LPPOM Dorong Penguatan Rantai Halal, UMKM Digenjot Naik Kelas Lewat Festival Syawal
Pemberdayaan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
LPPOM kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak ekosistem halal nasional melalui Festival Syawal 1447 H. Sejak diinisiasi pada 2021, program ini berfokus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas melalui sertifikasi halal, edukasi, serta penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir.
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, menegaskan bahwa Festival Syawal bukan sekadar kegiatan seremonial pasca-Ramadan. Ia menilai pemberdayaan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Bagi kami, pemberdayaan UMK bukan hanya soal menerbitkan sertifikat halal, tetapi membekali mereka agar bisa naik kelas," ujar Muti dalam sambutannya di Menara Peninsula Hotel, Jakarta Barat, dikutip Jumat (1/5).
Hingga 2025, Festival Syawal telah mengedukasi hampir 10.000 peserta dan memfasilitasi sertifikasi bagi lebih dari 1.500 UMKM. Program ini juga meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) dan Best NGO Initiative 2024.
Tahun ini, Festival Syawal mengusung tema "Toko Bahan Baku Halal, Langkah Awal Menuju UMKM Tangguh". Tema tersebut diangkat sebagai respons atas tantangan di lapangan, di mana banyak pelaku usaha masih kesulitan mendapatkan bahan baku yang terjamin kehalalannya.
Muti menekankan bahwa penguatan sektor hilir tidak akan optimal tanpa dukungan sektor hulu. Menurutnya, keberadaan toko bahan baku halal masih menjadi mata rantai penting yang perlu diperkuat dalam ekosistem halal nasional.
Sebagai langkah konkret, LPPOM mulai menginisiasi pengembangan toko bahan baku halal di berbagai daerah, salah satunya melalui proyek percontohan toko daging halal Metaly di Bogor. Selain itu, LPPOM juga membuka fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha penyedia bahan baku.
Namun, LPPOM mencatat kuota fasilitasi tersebut belum sepenuhnya terserap, yang menunjukkan masih rendahnya kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal di tingkat hulu.
Upaya penguatan ini turut didukung melalui edukasi halal yang menjangkau lebih dari 1.500 peserta sepanjang rangkaian Festival Syawal tahun ini. LPPOM juga menggandeng berbagai pihak, termasuk sektor perbankan syariah, untuk memberikan dukungan komprehensif mulai dari pembiayaan hingga akses pasar.
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, mengapresiasi langkah strategis LPPOM dalam memperkuat ekosistem halal nasional. Ia menilai festival ini memiliki peran penting dalam mendorong posisi Indonesia di kancah ekonomi syariah global.
"Festival ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi Islam global," kata Budi.
Berdasarkan laporan global 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam dengan nilai ekspor halal mencapai 64,42 miliar dolar AS. Pemerintah pun terus mendorong penguatan pasar domestik melalui branding, standardisasi mutu, hingga business matching internasional.
Sementara itu, Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan, mengingatkan bahwa halal merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat sekaligus pembangunan bangsa.
"Makanan halal bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi barrier utama dalam menjaga kualitas hidup," tegas Ahmad Haikal.
Ia menambahkan, dari sekitar 64 juta produk yang beredar di Indonesia, baru 24 juta yang telah bersertifikat halal, sehingga peluang percepatan sertifikasi masih sangat besar.
Perspektif Ulama
Senada, M. Cholil Nafis dari perspektif ulama menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap produk pangan modern yang semakin kompleks.
Ia menyebut batas antara produk halal dan syubhat semakin tipis, sehingga proses penetapan halal harus melalui audit ketat oleh tenaga profesional serta tetap menjadi kewenangan ulama dalam sinergi bersama pemerintah.
Perwakilan Kemenkop
Dukungan juga datang dari Kementerian Koperasi. Perwakilan Kemenkop, Deva Rahman, menyatakan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam rantai pasok halal, terutama melalui puluhan ribu koperasi desa yang berpotensi diintegrasikan ke dalam ekosistem tersebut.
Sebagai lembaga pemeriksa halal pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1988, LPPOM melalui Festival Syawal menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat rantai halal dari hulu hingga hilir. Sertifikasi halal pun dipandang bukan sekadar kewajiban regulasi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan dan keberlanjutan usaha di pasar global.