Kenalan dengan Tarawangsa Sunda Lugina, Grup Etnik Asal Sumedang yang Tampil di Festival Musik Eropa

Tarawangsa Sunda Lugina diketahui berhasil memukau ribuan penonton di festival musik raksasa Denmark, Roskilde Festival.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kenalan dengan Tarawangsa Sunda Lugina, Grup Etnik Asal Sumedang yang Tampil di Festival Musik Eropa
Kenalan dengan Tarawangsa Sunda Lugina, Grup Etnik Asal Sumedang yang Tampil di Festival Musik Eropa (Merdeka.com)

Tarawangsa Sunda Lugina diketahui berhasil memukau ribuan penonton di festival musik raksasa Denmark, Roskilde Festival. 

Kelompok etnik asal Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Tarawangsa Sunda Lugina baru-baru ini mencuri perhatian khalayak.

Pasalnya mereka diundang tampil di helatan musik besar Denmark, Roskilde Festival.  Roskilde Festival ialah salah satu  festival musik dan budaya terbesar di Eropa.

Grup itu tampil dengan mengangkat budaya Indonesia di mata pencinta musik yang berkumpul dari seluruh dunia. 

Dengan seperangkat alat musik tarawangsa hingga rebab, lantunan musik etnik yang merdu dan khas dimainkan secara apik di hadapan penonton.

Mengutip situs resmi Roskilde Festival, grup ini tampil pada Sabtu (6/7) lalu. Yuk kenalan dengan Tarawangsa Sunda Lugina.

Tampil di Festival Musik Eropa
Dok. Istimewa

Tarawangsa Sunda Lugina diketahui tampil di hadapan 130.000 penonton dari seluruh dunia. Grup etnik asal Sumedang ini sukses tampil di Roskilde Festival.

Foto: Penampilan Tarawangsa Sund Lugina di Roskilde Festival Denmark/ Youtube Steen

Selama beberapa jam, grup pimpinan Abah Pupung Supena itu menampilkan pertunjukan musik tarawangsa yang menghanyutkan penonton.

Kehadiran musisi Jawa Barat itu seolah membawa warna baru di panggung tersebut.

“At this year's Roskilde Festival, a portal into deep traditions and ritual music from Rancakalong in Western Java will be opened when Tarawangsa Sunda Lugina performs,” tulis situs resmi Roskilde Festival

Dalam pertunjukannya, grup Sumedang itu tak sekedar menampilkan pertunjukan musik, namun juga berupaya aktif mengajak penonton untuk menari bersama dengan musik tradisionalnya.

Hal ini menjadi momen yang unik, sekaligus pengalaman luar biasa yang didapat seluruh personel Tarawangsa Sunda Lugina itu.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

“Don't miss this unique chance to experience the ancient rituals, hypnotic dancers, and beautiful sounds at Roskilde this summer, (Jangan lewatkan kesempatan unik ini untuk merasakan ritual kuno, penari hipnotis, dan suara yang indah di Roskilde musim panas ini.)” tulis situs lagi.

Foto: Roskilde Festival

Satu Panggung Bersama Foo Fighter sampai Skrillex
Dok. Istimewa

Grup ini tampil bersama grup musik dunia lainnya seperti Foo Fighter yang dibentuk  mantan drummer Nirvana, Dave Grohl serta Skrillex yang terkenal sebagai musisi elektronik dunia.

Menurut pimpinan grup, Abah  Pupung Supena, ia bersama pelaku musik tradisional Sumedang lainnya merasa bangga karena budaya lokal bisa diterima di kancah dunia.

Penampilan Tarawangsa Sunda Lugina sangat diapresiasi para penonton karena pengenalan budaya Sunda melalui musik dan pakaian.

Mengutip Instagram musisi sekaligus budayawan Sunda, Man Jasad, Tarawangsa Sunda Lugina turut tampil di beberapa festival musik Eropa lainnya seperti Rudolstadt Festival Jerman dan Copenhagen Jazz Festival.

Tarawangsa Sunda Lugina turut berolaborasi dengan sejumlah musisi Denmark seperti Kresten Osgood, Aske Krammer, Snöleoparden hingga Lotte Anker.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Tampilnya Tarawangsa Sunda Lugina menambah deretan musisi Sunda yang berhasil go internasional setelah Burgerkill, Jasad dan Voice Of Baceprot.

Sebelumnya, grup ini dibentuk di Dusun Pasir Talang, Desa Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada 28 Juni 2013.

Ketika itu grup ini masih berupa sanggar, dengan mengadakan kegiatan bermusik etnik Sunda secara rutin.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sanggar Seni Sunda Lugina didirikan atas dasar kepedulian terhadap adat istiadat dan budaya Rancakalong serta warisan budaya nenek moyang Sunda. Yang menarik, sejumlah remaja ikut berpartisipasi di sanggar tersebut hingga berkembang sampai saat ini.

Rekomendasi