Uniknya Seni Jipeng Khas Sukabumi, Pagelaran Musik Nenek Moyang dengan Alat Musik Modern
Berbeda dengan kesenian tradisional lainnya, Jipeng menggunakan iringan alat musik modern.
Berbeda dengan kesenian tradisional lainnya, Jipeng menggunakan iringan alat musik modern.
Uniknya Seni Jipeng Khas Sukabumi, Pagelaran Musik Nenek Moyang dengan Alat Musik Modern
Kampung Ciptagelar di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, masih merawat tradisi leluhur Sunda di masa lampau lewat berbagai tradisinya.
Beberapa yang masih dipertahankan di antaranya upacara pertanian Seren Taun, memakai pakaian tradisional dan seni Jipeng.
Seni Jipeng menjadi salah satu daya tarik di Ciptagelar karena menyuguhkan seni musik nenek moyang dengan alat musik modern. Yuk simak apa itu seni Jipeng.
Pertunjukan musik tradisional
Mengutip YouTube Budaya Jabar, Humas Kesenian Ciptagelar, Ruhendar Sodong mengatakan bahwa Jipeng merupakan kesenian musik tradisional yang sudah ada sejak tahun 1940-an.
Uniknya, alat musik yang digunakan bukanlah tradisional, melainkan modern seperti bass drum, terompet dan biola.
“Kelestariannya masih kami jaga sampai saat ini, dengan alat-alat musik yang bukan tradisional berbahan kuningan dan nikel. Kami menyebutnya sebagai seni musik tradisional karena berkaitan dengan pelopornya dan menggunakan laras Sunda,” kata dia.
Gabungkan 3 kesenian lokal
Penamaan Jipeng rupanya memiliki makna tersendiri. Ini terkait dengan adanya tiga jenis kesenian yang melebur di pertunjukkan Jipeng.
Tiga kesenian tersebut di antaranya tanji/tanjidor, ketuk tilu/kliningan, dan seni topeng.
Jika digabungkan, kesenian ini akan terlihat seperti pertunjukan seni sandiwara Sunda, karena terdapat unsur teater dari topeng dan ketuk tilu yang merupakan tarian tradisional cikal bakal Jaipong.
Jadi pertunjukan musik khas Ciptagelar
Setelah dikenalkan oleh pelopornya di masa kepemimpinan adat Abah Pasir Jeungji, kesenian Jipeng mulai dikenal oleh masyarakat luas.
Upaya ini terus dilakukan oleh keturunan-keturunan di masa berikutnya sehingga Jipeng menjadi kesenian khas kampung adat tersebut.
Jipeng biasanya akan dimainkan saat masa penanaman palawija di sawah yang biasa disebut Ngahuma atau masa bertanam yang dilakukan satu kali setahun.
Kesenian Jipeng dimainkan saat Ngahuma karena dipercaya dapat pengusir hama sehingga tanaman bisa berkualitas bagus saat panen.
Terdapat tiga tahap pementasan Jipeng
Dalam pementasannya, seni Jipeng memiliki tiga tahap sebagai bentuk inovasi, tanpa keluar dari akar kesenian awal.
Pertama, para pemainnya akan memainkan musik Tanjidor terlebih dahulu.
Di awal ini, Jipeng masih berupa instrumen dan bisa digunakan untuk mengiringi penyanyi laki-laki yang disebut Ciput maupun Bancet.
Lalu tahap kedua, Jipeng akan dilanjut dengan pertunjukkan Ketuk Tilu atau Jaipong. Di sini, penonton biasanya sudah mulai terbawa suasana dan ikut berjoget.
Terakhir adalah acara yang paling ditunggu karena merupakan pertunjukan sandiwara Sunda. Di sini, terdapat tokoh yang memainkan topeng dengan dialog yang lucu dan mengundang gelak tawa.
Saat berkunjung ke Ciptagelar, seni Jipeng jadi pertunjukkan yang wajib disaksikan.