada, sebetulnya gitu loh,” ujar Tedjowulan di Sekretariat Maha Menteri Jalan Dr Moewardi Solo, Kamis (13/11) malam.
Pernah menjadi raja kembar
Pria yang juga pernah menjadi raja kembar saat PB XII wafat tahun 2004 menceritakan kondisinya saat itu.
"Saya dulu inget kan ? Saya dulu jadi si Susuhunan Paku Buwono XIII, inget nggak ? Siapa yang menobatkan saya ? Ada 3 pengageng waktu itu, pengageng siapa ? Sri Susuhunan Paku Buwono XII. Lah ini siapa ? Ini belum ada, belum ada penobatan apa-apa kok," tegasnya.
Tedjowulan menegaskan, deklarasi yang dilakukan Mangkubumi maupun Purboyo belum sah. Ia berharap, penobatan dilakukan setelah 40 hari wafatnya Paku Buwono XIII.
"Belum sah, belum sah. Ya belum sah begitu. Untuk menyikapi itu saya tetap akan berpedoman 40 hari. Saya nanti mesti akan bicara dengan siapapun juga," ujarnya.
Penobatan KGPH Mangkubumi sebagai PB XI
Juru bicara Maha Menteri Panembahan Agung Tedjowulan, Kanjeng Pakoenegoro menambahkan, penobatan KGPH Mangkubumi sebagai PB XIV, Kamis siang dibacakan oleh GRAy Koes Murtiyah Wandansari alias Gusti Moeng.
"Jadi tadi posisinya kemudian ketika Gusti Hangabehi (nama lain Mangkubumi) duduk menghadap ke utara Panembahan Agung duduk di kursi menghadap ke selatan itu kemudian di sebelahnya Gusti Hangabehi ada Gusti Wandansari. Gusti Wandansari inilah yang membacakan pengukuhan sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Narendra Kaping Pitu. Panembahan Agung hanya duduk dan tidak berkata apa-apa,” katanya.