Tahukah Anda? 14 Jiwa Melayang, Ratusan Mengungsi Akibat Banjir Bali: Data Terkini BNPB Ungkap Dampak Bencana

Tragedi Banjir Bali menelan 14 korban jiwa dan ratusan warga terpaksa mengungsi. Simak data terkini dari BNPB mengenai dampak dan upaya penanganan bencana alam ini di Pulau Dewata.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? 14 Jiwa Melayang, Ratusan Mengungsi Akibat Banjir Bali: Data Terkini BNPB Ungkap Dampak Bencana
Tragedi Banjir Bali menelan 14 korban jiwa dan ratusan warga terpaksa mengungsi. Simak data terkini dari BNPB mengenai dampak dan upaya penanganan bencana alam ini di Pulau Dewata. (Merdeka.com)

Banjir dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten serta kota di Provinsi Bali, menyebabkan dampak serius bagi masyarakat setempat. Data terkini dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan 14 orang meninggal dunia. Ratusan warga juga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman akibat bencana banjir Bali ini.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan informasi ini di Jakarta pada Kamis. Bencana ini merupakan akibat curah hujan tinggi yang memicu genangan air dan pergerakan tanah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi keselamatan warga Pulau Dewata yang terdampak banjir dan longsor di Bali.

Tim petugas gabungan saat ini masih terus berupaya melakukan tanggap darurat. Mereka fokus pada pencarian korban hilang dan evakuasi warga terdampak. Selain itu, upaya pengendalian banjir dan longsor juga menjadi prioritas utama. Penanganan cepat sangat dibutuhkan untuk memulihkan kondisi pasca banjir Bali.

Sebaran Korban dan Pengungsi Akibat Banjir Bali

Korban jiwa terbanyak akibat bencana banjir Bali ini tercatat di Kota Denpasar, dengan delapan jiwa meninggal dunia. Selanjutnya, Kabupaten Gianyar melaporkan tiga jiwa, Jembrana dua jiwa, dan Badung satu jiwa. Angka ini menunjukkan sebaran dampak yang signifikan di berbagai wilayah.

Selain korban meninggal, BNPB juga mengkonfirmasi adanya dua warga yang masih hilang. Keduanya teridentifikasi berada di Kota Denpasar, menjadi fokus utama dalam operasi pencarian. Tim SAR terus bekerja keras menemukan mereka di tengah kondisi yang menantang.

Sebanyak 562 orang warga terpaksa mengungsi ke sejumlah titik penampungan sementara. Dari jumlah tersebut, 327 warga berasal dari Jembrana dan 235 warga dari Denpasar. Para penyintas memanfaatkan fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, mushola, dan banjar sebagai lokasi pengungsian.

Kondisi pengungsian menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan lembaga terkait. Mereka memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi. Bantuan logistik terus disalurkan untuk meringankan beban para korban bencana.

Titik Banjir dan Longsor Terparah di Pulau Dewata

Hasil asesmen tim reaksi cepat BPBD Bali menunjukkan adanya lebih dari 120 titik banjir di Pulau Dewata. Kota Denpasar menjadi wilayah dengan lokasi terbanyak, mencapai 81 titik. Ini menunjukkan skala bencana yang cukup luas di ibu kota provinsi tersebut.

Wilayah lain yang juga terdampak parah meliputi Kabupaten Gianyar dengan 14 titik banjir, Badung 12 titik, dan Tabanan delapan titik. Kabupaten Karangasem dan Jembrana masing-masing melaporkan empat titik. Di Klungkung, banjir berdampak signifikan di Kecamatan Dawan.

Selain banjir, tanah longsor juga dilaporkan terjadi di 18 titik berbeda. Rinciannya adalah 12 titik di Karangasem, lima titik di Gianyar, dan satu titik di Badung. Kejadian longsor ini menambah kompleksitas penanganan bencana di Bali.

Untuk mendukung pelayanan di lokasi pengungsian dan penanganan bencana, BNPB telah menyalurkan berbagai bantuan. Bantuan tersebut meliputi 200 lembar selimut, 200 matras, 300 paket sembako, dan 50 unit tenda keluarga. Selain itu, ada juga dua unit tenda pengungsi, satu unit perahu karet dengan mesin, serta tiga unit pompa air.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi