Xi Jinping Ingatkan Trump soal Penjualan Senjata AS ke Taiwan
Xi Jinping memperingatkan Donald Trump soal penjualan senjata AS ke Taiwan, menegaskan isu kedaulatan sebagai titik paling sensitif hubungan Beijing–Washington.
Presiden China, Xi Jinping menyampaikan peringatan langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pengiriman senjata ke Taiwan.
Peringatan itu disampaikan dalam percakapan telepon pertama kedua pemimpin sejak November tahun lalu, yang berlangsung pada Rabu, 4 Februari 2026.
Pemerintah Tiongkok, melalui pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri yang dikutip The Guardian, menyebut Xi menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan persoalan paling sensitif dan krusial dalam hubungan Beijing–Washington.
Ia menekankan bahwa kedaulatan serta keutuhan wilayah merupakan kepentingan inti Tiongkok dan menegaskan Beijing tidak akan membiarkan Taiwan terpisah.
Dalam pembicaraan tersebut, Xi juga meminta Amerika Serikat mempertimbangkan secara serius dampak dari penjualan senjata ke Taiwan.
Menurut Beijing, langkah tersebut berpotensi memperburuk ketegangan lintas selat dan merusak stabilitas kawasan.
Beberapa jam setelah pernyataan Tiongkok dirilis, Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan bahwa hubungan Taipei dan Washington tetap kuat.
Berbicara kepada wartawan saat kunjungan ke sentra pedagang tekstil di wilayah barat Taiwan pada Kamis, Lai menyatakan kerja sama Taiwan–AS berjalan solid dan seluruh proyek bilateral akan terus dilanjutkan.
Taiwan merupakan wilayah yang menjalankan pemerintahan sendiri dengan sistem demokrasi, namun tetap diklaim oleh Beijing sebagai bagian dari wilayah Tiongkok.
Pemerintah Tiongkok berulang kali menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menyatukan Taiwan jika diperlukan.
Di sisi lain, Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, tetapi menjadi pendukung internasional terpenting pulau tersebut dan pemasok utama persenjataannya.
Pada Desember lalu, Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan paket penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah kepada Taiwan dengan nilai lebih dari USD 11,1 miliar.
Paket tersebut mencakup rudal, sistem artileri, serta pesawat tanpa awak, dan hingga kini masih menunggu persetujuan Kongres AS.
China Latihan Militer Dekat Taiwan
Rencana penjualan senjata tersebut memicu reaksi yang kuat dari pihak China. Sebagai respons, Beijing melaksanakan latihan militer selama dua hari di sekitar Taiwan pada akhir bulan Desember, dengan mengerahkan unit dari angkatan udara, angkatan laut, serta pasukan rudal.
Di Taiwan sendiri, rencana ini ditentang oleh Partai Kuomintang (KMT), yang merupakan oposisi utama, serta oleh sebagian masyarakat.
Penolakan ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang berencana untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 3,3 persen dari produk domestik bruto Taiwan.
Parlemen Taiwan yang dikuasai oleh oposisi telah menghalangi rencana anggaran yang diajukan oleh Presiden Lai, termasuk anggaran pertahanan khusus senilai USD 40 miliar. Sebagai alternatif, parlemen mengusulkan rencana belanja pertahanan yang jauh lebih kecil.
Sebelumnya, pada Rabu malam, Presiden Trump menyatakan bahwa pembicaraannya dengan Presiden Xi berlangsung "sangat baik" dan "menyeluruh".
Pernyataan ini disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social. Dalam pembicaraan tersebut, Trump menyebutkan bahwa mereka membahas sejumlah isu, termasuk masa depan Taiwan, konflik Rusia di Ukraina, situasi terkini dengan Iran, serta kemungkinan China untuk membeli minyak dan gas dari Amerika Serikat.
Trump juga menyampaikan bahwa ia menantikan kunjungan ke China pada bulan April mendatang, yang akan menjadi perjalanan pertamanya ke negara tersebut selama masa jabatannya saat ini.
Dalam unggahan yang sama, Trump menambahkan bahwa China sedang mempertimbangkan pembelian 20 juta ton kedelai dari AS pada musim ini, meningkat dari 12 juta ton pada musim sebelumnya.