Berakhir Damai, Vidio.com Jalin Kerjasama dengan Pengusaha Warkop di Aceh buat Acara Nobar
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan, pertemuan ini dilakukan untuk menindaklanjuti permasalahan hak siar terkait nonton bareng (nobar).
Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggelar pertemuan dengan Emtek Group yang diwakili oleh Direktur Indonesia Entertainment Group (IEG) Hendy Lim dan Senior VP of Legal, Anti-Piracy & Government Relations at Vidio, Gina Golda Pangaila dan perwakilan pegiat warung kopi di Aceh. Kegiatan ini digelar di kantornya, Jakarta.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya mengatakan, pertemuan ini dilakukan untuk menindaklanjuti permasalahan hak siar terkait nonton bareng (nobar) sepak bola yang digelar di warung kopi (warkop) di Aceh.
"Pertemuan hari ini kepada rekan-rekan media untuk menyampaikan bahwa Alhamdulillah kemarin tanggal 30 Juli, kami telah memfasilitasi pertemuan kedua belah pihak antara Vidio.com dengan perwakilan para Pegiat Warung Kopi di Aceh," kata Teuku Riefky dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (31/7).
"Yang mana pertemuan ini kami memfasilitasi adanya perdamaian. Nanti kami ceritakan, adanya perdamaian sehingga akhirnya tercipta solusi win-win yang tidak hanya menyelesaikan sengketa, bahkan memberikan peluang peningkatan omset untuk warung Kopi di Aceh," sambungnya.
Mantan Sekjen Partai Demokrat menjelaskan, kejadian ini berawal pada tahun lalu dimana saat itu pihak Vidio mengambil langkah hukum kepada para pengusaha warkop di Aceh.
Hal ini akibat adanya penayangan atau nobar sepak bola yaitu Liga Inggris tanpa adanya izin penayangan dari pemegang hak siar.
"Kami memahami kegelisahan dari posisi para pemilik warung kopi di Aceh, namun di sisi lain kami juga memahami posisi Vidio.com yang memperjuangkan haknya sebagai pemegang hak siar," jelasnya.
"Kementerian EKRAF telah dan akan terus menjalankan fungsi edukasi untuk meningkatkan literasi pentingnya hak kekayaan intelektual di kalangan pegiat ekonomi kreatif di Indonesia," sambungnya.
Hal ini menurutnya bertujuan agar para pelaku usaha memahami hak dan kewajiban dalam menggunakan konten berlisensi di ruang publik.
Selain itu, dalam permasalahan tersebut pihaknya juga menekankan pendekatan restoratif. Karena menurutnya, pelanggaran seperti itu bukan semata-mata untuk dihukum.
Tetapi juga sebagai momentum pembelajaran tentang pentingnya menjaga ekosistem kreatif yang sehat tanpa merugikan para pengusaha kecil maupun juga para pemilik hak siar.
"Kami berharap kejadian ini menjadi momentum refleksi bersama untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya hak kekayaan intelektual, sehingga pada akhirnya ekonomi kreatif dapat menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah," ungkapnya.
"Jadi sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Vidio.com, kemudian juga terima kasih kepada para pegiat kedai kopi di Aceh, dan juga DPRA atau DPRD Provinsi Aceh," tambahnya.
Sementara itu, Direktur Indonesia Entertainment Group (IEG) Hendy Lim mengucapkan terimakasih atas fasilitas serta menginisiasi dalam mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi Vidio dengan warkop di Aceh.
"Jadi kemarin saya sudah sama Pak Rian bilang jangan disebut ini masalah, ini bukan masalah, ini adalah situasi yang dimana kita sama-sama belajar, seperti yang Pak Menteri tadi katakan akan pentingnya hak atas kekayaan intelektual," ujar Hendy.
Karena menurutnya, hak atas kekayaan intelektual itu memang harus dihormati. Oleh karena itu, yang menjadi motor untuk pertumbuhan ekonomi juga merupakan salah satu motor untuk pertumbuhan ekonomi.
Dirinya menegaskan, sudah ada jalan keluar terkait permasalahan tersebut. Bahkan, sudah adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yaitu menjalin kerjasama dan berkontrak untuk menjalankan nobar.
"Bukan semua Liga Inggris, tapi semuanya, termasuk Liga Indonesia, dan semua property sport yang ada di EMTEK Group, dan memang sudah terbukti itu di daerah-daerah lain juga, kafe-kafe yang menjalankan itu semua omsetnya naik," tegasnya.
"Dan Vidio dalam hal ini adalah kami memegang sebagai mitra strategis dengan kementerian, kami sangat senang untuk bersama-sama membangun industri ini, supaya bisa menguntungkan berbagai macam pihak, dalam hal ini misalnya penyerapan tenaga kerja, lalu agen-agen kita yang di bawah, dan lain sebagainya," tambahnya.
Ia pun berharap, kejadian ini bisa menjadi momentum yang baik dan menjadi percontohan. Apalagi, para pemilik warkop yang mengadakan nobar bisa menghubungi pihak Vidio.
"Kami juga mengimbau kepada pelaku usaha selain di Aceh, maupun di berbagai tempat yang memang sekarang masih menayangkan, untuk segera menghubungi kami untuk bekerja sama," paparnya.
"Pada prinsipnya kami pasti akan dengan senang hati mendengarkan keluh-kesahnya dan lain sebagainya, supaya kita bisa jalan bareng, tapi jangan jalan sendiri," sambungnya.
Dalam kesempatan itu, Teuku Fadil Umri yang mewakili warkop yang ada di Aceh juga turut mengucapkan rasa terimakasih atas pertemuan tersebut.
"Alhamdulillah telah terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak yang telah dimediasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif. Kita sadar, kita lalai bahwa dibalik ini semua ada hak siar yang milik perusahaan," ucap Fadil.
"Mungkin ini jadi momentum, kedepannya bisa lebih baik lagi ekonomi Aceh melalui ini. Kita juga bisa menyampaikan kepada teman-teman yang di sana bahwa hak siar ini ada hak orang lain yang kita nikmati," pungkasnya.