Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menilai kondisi geopolitik global saat ini sangat sulit diprediksi. Menurut dia, dinamika yang terjadi bisa berubah dengan cepat sehingga menyulitkan negara-negara, termasuk Indonesia dalam menyusun proyeksi dan strategi energi jangka panjang.
Bahlil menggambarkan situasi geopolitik dunia seperti penyakit malaria yang gejalanya naik turun. Hari ini konflik mereda dan kesepakatan damai tercapai, tetapi esok hari ketegangan bisa kembali muncul.
"Dalam kondisi seperti ini, sulit menentukan baseline yang benar-benar pasti. Yang diperlukan adalah intuisi, analisis, dan kemampuan mengelola ketidakpastian," ujar Bahlil dalam Energy Forum di Hotel Borobudur, Kamis (25/6).
Ia kemudian menjelaskan posisi sektor energi Indonesia yang mengalami perubahan besar dibandingkan akhir 1990-an. Menurut Bahlil, pada 1997 produksi minyak atau lifting Indonesia berada di kisaran 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari (bph). Saat itu konsumsi domestik hanya sekitar 500 ribu bph sehingga Indonesia masih menjadi eksportir minyak.
Bahkan, kata dia, sekitar 43 persen penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada masa itu ditopang sektor minyak dan gas (migas).
Namun setelah krisis ekonomi Asia, produksi minyak nasional terus mengalami penurunan. Bahlil menyinggung sejumlah kebijakan yang lahir pascakrisis, termasuk rekomendasi lembaga internasional yang menurutnya turut memengaruhi arah pengelolaan sektor energi nasional.
"Lifting kita turun terus. Dalam 10 tahun terakhir target lifting yang ditetapkan dalam APBN hampir tidak pernah tercapai. Baru pada 2025 target tersebut bisa dipenuhi," katanya.
Advertisement
Kondisi Produksi Minyak Memprihatinkan
Meski demikian, Bahlil menilai kondisi produksi minyak Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Pada 2025, lifting minyak nasional berada di kisaran 600 ribu hingga 650 ribu bph, sementara kebutuhan dalam negeri telah mencapai sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta bph.
Akibat kesenjangan tersebut, Indonesia harus mengimpor sekitar 1 juta bph untuk memenuhi kebutuhan domestik.
"Kondisi 1997 berbalik dengan kondisi sekarang. Dulu kita surplus dan mengekspor minyak, sekarang kita harus mengimpor sekitar 1 juta barel per hari," ujarnya.
Bahlil menjelaskan, sebelum ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat, sekitar 20 persen - 25 persen kebutuhan minyak mentah impor Indonesia berasal dari kawasan tersebut. Impor yang dilakukan bukan dalam bentuk bahan bakar minyak (BBM) jadi, melainkan minyak mentah yang kemudian diolah di kilang domestik.
Advertisement
Berpotensi Pengaruhi Ketahanan Energi Indonesia
Karena itu, gejolak geopolitik di kawasan penghasil minyak dunia berpotensi memengaruhi ketahanan energi Indonesia.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi. Bahlil menyebut Presiden Prabowo Subianto sejak awal telah menginstruksikan berbagai langkah antisipatif melalui pendekatan diplomatik ke sejumlah negara.
"Presiden sudah mengantisipasi kemungkinan munculnya ketegangan geopolitik. Karena itu dilakukan berbagai pendekatan dan komunikasi dengan negara-negara di Amerika, Timur Tengah, serta kawasan lainnya untuk memastikan keamanan pasokan energi Indonesia," kata Bahlil.
Reporter: Immanuel Christian