Cerita Para Pedagang di Kota Denpasar Alami Kerugian Puluhan Juta Akibat Banjir
Sejumlah pedagang mengaku banjir kali adalah yang terbesar dan terparah selama mereka berjualan.
Dampak banjir besar di wilayah Kota Denpasar, Bali, merusak sejumlah ruko dan barang dagangan warga serta fasilitas infrastruktur lainnya.
Seperti yang terjadi di Jalan Sulawesi, Denpasar, sekitar dua ruko dihancurkan oleh alat pemberat karena sudah rusak diterjang banjir bandang yang meluap dari sungai atau Tukad Badung, Bali.
Deretan ruko tekstil tersebut, berada di kawasan bantaran Tukad Badung, dan dua ruko lainnya mengalami keretakan dan juga akan dihancurkan. Selain itu, kondisi bagian belakang ruko juga ambruk, barang-barang berserakan bercampur dengan material bangunan. Sementara, ruko-roko lainnya di yang berderet di Jalan Sulawesi, para pedagang juga sedang sibuk membersihkan barang-barang dagangan yang terkena banjir.
Salah satu pedagang atau pemilik ruko tekstil di kawasan Jalan Sulawesi, bernama Muhammad mengatakan, bahwa untuk kerugian bisa mencapai puluhan juta karena banyak barang dagangannya yang rusak akibat diterjang banjir.
"Paling banyak yang kena banjir baju kebaya. Ini banjir sama lumpur, jadi itu ada kerugian. Iya ada sampai puluhan juta, barang-barangnya soalnya kan agak mahal," kata dia saat ditemui di rukonya, pada Kamis (11/9) sore.
Ia menerangkan, bahwa dirinya telah berjualan sejak puluhan tahun di ruko miliknya. Pada saat kejadian banjir pada Rabu (10/9) kemarin, dia baru mengetahui pada pukul 04:00 WITA pagi dan bergegas menuju rukonya karena saat itu dia berada di rumahnya.
"Jam empat pagi itu, air sudah sampai sepinggang. Iya saya takut pada saat kejadian itu. Selama saya umur 62 tahun lahir di sini, nggak pernah terjadi musibah kayak begini. Baru pertama kali ini. Orang-orang tua yang di belakang juga, sudah umur tua juga, dia bilang baru kali ini mengalami," ungkapnya.
Untuk hari ini, dirinya mengaku hanya fokus membersihkan rukonya yang kemasukan air dan lumpur dan tidak berjualan untuk sementara waktu.
"Harapannya, semoga aliran sungai mungkin lebih bisa diperhatikan. Karena itu kan kita terima buangan air dari sana. Itu sajalah," ujarnya.
Sementara, hal yang sama juga dirasakan oleh Amatullah Rafiqa, dia terlihat membersihkan ruko tekstilnya yang kemasukan lumpur hingga air dan menjemur barang dagangan yang masih basah terkena banjir. Namun, dirinya tetap bersyukur kendati barang-barang jualannya rusak dia dan keluarganya selamat dari terjangan banjir.
"Yang penting kita syukur sama Tuhan, bahwa kita semua selamat. Memang kalau barang, ada yang rusak. Karena air kotor itu masuk, ada lumpurnya. Tapi itu kita nggak bisa melawan kehendak Tuhan," ujarnya.
"Yang penting kita bisa mengatasi. Dan kita doakan orang-orang supaya selamat semua. Memang barangnya banyak rusak karena ini kejadiannya antara jam 3 sampai jam 4 (dini hari)," ucapnya.
Ia mengatakan, bahwa dirinya telah berjualan di ruko miliknya sejak tahun 1973 dan untuk kerugian di rukonya diperkirakan mencapai puluhan juta.
"(Kerugian) Iya perkiraan puluhan juta. Saya belum bisa buka (ruko). Dari kemarin kita masih bersih-bersih, lumpurnya banyak. Belum bisa jualan, belum bisa apa-apa," jelasnya.
Ia juga menyampaikan, bahwa selama dirinya berdagang di Jalan Sulawesi, pernah kejadian banjir itu sekitar tahun 1989 tetapi tidak setinggi banjir tahun ini. Dan saat itu, masih pasar yang lama tidak seperti sekarang ini.
"Pertama kali tahun 1989 kejadian banjir juga. Itu datang dari kali, tapi itu tidak setinggi ini. Dan itu memang hujan, tapi dulu itu pasarnya masih pasar lama. Jadi kali meluap, pasarnya (kena banjir). Dan air kali masuk ke sini juga. Itu dari muka sampai ke belakang," jelasnya.
Pihaknya berharap pemerintah bisa bantu semua orang yang terdampak banjir di Kota Denpasar, dan khususnya di Bali. Jadi sedih juga, prihatin juga, sampai doa juga. Karena kita ini semua saudara. Kita semua di Bali ini saudara," ujarnya.
Sementara, situasi yang sama juga terjadi di Pasar Kumbasari, Kota Denpasar, yang jaraknya tidak begitu jauh dari Jalan Sulawesi. Di lantai satu banyak kios-kios yang menjajakan pakaian maupun kerajinan khas Bali yang tutup tidak berjualan seperti biasanya.
Selain itu, sejumlah pedagang juga ada yang sibuk membersihkan kiosnya karena kemasukan air maupun lumpur dan menjemur barangnya yang basah karena diterjang banjir. Sementara, di halaman Pasar Kumbasari yang biasa dilalui oleh warga masih tersisa lumpur berwarna coklat bekas banjir dan aliran Tukad Badung yang tepat di depan Pasar Kumbasari masih terlihat sejumlah sisa-sisa sampah karena dibawa arus.
Salah satu pedagang bernama Ibu Made mengaku akibat banjir dia mengalami kerugian cukup besar karena barang pakaiannya banyak yang rusak.
"(Kerugian) saya hampir 50 juta, lebih tuh," kata dia.
Ia menceritakan, bahwa saat kejadian banjir dia baru mengetahui sekitar pukul 07.00 pagi dan air sudah naik ke lantai satu dan tinggi membasahi barang-barang di kiosnya.
"Air sudah naik, sudah tinggi. Di sini sampai 5 senti meter. (Yang kena) baju-baju jualan di sini. Jam setengah 07:30 WITA, masih tinggi itu (airnya merendam basement). Saya akses lewat depan," ujarnya.
Ibu Made berjualan di Pasar Kumbasari sejak tahun 2016 dan sebelumnya dia berjualan di Pasar Badung, tetapi saat itu mengalami kebakaran dan akhirnya dia pindah ke Pasar Kumbasari.
"Pertama kali di sini setelah ke kebakaran di Pasar Badung itu 2016, saya tiga ruko habis. Dan di sini malah kebanjiran," ujarnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Ibu Gusti Ayu yang juga berjualan di Pasar Kumbasari, dan akibat banjir barang-barang pakaiannya banyak yang rusak di kios kecilnya.
"Ada yang rusak untuk kerugian sampai
Rp 10 juta itu ada. Saya bersih-bersih sejak pagi belum bisa berjualan. Saya di sini sudah 10 tahunan," ujarnya.
Ia berharap pemerintah bisa membantu para pedagang yang terdampak banjir di Pasar Kumbasari.
"Harapan kepada pemerintah supaya dibantu. Kalau barang tidak ada yang hilang tapi cuma rusak," ujarnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 17 orang meninggal dunia dan dua lainnya masih dalam pencarian akibat banjir terjadi di Provinsi Bali.