Trump Pecat Sejumlah Pejabat Pro-Israel, Ini Alasannya
Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu sekutu utama Israel, mendukung perang genosida Israel di Gaza.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan perubahan skala besar dalam tim kebijakan luar negerinya. Ia memecat para tokoh garis depan terhadap hubungan dengan Iran dan pejabat pro-Israel, yang menjadi sasaran kritik dari kalangan pendukung 'America First'.
Para pejabat yang dipecat ini dikenal menentang upaya Trump yang saat ini menjadi prioritas utama di Timur Tengah. Upaya tersebut meliputi pencabutan sanksi terhadap Suriah secara cepat dan menegosiasikan kesepakatan nuklir dengan Iran.
Perombakan besar-besaran ini dilakukan setelah kunjungan penting Trump ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar pada bulan lalu. Trump mengancam para “intervensionis” atau pihak yang campur tangan dalam pembangunan negara ala Amerika dalam pidatonya di Riyadh.
Hal ini menunjukkan betapa cepat perubahan ini akan terjadi, menurut Penasihat Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional (NSC) Gedung Putih yang sempat tertangkap kamera sedang mencatat ketika Trump berbicara dengan pemimpin Suriah dan Arab Saudi pada Mei lalu, ia termasuk ke dalam daftar yang dipecat.
Eric Trager diberitahu pada akhir bulan lalu bahwa dirinya akan dicopot dari posisinya, menurut mantan pejabat AS dan sumber lain yang mengetahui keadaan ini, seperti dikutip dari Middle East Eye, Rabu (4/6).
Pemecatannya juga dilaporkan oleh sejumlah media Israel. Namun sumber tersebut mengatakan Trager sementara ini masih bertugas.
Trager dikenal sebagai tokoh garis keras terhadap Iran. Bahkan, ia juga menulis buku yang berisi kritik terhadap Ikhwanul Muslimin dan Qatar. Pengaruhnya di Gedung putih tergolong terbatas, tidak seperti pendahulunya di NSC.
Menurut laporan The New York Times, kabar pemecatannya merupakan bagian dari pemangkasan besar-besaran di NSC, di mana jumlah staf akan dikurangi hingga setengahnya.
Pejabat lain yang juga dipecat adalah Merav Caren, direktur NSC untuk isu Israel dan Iran. Dalam biografi resminya di lembaga think tank Foundation for Defense of Democracies, disebutkan bahwa Caren pernah bekerja di Kementerian Pertahanan Israel. Ia terlibat dalam perundingan di Tepi Barat antara Otoritas Israel (COGAT) dan pejabat Otoritas Palestina.
Penunjukannya pertama kali diberitakan oleh Drop Site News pada April, dan menuai kecaman dari tokoh media pendukung America First.
“Neo-konservatif Mike Waltz mempekerjakan orang yang pada dasarnya memiliki kewarganegaraan ganda dan pernah bertugas di militer Israel,” kata Clayton Morris, podcaster konservatif sekaligus mantan acara Fox News.
Baik Trager maupun Caren, keduanya adalah bawahan Waltz.
Beberapa pembela Trump paling vokal di media seperti Tucker Carlson dan mantan penasihatnya Steve Bannon, memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini Trump. Morris sendiri adalah rekan dari Carlson.
Pembersihan Besar-besaran
Pemecatan ini juga menyusul pencopotan Mike Waltz, mantan penasihat keamanan nasional Trump yang kini dinominasikan sebagai duta besar AS untuk PBB.
Waltz dikabarkan disingkirkan karena berkonsultasi dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait potensi serangan pre-emptive (serangan pencegahan) ke Iran.
Pemerintahan Trump kini terbagi antara faksi Republikan garis keras tradisional dan kelompok isolations “America First” seperti Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, dan direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard.
Pemecatan terbaru ini menegaskan arahan kebijakan luar negeri Trump yang saat ini didominasi oleh pendekatan America First.
Pada Minggu (1/6) saluran televisi Israel Channel 14 melaporkan bahwa Morgan Ortagus akan segera meninggalkan jabatannya. Ia adalah wakil utusan AS Steve Witkoff yang menangani isu Lebanon.
Menurut sumber yang mengetahui permasalahan ini, pemberhentiannya disebabkan karena Ortagus membuat Witkoff merasa terganggu.
Tokoh Moderat terhadap Iran
Secara keseluruhan, pemecatan-pemecatan ini menunjukkan bahwa Trump tengah mengubah pendekatan tradisional presiden Republik terhadap Timur Tengah. Ia banyak mengandalkan teman dekatnya seperti Steve Witkoff untuk menangani Iran. Sementara untuk isu Suriah Trump mempercayai Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack.
Para pejabat yang dipecat memiliki benang merah yang sama: mereka adalah pendukung kuat intervensi militer Israel di Suriah, Lebanon, dan Yaman. Mereka juga merupakan penentang keras kompromi dengan Iran dalam kesepakatan nuklir.
“Tim kebijakan luar negeri Trump sedang mendalami koreksi arah yang selaras dengan pergeseran sikap Trump sendiri,” kata Marwa Maziad, dosen politik Israel di Universitas Maryland, kepada MEE.
Perubahan besar terjadi saat Trump mengunjungi kawasan Teluk di pertengahan Mei lalu. Ia melewati Israel dan langsung menjalin kesepakatan ekonomi dengan para pemimpin negara yang kaya minyak. Trump bahkan mengumumkan gencatan senjata sepihak dengan kelompok Houthi meski pejuang Houthi masih menyerang Israel, dan mencabut semua sanksi terhadap Suriah. Namun, panggung utama diplomasi saat ini adalah kesepakatan nuklir Iran.
“Apakah pemecatan ini terkait dengan pandangan mereka soal Israel atau tidak, bukanlah hal yang penting. Yang jelas ada ketegangan antara Trump dan Netanyahu terkait potensi serangan ke Iran. Trump kini mencoba merebut kendali dari Netanyahu,” ujar Maziad.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey