China Kecam Keras Penjualan Senjata AS ke Taiwan, Sebut Langgar Prinsip Satu China
Beijing melayangkan protes keras atas Penjualan Senjata AS ke Taiwan senilai 330 juta dolar AS, menyebutnya melanggar prinsip Satu China dan kedaulatan Tiongkok. Langkah ini memicu ketegangan diplomatik dan ancaman balasan dari China.
Pemerintah China melayangkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat menyusul persetujuan penjualan senjata kepada Taiwan. Kesepakatan ini, yang bernilai sekitar 330 juta dolar AS, dianggap Beijing sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip "Satu China" yang menjadi dasar hubungan diplomatik. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan penyesalan dan penentangan tegas terhadap langkah Washington tersebut.
Penjualan suku cadang untuk tiga jenis pesawat militer ini disetujui setelah penutupan pemerintah federal AS berakhir. Beijing menegaskan bahwa tindakan ini tidak hanya melanggar kedaulatan Tiongkok tetapi juga mengirimkan sinyal keliru kepada kelompok separatis yang mengupayakan kemerdekaan Taiwan. Insiden ini memperkeruh hubungan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Persetujuan penjualan senjata ini menjadi yang pertama kalinya pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. China telah berulang kali memperingatkan AS agar tidak mencampuri urusan dalam negeri mereka terkait Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi pembangkang. Ketegangan semakin memuncak seiring dengan pernyataan keras dari kedua belah pihak.
Reaksi Keras Beijing dan Pelanggaran Prinsip Satu China
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dengan tegas menyatakan bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan merupakan pelanggaran fundamental. "Penjualan senjata AS ke wilayah Taiwan di China sangat melanggar prinsip 'Satu China,' kami menyesalkan dan menentang hal itu," kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (14/11).
Lin Jian menambahkan bahwa kesepakatan tersebut bertentangan dengan Komunike 17 Agustus 1982, sebuah dokumen penting dalam hubungan China-AS. Menurutnya, tindakan ini melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China secara langsung. Lebih lanjut, ia menilai penjualan ini juga melanggar hukum internasional dan berpotensi memperkuat kekuatan separatis "kemerdekaan Taiwan".
Beijing menekankan bahwa Taiwan adalah inti kepentingan China dan merupakan "garis merah pertama" yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan bilateral. China mendesak Amerika Serikat untuk mematuhi prinsip Satu China dan tiga komunike bersama China-AS. Mereka juga meminta AS untuk menindaklanjuti komitmen pemimpin kedua negara terkait isu Taiwan.
Pemerintah China secara eksplisit meminta AS agar berhenti mendukung upaya kelompok separatis mencapai "kemerdekaan Taiwan" melalui penguatan militer. Lin Jian menegaskan, "China akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah China dengan teguh." Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Beijing dalam menyikapi isu Taiwan.
Detail Kesepakatan Senjata dan Respon Pentagon
Kesepakatan penjualan senjata yang disetujui Amerika Serikat mencakup suku cadang untuk tiga jenis pesawat militer Taiwan. Pesawat tersebut meliputi F-16, C-130, dan pesawat tempur Indigenous Defense Fighters (IDF) milik Taiwan. Nilai total penjualan ini diperkirakan mencapai sekitar 330 juta dolar AS atau setara Rp5,51 triliun.
Penjualan tersebut dilaporkan mencakup komponen non-standar, suku cadang dan suku cadang perbaikan, bahan habis pakai, serta aksesori. Selain itu, paket ini juga menyertakan dukungan teknik dan logistik dari pemerintah dan kontraktor AS. Hal ini menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan tidak hanya berupa perangkat keras tetapi juga dukungan teknis yang komprehensif.
Departemen Pertahanan AS, atau Pentagon, memberikan justifikasi atas penjualan ini. Pentagon menyatakan bahwa kesepakatan itu akan meningkatkan kemampuan Taiwan untuk "menghadapi ancaman saat ini dan di masa depan" dengan menjaga kesiapan operasional. Ini adalah upaya untuk memastikan Taiwan memiliki kemampuan pertahanan yang memadai.
Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSA) AS menambahkan bahwa penjualan ini akan meningkatkan kemampuan Taiwan dalam menjaga kesiapan armada F-16, C-130, dan IDF. Peralatan dalam paket itu akan diambil dari stok pemerintah AS dan tidak memerlukan perwakilan tambahan dari pemerintah atau kontraktor AS. Ini menunjukkan efisiensi dalam penyediaan perangkat militer.
Implikasi Diplomatik dan Komitmen Pertahanan China
Pengumuman Pentagon mengenai penjualan senjata ini muncul beberapa minggu setelah pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan tersebut berlangsung di Busan, Korea Selatan, dan membahas berbagai isu bilateral serta regional. Namun, isu Taiwan dilaporkan tidak menjadi fokus utama diskusi.
Presiden Trump sendiri mengatakan kepada wartawan bahwa isu Taiwan "tidak pernah muncul" dalam pertemuan dengan Xi Jinping. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai koordinasi dan komunikasi antara kedua negara adidaya. Meskipun demikian, penjualan senjata ini tetap memicu reaksi keras dari Beijing.
Tindakan AS ini berpotensi meningkatkan ketegangan diplomatik yang sudah ada antara Washington dan Beijing. China secara konsisten memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya dan menentang segala bentuk dukungan militer asing. Komitmen China untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya tampak sangat kuat.
Situasi ini menggarisbawahi kompleksitas hubungan antara China, Amerika Serikat, dan Taiwan. Beijing terus mendesak AS untuk menghormati prinsip Satu China dan menghindari langkah-langkah yang dapat mengganggu stabilitas regional. Komitmen pertahanan China terhadap Taiwan tetap menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri mereka.
Sumber: AntaraNews