Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bersyukur lantaran Selat Hormuz kembali dibuka Iran untuk pelayaran internasional, terkecuali Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut Bahlil, pembukaan Selat Hormuz membuat pasokan energi bisa kembali lancar usai jalur vital tersebut kembali bisa dilintasi.
"Alhamdulillah ya, sekalipun dalam kondisi ekonomi, dalam kondisi geopolitik yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda konflik di Timur Tengah itu selesai, tapi kita sedikit mendapat angin segar dengan Selat Hormuz, itu sudah mulai ada kebijakan tutup buka," kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3).
Advertisement
Kapal AS-Israel Dilarang Melintas
Bahlil mengatakan, pembukaan Selat Hormuz bagi kapal-kapal negara bukan Israel dan Amerika adalah sebuah perkembangan positif.
Meskipun situasi di Timur Tengah masih panas, Bahlil menjamin stok energi di Tanah Air terjaga aman, khususnya jelang periode Lebaran 2026. Termasuk untuk Bahan Bakar Minyak (BBM), elpiji hingga listrik.
"Ketersediaan BBM, elpiji, listrik untuk Indonesia, semuanya masih dalam keadaan terkendali, aman, sesuai dengan standar minimal stok nasional kita. Menyangkut dengan elpiji, kita juga sekarang di akhir bulan ini akan ada yang masuk juga. Jadi relatif oke. Yang mau Hari Raya enggak ada masalah," ujar Bahlil.
"Batu bara juga untuk PLN, rata-rata di 14-15 hari itu memang batas minimal standar nasional kita. Jadi relatif, enggak ada isu," tegas Bahlil.
Beberapa hari lalu, pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz telah terbuka untuk pelayaran internasional, namun tidak bagi kapal Amerika Serikat dan Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan jalur pelayaran strategis tersebut hanya ditutup bagi kapal milik negara dianggap sebagai musuh Iran.
“Faktanya, Selat Hormuz terbuka. Jalur ini hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yakni mereka yang menyerang kami dan sekutu kami. Negara lain bebas melintas,” kata Araghchi dikutip dari Hindustan Times.
Pernyataan itu muncul di tengah laporan bahwa ratusan kapal masih tertahan di jalur laut sempit menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sejumlah kapal tersebut termasuk kapal berasal dari India.
Araghchi menjelaskan bahwa pembatasan tersebut dilakukan karena alasan keamanan.
“Banyak kapal memilih tidak melintas karena kekhawatiran keamanan mereka sendiri. Itu tidak ada hubungannya dengan kami. Pada saat yang sama, masih banyak kapal tanker dan kapal lain yang tetap melewati Selat Hormuz,” ujar dia.
Di kembali menegaskan bahwa jalur tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup. “Selat ini tidak ditutup. Hanya kapal Amerika dan Israel yang tidak diperbolehkan melintas,” kata Araghchi.
Advertisement