Di Tengah Bencana Aceh, Tim Medis UGM Layani Ribuan Korban Tanpa Henti
Hingga awal Januari 2026, lebih dari 4.000 korban bencana telah mendapatkan penanganan medis dari tim AHS UGM di dua daerah tersebut.
Tim medis Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Academic Health System (AHS) UGM dikerahkan ke wilayah terdampak bencana di Aceh Utara dan Bener Meriah sejak Desember 2025. Hingga awal Januari 2026, lebih dari 4.000 korban bencana telah mendapatkan penanganan medis dari tim AHS UGM di dua daerah tersebut.
Dalam membantu penanganan korban bencana di Aceh, AHS UGM menerjunkan enam tim secara berurutan untuk menjalankan misi asesmen, manajemen kedaruratan, dan pelayanan medis.
Keterlibatan ini melibatkan tenaga kesehatan lintas disiplin dari FK-KMK UGM, Rumah Sakit Akademik (RSA), serta jejaring rumah sakit seperti RSUP Dr. Sardjito, RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro, RS Mata Dr. YAP, RSUD Sleman, dan RSUD Wates, dengan dukungan penuh dari Fakultas Farmasi UGM.
Memberikan Pengobatan
Ketua Tim Kesehatan AHS UGM, Sudadi, menjelaskan bahwa peran tim bukan sekadar memberikan pengobatan, melainkan menjadi penghubung antara layanan klinis dan penguatan sistem kesehatan di wilayah terdampak.
"Pendekatan kami dirancang untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan sejak fase darurat hingga transisi pemulihan. Melalui mekanisme penugasan berbasis batch, kami menjaga kesinambungan layanan di lapangan," ujar Sudadi, Selasa (13/1).
Hingga 2 Januari 2026, respons AHS UGM telah mencapai tujuh batch pelayanan dengan rata-rata 17 tenaga kesehatan per tim. Total penerima manfaat mencapai sedikitnya 4.127 warga di Aceh Utara dan Bener Meriah.
Pemeriksaan Kesehatan
Layanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan, layanan farmasi, kesehatan ibu dan anak, hingga kunjungan mobile clinic dan pendampingan psikososial.
Salah satu capaian krusial dalam misi ini adalah peran AHS UGM dalam mendukung penguatan infrastruktur kesehatan. Tidak hanya menangani pasien, tim juga turun tangan dalam perbaikan sarana penunjang seperti instalasi listrik, genset, dan sanitasi di fasilitas kesehatan yang terdampak.
AHS UGM turut berperan vital dalam aktivasi kembali operasional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muchtar Hasbi yang sempat lumpuh akibat bencana, serta mendukung aktivasi Health Emergency Operation Center (HEOC) Kabupaten Aceh Utara.
"Langkah ini memastikan dampak intervensi tidak berhenti pada fase darurat saja. Dengan fasilitas yang kembali berfungsi, rujukan pasien dan pemantauan kesehatan masyarakat dapat berjalan optimal kembali," tambah Sudadi.
Menjembatani Praktik Medis
Seluruh data dan pengalaman lapangan yang diperoleh di Aceh diintegrasikan ke dalam ekosistem respons kebencanaan berbasis pengetahuan yang dikembangkan UGM. Hal ini memposisikan AHS UGM sebagai simpul yang menjembatani praktik medis di lapangan dengan perumusan kebijakan kesehatan pascabencana.
Pengalaman menghadapi bencana hidrometeorologi di Aceh ini menjadi pembelajaran penting bagi UGM untuk terus mengembangkan model layanan kesehatan kebencanaan yang tangguh.
"Kontribusi ini menegaskan peran UGM dalam mendukung penguatan sistem kesehatan nasional, terutama dalam kesiapsiagaan menghadapi situasi kritis di masa depan," katanya.