Masa Depan Hubungan China-AS: Menlu Wang Yi Tekankan Pentingnya Bangun Rasa Percaya
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyoroti pentingnya rasa saling percaya untuk masa depan hubungan China-AS. Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China akan menjadi momentum krusial.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa masa depan hubungan antara Tiongkok dan Amerika Serikat sangat bergantung pada pembangunan rasa saling percaya. Pernyataan ini disampaikan Wang Yi dalam sebuah konferensi pers di Beijing, Minggu, 8 Maret 2026, membahas kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China. Ia menekankan bahwa sikap China selalu positif dan terbuka, namun pihak AS juga harus bergerak ke arah yang sama untuk mencapai kemajuan.
Wang Yi mengungkapkan hal tersebut menanggapi pertanyaan wartawan mengenai agenda pembicaraan dalam kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China. Kunjungan penting ini dijadwalkan akan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April 2026, menandai tahun yang krusial bagi hubungan kedua negara. Agenda pertemuan tingkat tinggi ini telah menjadi fokus utama dalam upaya diplomatik.
Hubungan China-AS memiliki dampak signifikan terhadap kepentingan semua pihak dan memengaruhi stabilitas global secara luas. Wang Yi memperingatkan bahwa kurangnya komunikasi hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan salah penilaian. Konflik dan konfrontasi antara kedua kekuatan besar ini berpotensi membawa bencana bagi seluruh dunia.
Pentingnya Kepercayaan dan Kerja Sama Bilateral
Wang Yi meyakini bahwa selama kedua negara menunjukkan ketulusan dan membangun hubungan berdasarkan kepercayaan, daftar kerja sama dapat terus diperpanjang. Sebaliknya, daftar masalah yang ada dapat dipersingkat, membuka jalan bagi solusi konstruktif. Ia menekankan bahwa baik China maupun AS adalah negara besar yang tidak mungkin saling mengubah satu sama lain.
Namun, kedua negara dapat mengubah cara bersikap terhadap satu sama lain demi kemajuan bersama. Caranya adalah dengan menjunjung sikap saling menghormati, menjaga batas hidup berdampingan secara damai, dan mengupayakan prospek kerja sama yang saling menguntungkan. Pendekatan ini dinilai sesuai dengan kepentingan rakyat kedua negara dan juga selaras dengan harapan masyarakat internasional.
Sikap positif dan terbuka dari kedua belah pihak menjadi kunci utama dalam menavigasi kompleksitas hubungan ini. Dengan fondasi kepercayaan yang kuat, diharapkan berbagai isu dapat diselesaikan melalui dialog konstruktif. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan prediktif bagi hubungan bilateral.
Dinamika Global dan Multipolaritas
Meskipun China dan AS memiliki pengaruh besar di dunia, Wang Yi mengingatkan bahwa ada lebih dari 190 negara lainnya yang juga berperan. Sejarah dunia selalu ditulis bersama oleh semua negara, dan masa depan umat manusia diciptakan bersama oleh rakyat dari berbagai bangsa. Kehidupan bersama dalam keberagaman adalah wajah asli masyarakat manusia, dan koeksistensi multipolar adalah bentuk yang semestinya dimiliki tatanan internasional.
Setiap perebutan hegemoni antarnegara besar dan konfrontasi blok selalu membawa bencana serta penderitaan bagi umat manusia. Oleh karena itu, China sama sekali tidak akan menempuh jalan lama yang menganggap negara kuat pasti mendominasi. Konstitusi China secara jelas menetapkan bahwa negara harus berpegang pada kebijakan luar negeri independen dan mandiri, serta berpegang pada jalan pembangunan damai.
China tetap berpegang pada prinsip untuk membangun dunia multipolar yang setara dan tertib. Yang dimaksud dengan setara adalah bahwa semua negara, tanpa memandang besar kecil atau kuat lemah, merupakan anggota yang setara dalam masyarakat internasional. Setiap negara dapat menemukan posisi masing-masing dalam tatanan multipolar dan memainkan peran yang semestinya. Sementara itu, tertib berarti semua negara harus mematuhi aturan internasional yang diakui secara umum, Piagam PBB, serta norma dasar hubungan internasional.
Isu Krusial: Taiwan dan Penjualan Senjata
Komunikasi terakhir antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump terjadi melalui panggilan telepon pada 5 Februari 2026. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Xi menekankan bahwa masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS. Oleh karena itu, AS harus menangani masalah penjualan senjata ke Taiwan dengan bijaksana dan hati-hati.
Amerika Serikat diketahui telah melakukan penjualan senjata dan peralatan terkait senilai lebih dari 11 miliar dolar AS (sekitar Rp183,9 triliun) pada 17 Desember 2025 lalu. Atas tindakan tersebut, pemerintah China telah menyatakan protes keras kepada AS, menegaskan sensitivitas isu ini. Penjualan senjata ini menjadi salah satu titik gesekan utama dalam hubungan bilateral.
Meskipun demikian, Presiden Trump menyatakan bahwa AS ingin bekerja sama dengan China dan membuat lebih banyak kemajuan dalam hubungan bilateral. Kedua negara terus mencari cara untuk menyeimbangkan kepentingan masing-masing sambil mengelola perbedaan yang ada, terutama terkait isu-isu sensitif seperti Taiwan.
Sumber: AntaraNews