100 Pelaku Pariwisata Jakut Dilatih Antisipasi Bencana, Wajib Punya APAR!
Pemkot Jakut menggelar bimtek untuk 100 pelaku pariwisata, meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam antisipasi bencana pariwisata Jakut, termasuk kebakaran. Bagaimana mereka disiapkan?
Pemerintah Kota Jakarta Utara baru-baru ini menggelar program bimbingan teknis (bimtek) yang vital bagi sektor pariwisata. Kegiatan ini dirancang khusus untuk melatih para pelaku usaha pariwisata di wilayah tersebut. Tujuannya adalah membangun kesadaran dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam mengantisipasi risiko bencana, baik alam maupun non-alam.
Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Jakarta Utara, Shinta Nindyawati, menjelaskan urgensi kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman serta kesiapsiagaan para pelaku usaha. Hal ini penting dalam menghadapi potensi bencana yang dapat mengancam keselamatan wisatawan dan kelangsungan usaha.
Sebanyak 100 peserta dari berbagai lini usaha pariwisata turut serta dalam bimtek yang dilaksanakan satu hari penuh ini. Mereka terdiri dari pengelola hotel, restoran, karaoke, hiburan, hingga pengelola daya tarik wisata. Pelatihan ini diharapkan membekali mereka dengan pengetahuan praktis untuk mitigasi bencana.
Tujuan dan Peserta Bimbingan Teknis
Bimtek ini merupakan inisiatif strategis Pemkot Jakarta Utara untuk memperkuat sektor pariwisata. Kegiatan ini secara khusus menyasar peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pariwisata. Kesadaran akan risiko bencana menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis.
Shinta Nindyawati mengungkapkan bahwa sektor pariwisata memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Misalnya, insiden kebakaran dapat dengan cepat mengancam keselamatan pengunjung dan operasional usaha. Oleh karena itu, kesiapan menghadapi skenario terburuk sangatlah krusial.
Para peserta yang berjumlah 100 orang ini berasal dari beragam latar belakang industri pariwisata. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan pariwisata yang lebih aman dan tangguh. Ini adalah langkah proaktif dalam antisipasi bencana pariwisata Jakut.
Narasumber kompeten dihadirkan untuk memberikan materi mendalam selama bimtek berlangsung. Mereka termasuk Staf Ahli Menteri Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata Fadjar Hutomo dan perwakilan Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia, Adonis Muzanni. Kehadiran para ahli ini memastikan kualitas materi yang disampaikan.
Pentingnya Kesiapsiagaan dan Mitigasi Risiko
Selain dari Kementerian Pariwisata dan UI, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta juga mengirimkan narasumbernya, Puryantoro. Kepala Bidang Info Gempa dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Wijayanto, turut melengkapi jajaran pembicara. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam pelatihan.
Shinta Nindyawati berharap para peserta dapat menerapkan standar keamanan yang tinggi pasca pelatihan. Mereka juga diharapkan mampu menyusun rencana kontinjensi yang efektif. Langkah-langkah ini penting untuk pencegahan dini terhadap bencana, termasuk kebakaran di lingkungan usaha.
"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini," ujar Shinta. Ia menambahkan, "Semoga ilmu yang diperoleh para peserta dapat bermanfaat dalam pengembangan pariwisata yang tangguh bencana dan aman bagi wisatawan." Ini menekankan dampak jangka panjang dari bimtek.
Budi Setiawan, seorang warga dari Pondok Sunter Indah, memberikan apresiasi positif terhadap kegiatan ini. Ia menilai pelatihan ini sangat bermanfaat mengingat potensi bencana dapat melumpuhkan ekonomi pariwisata. "Kami jadi semakin paham dalam penanggulangan bencana hingga pasca bencana," katanya.
Peran APAR dan Sosialisasi Mitigasi Kebakaran
Puryantoro dari Dinas Gulkarmat DKI Jakarta menyoroti pentingnya Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Ia mengingatkan bahwa setiap pelaku usaha diwajibkan memiliki APAR. Lebih dari itu, mereka harus mempunyai kemampuan dasar untuk memadamkan api.
Kehadiran APAR di setiap tempat usaha berfungsi sebagai mitigasi awal. Tujuannya adalah mencegah insiden kecil agar tidak berkembang menjadi kebakaran besar yang merugikan. Ini adalah langkah proaktif dalam antisipasi bencana pariwisata Jakut terkait kebakaran.
"Kami juga rutin melakukan sosialisasi ke tiap tempat usaha," kata Puryantoro. Ia berharap agar mulai saat ini, tidak hanya pelaku industri, tetapi juga masyarakat umum dapat menyediakan APAR di tempat masing-masing. Kesadaran kolektif menjadi kunci.
Investasi dalam pelatihan dan penyediaan alat keselamatan seperti APAR adalah investasi jangka panjang. Hal ini tidak hanya melindungi aset fisik, tetapi juga reputasi dan kepercayaan wisatawan. Kesiapsiagaan ini menjadi fondasi bagi pariwisata yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews