Menlu Iran Pastikan Selat Hormuz Terbuka Kecuali buat Kapal AS dan Israel
Menlu Iran, Abbas Araghchi tegaskan Selat Hormuz terbuka untuk kapal negara lain kecuali Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional, tetapi tidak untuk kapal-kapal yang berasal dari Amerika Serikat dan Israel. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa jalur pelayaran strategis ini hanya ditutup bagi kapal-kapal milik negara yang dianggap sebagai musuh Iran.
"Faktanya, Selat Hormuz terbuka. Jalur ini hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yakni mereka yang menyerang kami dan sekutu kami. Negara lain bebas melintas," kata Araghchi yang dikutip dari Hindustan Times pada Minggu (15/3).
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan mengenai ratusan kapal yang masih tertahan di jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, termasuk kapal-kapal yang berasal dari India. Araghchi menjelaskan bahwa pembatasan ini diberlakukan karena alasan keamanan.
"Banyak kapal memilih tidak melintas karena kekhawatiran keamanan mereka sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan kami. Pada saat yang sama, masih banyak kapal tanker dan kapal lain yang tetap melewati Selat Hormuz," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa jalur tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup. "Selat ini tidak ditutup. Hanya kapal Amerika dan Israel yang tidak diperbolehkan melintas," kata Araghchi.
Iran Akui Kerja Sama Militer dengan Rusia dan China
Dalam wawancara tersebut, Araghchi juga menyoroti hubungan strategis antara Iran dengan Rusia dan China, khususnya dalam aspek militer. Saat ditanya mengenai apakah kedua negara tersebut memberikan dukungan baik militer maupun intelijen kepada Iran, Araghchi menegaskan bahwa kerjasama ini telah terjalin sejak lama. "Rusia dan China adalah mitra strategis kami. Kami telah memiliki kerja sama yang erat sejak lama dan hubungan itu masih terus berlanjut. Termasuk kerja sama di bidang militer," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat terkait situasi di Selat Hormuz. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah berulang kali memberikan peringatan kepada Teheran mengenai potensi penutupan jalur pelayaran tersebut.
Pada hari yang sama, Trump bahkan mengumumkan serangan terhadap Pulau Kharg, yang merupakan salah satu fasilitas ekspor minyak utama Iran. Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat menghancurkan infrastruktur minyak Iran jika negara tersebut mengganggu kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Ia menyebut fasilitas energi Iran di wilayah tersebut sebagai "mahkota" sektor minyak negara itu.
Selat Hormuz Jalur Krusial
Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran yang paling penting di dunia. Terletak di antara Iran dan Oman, selat ini memiliki lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya. Meskipun ukurannya kecil, peran Selat Hormuz sangat krusial bagi perdagangan energi global.
Setiap harinya, jalur ini dilalui oleh kapal-kapal yang mengangkut sekitar satu per lima dari total pasokan minyak dunia yang berasal dari kawasan Teluk. Karena fungsinya yang signifikan, selat ini sering disebut sebagai "chokepoint" utama dalam perdagangan minyak global.
Namun, meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat perhatian terhadap Selat Hormuz semakin meningkat. Teheran sebelumnya telah menyatakan bahwa mereka tidak akan membiarkan "satu liter pun" minyak dikirim kepada negara-negara yang dianggap sebagai musuhnya. "Ketegangan geopolitik tersebut memicu kekhawatiran global karena setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak."