Satgas PRR Perkuat Layanan Kesehatan Pascabencana dengan Mobilisasi Ribuan Relawan di Wilayah Terdampak
Satgas PRR terus memperkuat layanan kesehatan pascabencana di Sumatera dengan memobilisasi ribuan relawan dan memulihkan fasilitas kesehatan, memastikan akses masyarakat tetap terjaga.
Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera secara aktif memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak. Upaya ini dilakukan melalui mobilisasi ribuan relawan tenaga kesehatan di tiga provinsi utama yang terkena dampak bencana. Langkah strategis ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat di masa pemulihan.
Menurut rilis dari Satgas PRR dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Minggu, total relawan yang dimobilisasi mencapai 6.525 orang. Mereka tersebar di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), menunjukkan skala komitmen dalam penanganan pascabencana. Penempatan relawan ini krusial untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit akses dan pos pengungsian.
Fokus utama penempatan relawan adalah di lima kabupaten terdampak di Aceh yang memiliki keterbatasan akses, seperti Aceh Tamiang dan Pidie Jaya. Kehadiran para relawan ini menjadi pilar penting dalam menjaga keberlangsungan layanan kesehatan dasar. Ini sekaligus mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang sedang berjalan di wilayah tersebut.
Mobilisasi Ribuan Relawan Tenaga Kesehatan
Satgas PRR telah memobilisasi total 6.525 relawan untuk memperkuat layanan kesehatan di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera. Relawan ini terdiri dari 5.734 orang di Aceh, 286 orang di Sumatera Utara, dan 505 orang di Sumatera Barat. Jumlah signifikan ini menunjukkan respons cepat dan terkoordinasi dalam penanganan darurat kesehatan.
Khusus di Aceh, penguatan tenaga kesehatan dilakukan secara masif melalui skema Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK). Sebanyak 1.792 relawan TCK telah tergabung dalam lima gelombang penugasan untuk memperkuat layanan. Mereka ditempatkan di daerah sulit jangkau, pos pengungsian yang masih tersisa, serta fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Penempatan relawan difokuskan pada lima kabupaten terdampak yang memiliki keterbatasan akses, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Utara, Gayo Lues, dan Pidie Jaya. Batch ke-5 relawan TCK, berjumlah 171 orang, mulai bertugas pada 15 Februari 2026 hingga 28 Februari 2026. Fokus mereka adalah memperkuat pelayanan kesehatan primer dan mendukung operasional fasilitas kesehatan yang terdampak.
Pemulihan Infrastruktur dan Fasilitas Kesehatan
Selain penguatan tenaga kesehatan, Satgas PRR juga mencatat perkembangan signifikan pada fasilitas kesehatan (faskes) yang terdampak bencana. Per 26 Februari 2026, total 414 unit faskes terdampak di tiga provinsi telah berfungsi kembali. Rinciannya adalah 146 unit di Aceh, 119 unit di Sumatera Utara, dan 149 unit di Sumatera Barat.
Dalam perkembangan terbaru, dua puskesmas yang sebelumnya beroperasi di luar gedung akibat kerusakan kini telah menggunakan puskesmas modular. Puskesmas modular ini selesai dibangun dan diresmikan pada 13 Februari 2026. Keberadaan fasilitas modular ini memungkinkan pelayanan kesehatan kembali optimal.
Kedua puskesmas tersebut adalah Puskesmas Lokop di Desa Lokop, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Aceh Timur, dan Puskesmas Jambur Lak Lak di Desa Jambur Lak Lak, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara. Dengan beroperasinya puskesmas modular ini, masyarakat di wilayah tersebut dapat kembali mengakses layanan kesehatan secara lebih memadai.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Percepatan Pemulihan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pemulihan layanan kesehatan pascabencana. Kolaborasi ini dianggap kunci untuk mengatasi tantangan kompleks yang muncul setelah bencana. Sinergi antarlembaga pemerintah dan pihak terkait sangat dibutuhkan.
Menteri Budi Gunadi Sadikin menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atas kecepatan pembangunan puskesmas modular. “Kami berterima kasih kepada Kementerian PUPR yang telah membangun Puskesmas ini dengan sangat cepat,” ujarnya. Ini menunjukkan efektivitas kerja sama antar kementerian.
Beliau menambahkan bahwa kolaborasi lintas sektor semacam ini sangat penting agar layanan kesehatan masyarakat dapat segera pulih. Ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai merupakan prioritas utama. Hal ini untuk memastikan masyarakat terdampak bencana mendapatkan dukungan kesehatan yang optimal.
Sumber: AntaraNews