Uniknya Alat Musik Sunda Langgir Badong, Terinspirasi dari Seekor Kalajengking
Keunikannya terletak dari bentuknya yang dibuat menyerupai kalajengking dan cara memainkannya yang penuh dengan atraksi.
Ade Suarsa, pria asal Kota Bogor, Jawa Barat ini jadi sosok yang kreatif karena menciptakan alat musik tradisional baru bernama Langgir Badong. Keunikannya terletak dari bentuknya yang dibuat menyerupai kalajengking.
Kelahiran alat musik ini berawal dari keinginan Ade untuk menciptakan banyak sumber bunyi dalam sebuah alat musik. Idenya ini kemudian ia tuangkan dengan meringkas beberapa instrumen kuno yang sudah ada, menjadi satu set Langgir Badong.
Dibuat di era modern bukan berarti bentuknya mengubah pakem alat musik lokal, karena bentuknya tetap dibuat sesuai dengan pakem tradisional Sunda dari bahan utamanya yakni batang bambu.
Dalam setiap pertunjukkannya amat meriah, karena dimainkan secara berkelompok dengan warna musik yang mampu beradaptasi dengan nada kotemporer. Yuk, kenalan dengan Langgir Badong yang unik dari kota hujan.
Satu Alat Musik Hasilkan Tiga Nada
Mengutip Youtube Antara TV Indonesia, Jumat (27/9), Langgir Badong adalah buah pemikiran Ade yang ingin menciptakan alat musik berbeda. Dalam satu setnya, mampu menghasilkan tiga nada dari alat musik yang berbeda sekaligus seperti dokdok, kohkol, kecrek, gambang serta kujang.
Cara memainkannya adalah dengan dipukul menggunakan stik, seperti saat memukul drum dengan ukuran yang lebih kecil.
“jadi saya membuat alat musik baru, yang kemudian saya bentuk menyerupai Langgir atau hewan kalajengking,” kata Ade.
Dimainkan dengan Cara Digendong
Keunikan dari alat musik ini adalah cara memainkannya yang digendong. Ada tiga orang yang memainkan ini, yakni yang menggendong dan dua orang lain adalah penabuhnya.
Penggendong Langgir Badong berada di bawah alat musiknya dan bisanya tertutup kain hitam. Tubuhnya fokus menopang Langgir Badong yang ditempatkan di punggung, saat kedua pemain lain memukulnya.
Untuk posisi alat musiknya sendiri adalah berjajar, dokdok atau kendang kecil dibuat menyerupai kepala, kemudian ada kohkol atau bilah bambu yang mengeluarkan bunyi dengung dan gambang yang mirip saron namun berbahan kayu ditata di paling belakang dan menyerupai ekor kalajengking.
Mirip Kalajengking
Saat penopang Langgir Badong berdiri, bentuknya akan menyerupai kalajengking yang dianggap eksotis.
Di momen tersebut, para penabuh dan penopang akan bekerja sama menari mengikuti irama musik yang dimainkan.
“Kenapa namanya Langgir Badong, karena Langgir itu kan kalajengking ya dalam bahasa Sunda karena bentuknya mirip, dan badong adalah cara memainkannya yang digendong,” kata dia, melanjutkan.
Ada Atraksi dari Penabuhnya
Tak sekedar terpaku memukul Langgir Badong, para penabuh yang biasanya perempuan akan melakukan atraksi. Mereka biasanya sudah membuat koreografi yang akan ditampilkan ketika pertunjukan Langgir Badong.
Dari dua penabuh, salah satu di antaranya akan dengan cepat berpindah ke Langgir Badong lain, diikuti pemain kedua dari kelompok lainnya. Atraksi ini yang kemudian menuai kekaguman dari para penonton.
Meski terdiri dari beberapa alat musik yang disusun, namun nyatanya Langgir Badong tetap menghasilkan bunyi instrumen yang harmonis dan nyaman untuk dinikmati.
Filosofi Bentuk Kalajengking
Ade tak sekedar membuat Langgir Badong menyerupai kalajengking. Ia ingin menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya, sehingga alat musik tersebut semakin menarik penuh dengan kebudayaan Sunda.
Bagi dirinya, kalajengking adalah hewan yang eksotis. Sisi eksotis disebut Ade lahir dari bunyi yang dikeluarkan Langgir Badong, sehingga cocok dikolaborasikan dengan berbagai jenis musik termasuk modern.
“Saya pikir, kalajengking itu punya bentuk yang menarik dan secara estetik dia juga unik, dan kalajengking adalah hewan yang hening, dan mematikan. Jadi, mungkin secara bentuk ini biasa namun hasil nadanya menarik perhatian,” tambahnya.