Heboh di Kneeset, 2 Anggota Parlemen Israel Diusir Teriakan 'Stop Genosida Gaza' di Depan Trump
Keduanya mengangkat poster bertuliskan "Stop Gaza Genocide" sebelum diamankan petugas.
Dua anggota parlemen Israel, Ayman Odeh dan Ofer Cassif politikus partai Hadash, dikeluarkan dari ruang sidang Knesset setelah meneriakkan protes terhadap genosida di Gaza saat Presiden AS Donald Trump berpidato pada Senin (13/10) di Gedung Parlemen Israel (Kneeset) Yerussalem.
Keduanya mengangkat poster bertuliskan "Stop Gaza Genocide" sebelum diamankan petugas. "Kami tidak bisa diam ketika rakyat Gaza dibantai," teriak Odeh sebelum mikrofon dimatikan.
Dikutip dari media internasional TRTWORLD. Dalam pidatonya, Trump memuji miliarder Miriam Adelson, yang disebut memiliki pengaruh besar dalam kebijakan AS pro-Israel. Aksi protes ini menuai pujian dari kelompok pro perdamaian, namun juga kecaman dari politikus sayap kanan Israel.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa Adelson memiliki simpanan kekayaan besar dan terus berkontribusi pada dukungan kebijakan pro-Israel. Adelson sebelumnya disebut telah mendonasikan lebih dari 100 juta dolar selama kampanye Presiden AS 2024 melalui organisasi super PAC-nya.
Beberapa pengamat menilai bahwa protes Odeh dan Cassif menjadi simbol dari protes terhadap dominasi suara donor kaya dalam kebijakan luar negeri AS dan dukungannya terhadap tindakan Israel di Gaza.
Kunjungan Diplomatik
Kunjungan Trump ke Knesset merupakan bagian dari lawatan diplomatiknya ke Israel untuk memperkuat hubungan bilateral antara kedua negara, terutama dalam bidang keamanan dan dukungan politik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi Israel, anggota parlemen lintas partai, serta miliarder Miriam Adelson, donatur besar Partai Republik yang dikenal memiliki pengaruh besar dalam kebijakan AS pro-Israel.
Sementara itu, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza digelar di Sharm el-Sheikh, Mesir, yang dipimpin bersama oleh Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. Pertemuan tersebut dihadiri oleh lebih dari dua puluh negara, termasuk Amerika Serikat, Mesir, Yordania, dan Uni Eropa. KTT tersebut bertujuan membahas langkah gencatan senjata jangka panjang, mekanisme bantuan kemanusiaan, serta rencana rekonstruksi Gaza pascaperang.
Dalam pidatonya, Trump menegaskan dukungan penuh Amerika Serikat terhadap Israel dan memuji Adelson sebagai tokoh penting di balik hubungan erat kedua negara. "Israel akan hidup dan berkembang selamanya. Saya mencintai Israel. Saya selalu bersama kalian. Kalian akan menjadi lebih besar, lebih baik, lebih kuat, dan lebih penuh kasih daripada sebelumnya. Tuhan memberkati kalian, Tuhan memberkati Amerika Serikat," ujar Trump dalam penutup pidatonya.
KTT Perdamaian Gaza
KTT Perdamaian Gaza sendiri menghasilkan seruan bersama agar seluruh pihak menghentikan serangan bersenjata dan membuka jalur kemanusiaan. Namun, absennya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari pertemuan tersebut menimbulkan keraguan akan keseriusan Israel dalam mendukung upaya perdamaian. Para analis menilai, insiden protes di Knesset dan ketidakhadiran Netanyahu di KTT Gaza menunjukkan jurang yang semakin lebar antara retorika diplomasi dan kenyataan politik di lapangan.
Sebelumnya, melalui akun X miliknya, Odeh menulis bahwa "Sebelumnya, Odeh mengunggah di akun X-nya: "Kemunafikan di pleno ini sungguh tak tertahankan. Menobatkan Netanyahu melalui sanjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, 'melalui kelompok yang terorganisir, tidak membebaskannya dan pemerintahannya dari kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Gaza, maupun dari tanggung jawab atas darah ratusan ribu korban Palestina dan ribuan korban Israel," tulisnya dikutip merdeka.com dari akun X @aymanodeh, Selasa (17/10).
Setelah dikeluarkan dari sidang, Odeh kembali menegaskan sikapnya. "Mereka mengusir saya dari Knesset hanya karena mengajukan tuntutan paling sederhana, yang disetujui seluruh komunitas internasional: Akui Negara Palestina! Akui kebenaran sederhana ini: ada dua bangsa di sini, dan tak seorang pun akan pergi ke mana pun."
Reporter Magang: Adinda Washiilah Mo'o