DPR Minta Kapolri Cari Orang Hilang Usai Demo Agustus
Menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional warga negara.
Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Demokrat, Benny K. Harman, mendesak Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera membebaskan para pendemo yang masih ditahan usai aksi demonstrasi besar pada akhir Agustus 2025.
Ia menegaskan bahwa menyampaikan pendapat di muka umum merupakan hak konstitusional warga negara.
"Saya minta Kapolri, untuk pertama: bebaskan semua tahanan yang terlibat dalam kasus aksi demonstrasi akhir Agustus lalu," ujar Benny dalam keterangannya, Selasa (16/9).
Selain itu, dia menyoroti laporan masih adanya orang hilang pascaaksi unjuk rasa tersebut. Ia menuntut kepolisian segera bertindak cepat dan transparan untuk mengusut keberadaan mereka.
"Kedua, menemukan sampai dapat orang-orang yang hingga sekarang ditengarai masih hilang," tegasnya.
Benny juga menilai pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) independen oleh Komnas HAM patut didukung.
Menurutnya, tim tersebut dapat bekerja secara obyektif untuk mengungkap akar kerusuhan sekaligus mengidentifikasi kemungkinan adanya pihak yang menunggangi aksi.
"Ketiga, Tim Pencari Fakta harus mengungkapkan secara obyektif apa yang memicu aksi kekerasan dan kelompok-kelompok yang menunggangi," ucapnya.
Ia menegaskan, DPR akan memperkuat fungsi pengawasan terhadap kerja TPF independen agar hasilnya bisa memberikan kepastian hukum sekaligus keadilan bagi masyarakat.
“DPR akan lebih membuka diri dan menjalankan fungsi pengawasan terhadap kerja Tim Pencari Fakta independen," jelas Benny.
Sebelumnya, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra menyampaikan bahwa dari sekitar 5.000 orang yang diamankan saat aksi, sebanyak 4.800 telah dipulangkan. Namun, masih ada 583 orang ditahan karena diduga kuat melakukan tindak pidana.
Sementara itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mencatat masih ada tiga orang yang hilang hingga kini.
Mereka adalah Bima Permana Putra yang terakhir terlihat di kawasan Glodok, Jakarta Barat, serta Muhammad Farhan Hamid dan Reno Syaputradewo yang terakhir berada di sekitar Kwitang, Jakarta Pusat.