KGPA Tedjowulan Soal Penobatan KGPH Mangkubumi Jadi Raja Baru: Saya Tidak Tahu Rencana Itu, tapi Tak Bisa Menolak
KGPA Tedjowulan mengaku hadir di dalam rapat itu, namun ia tak tahu ada rencana penobatan KGPH Mangkubumi jadi raja baru.
Penobatan KGPH Mangkubumi sebagai Raja Surakarta Paku Buwono (PB) XIV mengejutkan banyak orang, termasuk Maha Menteri KGPA Tedjowulan.
Pensiunan Kolonel TNI itu mengaku tidak tahu jika akan ada penobatan Mangkubumi sebagai raja baru Keraton Kasunanan Surakarta. Sebab, memang tidak ada rencana itu.
Pada awalnya, ia sengaja mengumpulkan sejumlah kerabat keraton. Selain putra putri PB XII, keturunan PB XIII juga diundang dalam rapat tersebut. Namun tanpa disangka mendadak dirinya dimintai restu oleh KGPH Mangkubumi untuk menjadi PB XIV.
“Intinya pertemuan Kamis siang itu, saya mengundang para putra-putri dalem Paku Buwono XII dan Paku Buwono XIII, untuk berembug, berbicara tentang masa depan keraton,” ujar Tedjowulan di Sekretariat Maha Menteri Jalan Dr Moewardi Solo, Kamis (13/11) malam.
Yang mengejutkan, setelah acara tersebut, ia tiba-tiba diminta menjadi saksi dan menyaksikan pengobatan Mangkubumi sebagai PB XIV.
“Selesai rapat, saya tahu-tahu dimintai untuk jadi saksi. Jadi nyekseni (jadi saksi), ada pengikraran penobatan menjadikan Hangabehi Mangkubumi jadi pewaris PB XIII. Jadi sebagai Pangeran Pati dan gelarnyarnya dan seterusnya dan seterusnya,” ungkap dia.
Tidak Tahu, tapi Tak Bisa Menolak
Tedjowulan menegaskan jika dirinya tidak mengetahui rencana penobatan tersebut. Namun karena sudah di hadapan banyak orang, ia mengaku tidak bisa menolak memberikan restu untuk keponakannya.
“Jadi saya ini tidak tahu, ada agenda gitu (penobatan PB XIV). Tapi kan sudah di depan orang banyak, ya wong mau dimintai restu, disungkemi dan sebagainya. Ya saya ini kan orang tua, jadi ya piyayi sepuh disungkemi, disuwuni pengestu, ya sudah saya pengestuni (restui) saja,” katanya.
Meski memberikan restu, Tedjowulan bersikukuh bahwa dirinya tidak mengetahui akan adanya penobatan raja baru.
“Tapi saya prinsipnya saya nggak ngerti kalau acara itu ada, ada tambahan acara gitu. Nah, setelah itu selesai, salaman-salaman, sudah selesai saya, sampun,” ucapnya.
Rencana Awal Rapat
Dikatakan Tedjowulan, seharusnya rapat di Sasana Handrawina tersebut untuk berembug dengan para putra-putri PB XII dan PB XIII tentang masa depan Keraton. Dirinya juga tidak ingin tergesa-gesa dalam menobatkan PB XIV.
“Intinya kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan agar dapat menahan diri, melakukan koordinasi rapat dan rembug keluarga dengan Maha Menteri Tedjowulan, sesuai aturan adat dan tatanan keraton,” terangnya.
Tedjowulan menyayangkan penobatan KGPH Mangkubumi dilakukan terburu buru. Padahal pada kesempatan sebelumnya ia sudah mewanti wanti agar penobatan raja baru dilakukan setelah 40 hari meninggalnya PB XIII.
“Kenapa kok harus tergesa-gesa seperti Itu. Kan sudah sampaikan dari awal saya waktu di Loji Gandrung itu 40 hari lah minimal seperti itu. Tapi mungkin nggak sabar dan sebagainya,” katanya lagi.
Rapat keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Sasana Handrawina, Kamis kemarin, menyepakati nama KGPH Mangkubumi alias Hangabehi sebagai Paku Buwono (PB) XIV. Rapat yang dipimpin Tedjowulan dihadiri kerabat dan abdi dalem.
Penobatan Diklaim Disetujui Peserta Rapat
Adik PBXIII, GRAy Koes Murtiyah Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng membenarkan ihwal penobatan Hangabehi menjadi PB XIV. Penobatan tersebut disetujui oleh para peserta rapat yang hadir.
"Ya penobatan Paku Buwono ke-14 yang mana kami sendiri sebetulnya juga kaget waktu kejadian yang waktu nutup peti itu (penobatan diri KGPH Purboyo sebagai PB XIV saat penutupan peti jenazah PB XIII) kok tiba-tiba melangkah seperti itu," ujar Gusti Moeng saat ditemui seusai rapat.
Gusti Moeng mengungkapkan, penobatan Hangabehi menjadi PB XIV karena dia anak tertua PB XIII. Terlebih PB XIII juga tidak mengangkat permaisuri dari ketiga istrinya. Jika ada permaisuri dan pengangkatan putra mahkota, itu dianggapnya sebagai rekayasa.