Trump Juga Ternyata Frustasi Lihat Foto Bocah Palestina Menderita, Ingin Netanyahu Segera Akhiri Perang Gaza

Trump memerintahkan delegasinya untuk menyampaikan pesan kepada Netanyahu agar perang di Gaza segera diakhiri.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Trump Juga Ternyata Frustasi Lihat Foto Bocah Palestina Menderita, Ingin Netanyahu Segera Akhiri Perang Gaza
netanyahu dan trump (Eric Lee/The New York Times)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merasa frustasi terhadap perang yang terus-menerus berlangsung di Gaza dan terganggu dengan gambar penderitaan anak-anak Palestina.

Ia memerintahkan kepada para delegasinya untuk menyampaikan pesan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, ia ingin agar perang segera diakhiri. Demikian menurut pengakuan dua pejabat Gedung putih, seperti dilaporkan Axios, Selasa (20/5).

Pejabat AS dan Israel membantah niat Trump yang ingin meninggalkan Israel atau sedang menekan Netanyahu. Namun mereka mengakui adanya perbedaan kebijakan yang semakin mencolok antara Trump yang ingin mengakhiri perang dengan Netanyahu yang berniat memperluas eskalasi secara masif.

anak gaza kelaparan
anak gaza kelaparan @_doaa_mohammad

Negosiasi menemui Jalan Buntu

“Presiden frustasi terhadap apa yang terjadi di Gaza. Ia ingin perang berakhir, para sandera dibebaskan, bantuan kemanusiaan masuk, dan rekonstruksi Gaza segera dimulai,” ucap seorang pejabat Gedung Putih.

Sejak kunjungan Trump ke Timur Tengah, AS mendorong Israel dan Hamas untuk menerima proposal terbaru yang diajukan utusan Gedung Putih, Steve Witkoff, terkait kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.

Dikabarkan, Witkoff telah berkomunikasi langsung dengan Netanyahu dan penasehat utamanya, Ron Dermer. Ia juga menjalin kontak dengan pimpinan Hamas melalui jalur belakang diplomatik yang difasilitasi oleh pengusaha Palestina-Amerika, Bishara Bahbah.

Tidak merasa ditekan

Namun sayangnya, perundingan mengalami kebuntuan. Sementara itu, tentara Israel terus menjalankan operasi militer dengan mengusir 2 juta warga Gaza ke wilayah yang mereka sebut “zona kemanusiaan,” serta menghancurkan sebagian besar wilayah tersebut.

Kebuntuan negosiasi dan kondisi lapangan mendorong Wakil Presiden AS Vance membatalkan rencana kunjungannya ke Israel pekan ini. Keputusan ini mencerminkan ketidaksetujuan AS atas kebijakan Israel saat ini di Gaza.

Di sisi lain, seorang pejabat Israel mengatakan saat ini Netanyahu tidak merasa mendapat tekanan dari Trump, “Jika Presiden AS benar-benar menginginkan kesepakatan sandera dan gencatan senjata, ia perlu memberi tekanan lebih kuat kepada kedua belah pihak,” kata dia.

Sikap Negara Barat

Pemimpin negara lain kini mulai memberi tekanan kepada Israel, seperti perdana menteri Inggris, Prancis, dan Kanada mengeluarkan pernyataan bersama pada Senin (18/5) yang berisi ancaman pengambilan sikap yang konkret terhadap Israel.

“Kami tidak akan tinggal diam saat Netanyahu terus melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Jika Israel tidak menghentikan serangan militer atau mencabut penahanan bantuan kemanusiaan, kami akan mengambil langkah konkret lebih lanjut,” bunyi pernyataan negara-negara tersebut.

Netanyahu menolak seruan itu dan malah menuduh para pemimpin di London, Ottawa, dan Paris “memberikan hadiah besar kepada serangan genosida terhadap Israel pada 7 Oktober, serta membuka jalan untuk kekejaman serupa di masa yang akan datang.”

Pemerintah Inggris pada Senin (18/5) umumkan mereka menangguhkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Israel. Negara tersebut juga menjatuhkan sanksi baru terhadap pemukim Israel yang terlibat dalam serangan warga Palestina di Tepi Barat.

Pejabat Gedung Putih mengatakan, meskipun Trump menganggap kunjungan ke Timur Tengah sebagai sebuah keberhasilan, ia menilai perang di Gaza menghambat rencananya untuk kawasan tersebut.

“Presiden Trump melihat peluang nyata untuk perdamaian dan kemakmuran di sana, tapi perang di Gaza adalah hambatan terakhir yang ingin segera diakhiri,” kata pejabat tersebut.

Pejabat lainnya mengatakan bahwa keputusan Trump yang secara sepihak mengupayakan pembebasan sandera Amerika-Israel Edan Alexander tanpa kesepakatan menyeluruh dengan Israel, merupakan dampak dari frustasi tersebut.

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi