BNPB Minta Operasi SAR Banjir Longsor Sumut Berlangsung 24 Jam Nonstop
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendesak operasi SAR Banjir Longsor Sumut dilakukan 24 jam penuh untuk mempercepat penanganan korban di wilayah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meminta agar operasi pencarian dan pertolongan (SAR) di wilayah Sumatra Utara yang terdampak banjir dan tanah longsor dilaksanakan selama 24 jam tanpa henti. Permintaan ini bertujuan untuk mempercepat proses penanganan dan penemuan korban yang masih hilang akibat bencana alam tersebut. Fokus utama operasi SAR ini berada di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, di mana laporan mengenai warga yang belum ditemukan masih terus diterima.
Kepala BNPB, Suharyanto, dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta pada hari Sabtu, menegaskan pentingnya upaya maksimal dalam pencarian korban. Operasi SAR ini dipimpin oleh Basarnas dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), serta para relawan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan jangkauan dan efektivitas tim di lapangan.
Hingga Jumat (28/11), BNPB melaporkan bahwa bencana di Sumatra Utara telah menyebabkan 116 korban meninggal dunia, dengan 42 orang lainnya masih dalam pencarian. Angka ini menjadikan Sumatra Utara sebagai daerah dengan jumlah korban terbanyak dibandingkan dengan Aceh dan Sumatera Barat. Tim SAR gabungan terus berupaya memperluas area pencarian, meskipun menghadapi tantangan berat seperti akses jalan yang terhambat longsor dan putusnya jaringan komunikasi di beberapa titik.
Fokus Operasi Pencarian dan Data Korban
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) difokuskan pada wilayah-wilayah yang paling parah terdampak dan masih melaporkan adanya korban hilang. Di Kota Sibolga, tiga orang dilaporkan masih dalam pencarian, sementara di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, sejumlah warga juga belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus bekerja keras untuk menyisir area-area tersebut, meskipun kondisi medan yang sulit menjadi tantangan utama.
BNPB mencatat bahwa total 116 korban meninggal dunia telah ditemukan hingga Jumat (28/11), dengan rincian yang menunjukkan tingkat keparahan di beberapa daerah. Data ini menunjukkan urgensi tinggi dalam upaya pencarian dan evakuasi. Sumatra Utara menjadi provinsi dengan jumlah korban jiwa tertinggi dibandingkan dengan provinsi tetangga yang juga terdampak bencana.
Rincian korban meninggal dunia per wilayah meliputi:
- Tapanuli Utara: 11 orang
- Tapanuli Tengah: 47 orang
- Tapanuli Selatan: 32 orang
- Kota Sibolga: 17 orang
- Humbang Hasundutan: 6 orang
- Kota Padang Sidempuan: 1 orang
- Pakpak Bharat: 2 orang
Angka-angka ini menjadi dasar bagi tim SAR untuk memprioritaskan area pencarian dan penanganan lebih lanjut.
Percepatan Distribusi Logistik dan Pemulihan Akses
Paralel dengan operasi SAR, BNPB juga mempercepat pendistribusian logistik bagi warga yang terdampak, terutama di wilayah-wilayah terisolasi. Beberapa desa di Tapanuli Tengah, misalnya, masih sulit dijangkau. Untuk mengatasi kendala ini, helikopter MI-17 dan dua helikopter pendukung lainnya telah disiagakan guna mengirimkan bantuan permakanan serta peralatan darurat ke lokasi-lokasi yang membutuhkan.
Akses jalan menuju Sibolga dari arah Tarutung dilaporkan masih belum dapat dilalui karena tertimbun material longsor di beberapa titik. Oleh karena itu, untuk memastikan bantuan dapat sampai dengan cepat, pendistribusian logistik ke Sibolga akan dilakukan melalui jalur laut. Kapal TNI Angkatan Laut akan digunakan untuk mengangkut bantuan melalui Pelabuhan Jago-jago, memastikan pasokan kebutuhan dasar tetap tersedia bagi masyarakat.
Selain bantuan kebutuhan pokok, BNPB juga berupaya memulihkan akses komunikasi di daerah terdampak. Unit satelit internet Starlink didistribusikan ke Tapanuli Tengah, Sibolga, dan Tapanuli Selatan. Langkah ini krusial untuk mengoptimalkan koordinasi penanganan tanggap darurat, memungkinkan tim di lapangan untuk berkomunikasi secara efektif dan melaporkan perkembangan situasi secara real-time.
Prioritas Penanganan dan Dukungan Logistik Berkelanjutan
BNPB menegaskan bahwa prioritas utama dalam penanganan bencana ini adalah keselamatan warga dan percepatan pemulihan daerah terdampak. Seluruh dukungan logistik, peralatan, serta kebutuhan permakanan terus dikirimkan melalui berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan yang masih sangat dinamis dan berubah-ubah.
Suharyanto, Kepala BNPB, secara tegas menyatakan, "Prioritas utama tetap pada keselamatan warga dan percepatan pemulihan daerah terdampak." Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam menghadapi situasi darurat ini. Upaya koordinasi dan mobilisasi sumber daya terus dilakukan untuk memastikan setiap warga terdampak mendapatkan bantuan yang diperlukan.
Dukungan logistik yang berkelanjutan menjadi kunci dalam mitigasi dampak bencana. BNPB memastikan bahwa pasokan bantuan akan terus mengalir, beradaptasi dengan kondisi di lapangan. Fleksibilitas dalam penggunaan moda transportasi dan strategi distribusi sangat penting untuk menjangkau seluruh korban, terutama mereka yang berada di lokasi terpencil dan sulit diakses.
Sumber: AntaraNews