Arkeolog Temukan Biji Buah Zaitun Berusia 1.100 Tahun, Ada di Bangkai Kapal yang Berlayar dari Gaza
Biji zaitun ini ditemukan dalam penggalian bawah laut di lepas pantai Turki
Penemuan arkeologi yang luar biasa baru-baru ini terjadi di lepas pantai Turki, tepatnya di dekat distrik Kaş, Antalya. Tim peneliti yang dipimpin Asisten Profesor Hakan Öniz menemukan biji zaitun yang berusia 1.100 tahun dari bangkai kapal yang tenggelam.
Kapal tersebut berlayar dari pantai Gaza, Palestina, 1.100 tahun lalu dan terjebak badai sebelum akhirnya karam, seperti dikutip dari Arkeonews, Rabu (12/3).
Penggalian dilakukan sebagai bagian dari 'Proyek Warisan untuk Masa Depan' yang digagas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki. Tim peneliti menyelami kedalaman sekitar 45-50 meter di sekitar Pulau Besmi, di mana mereka menemukan muatan kapal yang sangat menarik. Kapal ini diperkirakan berasal dari abad ke-9 atau ke-10 Masehi, dan dipastikan sebagai kapal Filistin yang mengangkut minyak zaitun dari Gaza.
Öniz menjelaskan pada masa itu, wilayah Gaza dikenal luas karena produksi zaitunnya yang melimpah. Kapal yang membawa amfora berisi minyak zaitun ini mengalami kecelakaan akibat badai yang melanda, menabrak batu karang kecil, dan akhirnya tenggelam.
“1.100 tahun yang lalu, wilayah ini (Gaza) terkenal dengan produksi zaitunnya. Meskipun Gaza sering kali menimbulkan asosiasi negatif saat ini, kami berharap masa depan yang lebih cerah. Kapal ini, yang mengangkut minyak zaitun dalam amphorae, menghadapi badai di lepas pantai Kaş, menabrak batu atau pulau kecil, dan tenggelam. Bangkai kapal itu menarik bukan hanya karena kedalamannya tetapi juga karena muatannya. Pada zaman dahulu, kapal-kapal terutama mengangkut minyak zaitun dan anggur, tetapi apa yang kami temukan dari salah satu amphorae itu benar-benar luar biasa,” jelas Öniz.
Signifikansi Penemuan Biji Zaitun
Öniz menegaskan amphora atau amfora dari berbagai daerah memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga memungkinkan mereka untuk memastikan bahwa bangkai kapal ini berasal dari Palestina berdasarkan tipologi amphora yang ditemukan di dalamnya.
Tim peneliti juga sangat gembira dengan temuan di dalam salah satu amfora karena baru pertama kali ditemukan biji zaitun di dalam amfora di Turki. Dengan menggunakan robot bawah air, mereka berhasil mengangkat amfora tersebut ke permukaan.
Öniz menyoroti pentingnya zaitun sebagai makanan pokok bagi pelaut di zaman kuno.
“Selama sekitar 5.000 tahun, zaitun telah menjadi sumber makanan penting bagi pelaut Mediterania sejak Zaman Perunggu,” jelasnya.
Ia menyatakan, pelaut membutuhkan makanan yang dapat bertahan dalam perjalanan panjang tanpa rusak, dan zaitun yang disimpan dalam amfora dapat tetap dimakan selama berbulan-bulan, bahkan saat terendam air laut. Selain itu, kapal sering kali membawa hewan hidup dan gandum, yang dapat diolah menjadi tepung dan dipanggang menjadi roti di atas kapal.
Öniz menyampaikan, penemuan ini juga menunjukkan pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah yang ada di bawah laut. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk menggali artefak, tetapi juga untuk mendirikan Museum Arkeologi Bawah Laut di distrik Kemer. Museum ini diharapkan dapat memamerkan artefak-artefak yang ditemukan dari situs-situs bawah laut, sehingga masyarakat dapat lebih memahami sejarah dan budaya yang ada di wilayah tersebut.