Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memberangkatkan ratusan dokter dan tenaga kesehatan (nakes) relawan untuk membantu penanganan dampak bencana di sejumlah wilayah di Aceh. Wilayah Aceh menjadi fokus utama karena mengalami dampak paling besar akibat banjir yang terjadi baru-baru ini.
Pemberangkatan tim relawan ini merupakan bagian dari upaya Kemenkes untuk memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Tim relawan terdiri dari berbagai profesi medis yang siap mengabdikan diri secara sukarela di lokasi bencana.
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) dr. Yuli Farianti menjelaskan bahwa tim ini akan ditempatkan di rumah sakit, puskesmas, dan posko pengungsian. Penempatan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, sebagai wujud semangat gotong royong dan nilai kemanusiaan.
Advertisement
Advertisement
Tim relawan yang diberangkatkan Kemenkes sangat beragam, mencakup dokter spesialis mata, bedah, neurologi, anak, serta dokter umum. Selain itu, ada juga perawat, bidan, tenaga gizi, tenaga laboratorium, radiografer, dan ahli kesehatan lingkungan.
Tidak hanya itu, tim ini juga diperkuat oleh epidemiolog, psikolog klinis, dan psikiater. Mereka difokuskan pada layanan trauma healing, khususnya di posko pengungsian, mengingat pentingnya pemulihan mental pascabencana.
Fokus utama penugasan saat ini berada di Provinsi Aceh karena dampaknya paling besar, namun Kemenkes juga berencana melanjutkan bantuan ke Sumatera Barat, khususnya Agam, dan Sumatera Utara. Koordinasi terpusat dilakukan untuk memastikan distribusi relawan lebih merata.
Advertisement
Tujuannya adalah agar tidak ada daerah yang kelebihan atau kekurangan tenaga, sehingga seluruh wilayah terdampak mendapatkan layanan kesehatan yang adil dan sesuai kebutuhan masyarakat. Ini menunjukkan komitmen Kemenkes dalam penanganan bencana.
Advertisement
Pada hari ini, sebanyak 126 relawan diberangkatkan ke wilayah dengan tingkat kesulitan tinggi seperti Bener Meriah, Takengon, Aceh Utara, dan Gayo Lues. Beberapa daerah tersebut bahkan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki, menunjukkan dedikasi para relawan.
Sebelumnya, 70 relawan telah bertugas di Aceh dan Medan, dan Kemenkes akan memberangkatkan 207 relawan pada tahap berikutnya. Selanjutnya, 87 relawan akan menyusul, sehingga total relawan yang dikerahkan hingga 22 Desember 2025 diperkirakan mencapai sekitar 600 orang.
Salah satu relawan, dokter spesialis mata dari RS Cicendo Bandung dr. Chani Sinaro Putra, menyampaikan kesiapan tim dalam menghadapi kondisi lapangan. “Persiapan kami tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Kami sudah mempelajari kondisi medan dan masyarakat di lokasi, termasuk kemungkinan penyakit atau kondisi medis yang akan ditemui,” ujarnya.
Advertisement
Dokter spesialis saraf dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dr. Desin Pambudi juga menekankan pentingnya layanan neurologi di situasi bencana. Ia menjelaskan bahwa pasien dengan pengobatan rutin seperti stroke, hipertensi, atau diabetes sangat rentan jika pengobatan terhenti akibat terputusnya akses kesehatan.
Advertisement
Para relawan yang diberangkatkan berasal dari gabungan berbagai rumah sakit terkemuka di Indonesia. Mereka datang dari rumah sakit pusat, rumah sakit daerah, hingga rumah sakit swasta.
Beberapa di antaranya adalah RSUP Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Sardjito, RSUP Persahabatan, RSJ Marzoeki Mahdi, dan RS Cicendo. Rumah sakit swasta seperti Siloam dan Hermina juga turut berkontribusi dalam misi kemanusiaan ini.
dr. Yuli Farianti menyampaikan apresiasinya atas pengabdian para relawan pada kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga mental masyarakat terdampak.
Advertisement
Dengan dukungan penuh dari Kemenkes dan kolaborasi berbagai pihak, diharapkan penanganan dampak bencana di Aceh dan wilayah lainnya dapat berjalan optimal. Upaya ini bertujuan untuk mempercepat pemulihan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Sumber: AntaraNews