Basarnas Kerahkan Personel ke Aceh-Sumut Lewat Laut, Akses Darat Terputus Akibat Bencana

Basarnas mengerahkan personel perbantuan ke Aceh dan Sumatera Utara melalui jalur laut menyusul terputusnya akses darat akibat banjir dan tanah longsor, memperkuat operasi SAR di wilayah terdampak.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Basarnas Kerahkan Personel ke Aceh-Sumut Lewat Laut, Akses Darat Terputus Akibat Bencana
Basarnas mengerahkan personel perbantuan ke Aceh, Sumut, dan Sumbar melalui jalur laut. Ini upaya mempercepat Bantuan Basarnas Aceh Sumut pasca banjir dan tanah longsor. (AntaraNews)

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) telah mengambil langkah cepat dengan mengerahkan personel perbantuan dari berbagai kantor SAR di luar daerah. Pengerahan ini bertujuan untuk memperkuat operasi pencarian dan evakuasi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa keputusan pengerahan melalui jalur laut diambil karena akses darat di sejumlah titik masih belum dapat dilalui. Hal ini merupakan hasil koordinasi setelah rapat terbatas di Kantor BNPB Jakarta pada Kamis, 27 November, untuk memastikan bantuan dapat sampai ke lokasi yang membutuhkan.

Armada laut, termasuk Kapal Negara (KN) SAR, disiagakan untuk mengangkut personel dan peralatan yang diperlukan. Langkah ini menunjukkan keseriusan Basarnas dalam menghadapi tantangan logistik akibat kondisi darurat yang meluas di tiga provinsi tersebut.

Pengerahan personel perbantuan Basarnas Aceh Sumut Laut ini menjadi strategi utama mengingat kondisi geografis dan kerusakan infrastruktur akibat bencana. Mohammad Syafii menekankan bahwa penggunaan fasilitas laut adalah solusi efektif untuk mengatasi terputusnya akses darat. "Karena jalur darat beberapa titik masih terputus, kita mengerahkan dengan fasilitas laut, KN SAR kami sudah siaga," ujarnya.

Personel tambahan ini berasal dari berbagai kantor SAR, termasuk dari Bengkulu dan Pangkal Pinang. Bahkan, Tim Khusus Basarnas Special Group (BSG) dari Kantor Basarnas Pusat di Jakarta juga diberangkatkan pada Kamis malam untuk memberikan dukungan maksimal.

Basarnas, sebagai koordinator utama operasi pencarian dan pertolongan (SAR), telah mengaktifkan delapan operasi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pengerahan ini memastikan bahwa upaya penyelamatan dapat dilakukan secara komprehensif di area-area yang paling membutuhkan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menyebabkan dampak luas. Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis sore, banjir bandang dan tanah longsor meluas di 13 kabupaten/kota di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Di Sumatera Utara, wilayah yang terdampak meliputi Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, dan Kabupaten Tapanuli Utara. Sementara itu, di Sumatera Barat, bencana serupa melanda Agam, Padang Pariaman, Bukittinggi, Solok, dan Padang.

Kondisi di Aceh juga tidak kalah parah, dengan 10 dari 23 kabupaten/kota menetapkan status darurat bencana banjir. Akibatnya, 1.497 jiwa mengungsi dan dua warga dilaporkan meninggal dunia. Data korban jiwa, luka-luka, pengungsian, dan kerusakan infrastruktur masih terus diperbarui oleh tim petugas gabungan di lapangan.

Prioritas utama operasi SAR di wilayah terdampak adalah mengevakuasi warga yang masih terisolasi serta mencari korban yang belum ditemukan. Mohammad Syafii menegaskan komitmen Basarnas dalam upaya ini. "SAR Mission Corodinator bersama seluruh potensi SAR yang ada di wilayah saat ini sedang berjuang melaksanakan operasi, khususnya mengevakuasi korban-korban yang terisolasi," kata dia.

Koordinasi yang erat dengan potensi SAR lainnya menjadi kunci keberhasilan operasi ini. Basarnas terus berupaya memastikan setiap korban mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, meskipun dihadapkan pada medan yang sulit.

Syafii juga menyampaikan harapan agar informasi dari masyarakat dan media massa dapat menjadi perpanjangan tangan Basarnas. "Harapan kami, informasi dari masyarakat dan media massa dapat menjadi kepanjangan tangan kami untuk melaksanakan tugas, terutama di titik-titik bencana yang membutuhkan penanganan segera," pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam situasi darurat ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi